Thursday, May 24, 2012

True story

I've once felt this feeling before..
The warmth..
The joyful chat..
The secret peek..
And the excitement of every (chance of) meeting..
Couple days ago I was kinda miss this feeling
So bad.
Yet, seems like I forgot one little main thing..
Once it gets hurt,
It will turn your life upside-down.
True story..

**
Share:

#Whoops!

Ketika cinta dihadapkan pada realita
Tersenyum seolah berkata,
"Hey kau yang disana!
Lihatlah betapa dunia tak seindah yang kau duga
Pahitnya tiada terkira!" 

**
Share:

Wednesday, May 16, 2012

Sunday, April 29, 2012

Meracau kacau

Ku rasa pikiranku kini mulai meracau..
Mengigau tentang sebuah hal tak pasti yang juga tak menentu
Menghantui dengan siluet tajam mengerikan yang tampak begitu 'hangat'
Sebuah broken chord tajam. Prestissimo!

Pikiranku benar-benar meracau tak tentu arah
Ketika semua fisika kini terlihat begitu biasa
Dan biologi kini terlihat begitu bersahaja
Aku hampir gila

**
Share:

Tuesday, March 27, 2012

Senandung Hujan

"Kau tidak apa?"

Suara berat nan khas bersatu dengan dengungan hujan, melebur begitu halus hingga aku hampir saja tidak mendengarnya. Sebuah siluet wajah mulai tampak diantara barisan poni lepek yang kini hampir menutupi mataku.

"Yeah, ku rasa begitu."kataku sambil memandangi bercak kecoklatan yang kini mulai menghiasi rok putih kesayanganku. Oh, jangan yang satu ini..

"Kau yakin?"ujarnya, ragu. Mungkin karena melihat penampilanku yang agak sedikit...buruk.

"Yap."ujarku, berusaha meyakinkan. Ku dengar ia tersenyum kecil.

"Butuh bantuan?"katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Sebuah tangan yang ku rasa cukup besar terjulur begitu saja di depan mataku. Ku coba mendongakkan kepalaku, mencari tahu siapa yang telah menjulurkan tangan yang begitu bersih padaku. Dan disanalah ia...

Sedikit membungkuk dengan sebuah senyum simpul tergambar jelas di wajahnya. Sebuah senyum yang begitu hangat, hingga rasanya sanggup menguapkan setiap butir hujan yang kini mendera wajahku dengan deras. Sebuah siluet payung berwarna kelabu menaunginya, melindunginya dari setiap hujan yang berusaha membasahinya.

Ragu, ku raih tangannya. Dalam sekali tarikan ia menarikku lembut, membangunkanku dari kubangan yang menjebakku selama 5 menit terakhir. Ku kibaskan rokku yang tampaknya kini mulai mengalami disorientasi warna.

"Kau beruntung tak banyak orang yang lewat hari ini,"katanya, "kau seharusnya lihat bagaimana ekspresimu saat jatuh tadi.".

Aku mendelik ke arahnya, geram karena menahan rasa malu.

"Ah, maaf.. Aku tidak bermaksud menertawakanmu.""ujarnya sambil menahan senyuman.

"Terima kasih."ujarku ketus, kemudian membalikkan badanku dan berjalan menjauhinya.

"So... IPSE, eh?"

Ku hentikan langkahku, membalikkan badan dan menatapnya bingung.

"International Program on Science Education?"katanya sambil tersenyum.

Selama sedetik aku terdiam.

"Chemistry?" aku berusaha menebak.

"Bingo!"

Kali ini ia berjalan mendekatiku, menaungiku dengan payung kelabu miliknya, membuatku terjebak kini bersamanya.

"Adrian."

"Selena."

"Jadi, bagaimana kau bisa tahu?"

"Kau sendiri?"balasku.

"In case you cannot remember, I'm the one that ask here first. So give me your answer and I'll give you mine"

"Well.."kataku, "aku pernah sekali melihatmu, di depan pintu lift. Lantai 5."

"Hanya itu?"

"Tentu. Orang kurang kerjaan mana yang mau naik ke lantai 5 tanpa ada alasan. No classroom, no office. What else can you find except laboratory?"

"Toilet?"

Aku tersenyum kecil.

"Jadi?"

"Apa?"

"Bagaimana kau bisa tahu?"ujarku jengkel.

"Oh, bukan hal yang sulit untuk menentukan mana IPSE dan jurusan lain."

"Benarkah?"

"Yap,"ujarnya yakin.

"Yang perlu kau lakukan hanyalah mencarimu di tengah kerumunan... dan kebisingan."

Whoaa, orang ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal seperti itu tepat di depan orang yang jelas-jelas bagian dari orang yang baru saja dibicarakannya dengan seenaknya?

"Aku rasa aku harus pergi sekarang."kataku.

"Kau yakin tak mau ku antar?"

"Tidak, terima kasih."

"Hey!"sahutnya setelah sekian lama.

 "I'll see you soon!"sahutnya lagi dari kejauhan, "I will!"

"Well, you better not then.."kataku sambil tertawa.

Rintik hujan kini menerpaku dengan lembut, seolah bersenandung mendengungkan melodi yang sulit untuk ku pahami. Ah, aku tahu hujan akan selalu jadi hal yang menarik!
Share:

Sunday, December 11, 2011

Hunted

Deru nafas memburu. Jantungku berdetak bagai berlomba dengan sang waktu. Ku terobos ranting dan dahan kering yang menyayat kulitku tiap kali aku berlari melewatinya. Peluh dan keringat kini tak menjadi soal. Semua tak lagi berarti ketika kini nyawamu yang jadi taruhannya. Nafas yang kini mulai berat tak menghalangiku untuk berlari. Kini, yang ku tahu hanya berlari dan berlari, tak peduli harus kemana.

Dorr!!

Bunyi itu kembali terdengar. Ini sudah kali ketiga semenjak bunyi itu mulai menghantuiku di siang bolong seperti ini. Jantungku serasa berhenti berdetak. Untuk sedetik aku menolehkan kepalaku ke belakang, mencoba mencari tahu siapa yang telah membuat kekacauan di tengah hari bolong seperti ini. Terdengar suara erangan dari kejauhan, disusul dengan derap langkah kaki yang kini kian mendekat. Dengan pandangan nanar aku meludahi sang penebar kebencian dari kejauhan. Beharap ia tahu betapa bejat apa yang telah diperlakukannya ini pada kami.

Dorr!!

Suara mistis yang sanggup membuat bulu kudukku berdiri itu kembali terdengar. Kali ini ku langkahkan kakiku lebih cepat, tanpa memperdulikan pasokan oksigen yang makin lama makin tak bersisa di dalam paru-paruku. Oh tidak, aku sudah tak kuat lagi. Mataku kini mulai berkunang-kunang. Dadaku terasa terhimpit. Nafasku yang terengah-engah kini terdengar lebih buruk daripada ringkikan keledai yang tengah menderita asma. Jantungku seolah akan memburu keluar. Aku sudah tidak tahan lagi. Tuhan..apakah ini akhirnya? Akhir dari segalanya?

Tepat sebelum aku berhenti, aku melihatnya. Ya, disana. Tepat disana, sebuah moncong metalik yang tak asing lagi di mataku mengarah padanya. Pada ayahku. Panik, aku berusaha untu berpikir jernih. Sial, otakku buntu! Seulas senyum mengerikan kini tergambar jelas di wajahnya.

Tidak
Ku mohon
Tuhan

Ayaahhhh!!!!!!

Dorr!!
Sesuatu mengalir deras keluar dari kakiku. Darah. Rasanya hangat, juga perih. Tak terperi. Ku pejamkan mataku yang kini mulai berkunang-kunang. Suara tawa diiringi dengan seringai berderai dari kejauhan. Pandanganku mulai buram. Ku lihat ayahku berlari kecil menghampiriku.

Larilah Ayah! Lari!! Jangan kemari, mereka bisa menangkapmu..

Dorr!!!

Timah panas kini tepat bersarang di perutku, menggagalkan usahaku untuk bangkit dan menyusul yang lain. Ku lihat ayahku berhenti berlari, ragu untuk menghampiriku atau segera menyusul yang lain untuk angkat kaki dari tempat itu. 

Larilah ayah! Jangan kemari! Bawa pergi yang lain dari sini. Selamatkan ibu! Selamatkan kawanan yang lain!!

Dengan seluruh  kesadaran yang tersisa aku mengerang, menyuruh semua kawanan segera pergi dari sini. Sial, mataku pandanganku sudah benar-benar buram kali ini. Ku dengar langkah kaki yang berat perlahan mendatangiku. Ya, ku rasa inilah saatnya. Saat dimana semua akan berakhir begitu saja.

"Lihat, kita dapat tangkapan yang bagus."samar-samar ku dengar suara pria separuh baya yang berada di dekatku.

"Tapi ini hanyalah zebra yang masih kecil. Beratnya mungkin tak sampai 80 kilogram."kata pria berjanggut lebat di sebelahnya sambil menusuk-nusuk punggungku dengan senapan yang dibawanya. Gawat kesadaranku sudah mulai menghilang.

"Yah, setidaknya kulitnya cukup bagus. Lihat, sama sekali tak ada cacat. Harganya pasti bagus kalau dijual di pasaran."

"Ya, kau benar. Padahal aku yakin tadi tembakanku pasti mengenai zebra yang besar, siapa sangka zebra kecil ini akan lewat dan menghalangi tembakanku. Tapi sudahlah, hari juga sudah semakin sore. Lebih baik kita pulang dan bawa zebra ini untuk kita kuliti. Ayo cepat."

Sayup-sayup ku dengar ringkikan kawananku dari kejauhan, mengumandangkan duka diantara rintihan yang ku alunkan. Bumi dan seisinya memang diciptakan untuk manusia. Tapi tidakkah kami juga memiliki hak untuk hidup dan merasa aman di atas bumi yang diciptakan Tuhan ini? Seandainya manusia tak hanya bertoleransi pada sesamanya. Seandainya manusia mau mengerti dan bertoleransi pada setiap makhluk-Nya...
**

dedicated to hunters who keep killing and killing without thinking bad impact that might be happen in the future. Stop killing please.. :(
Share:

Sunday, November 20, 2011

Setitik asa

Aku tidak pernah menyadari betapa hubungan pertemanan bisa menjadi serumit ini...

Ya, kini aku mulai menyadarinya. Fakta dan kenyataan yang terpapar gamblang di depan mataku seakan menyeretku dengan paksa keluar dari dunia putih abu yang selalu ku tinggali dengan nyaman. Membuatku seakan mendapat tamparan keras tepat di pipiku, memaksaku untuk membuka mata bahwa tak semua hal dapat kau atur sesuai dengan apa yang kau mau. Bahwa banyak hal diluar sana yang kadang tak bisa kau jangkau dengan logikamu yang sederhana. Hubungan antarmanusia. Hubungan antarhati.

"Kau masih memikirkannya?"tanyanya seolah membuyarkan semua lamunanku. Aku menatap wajahnya sekilas. Andre rupanya. Aku mengangguk kecil.

"Ku kira semua akan berjalan dengan baik pada akhirnya. Nyatanya apa? Hanya sampah yang ada."kataku sambil tersenyum kecut.

"Hidup tidak akan semenarik itu jika semua hal bisa kau prediksi. Hidup tidak akan menjadi semenarik itu jika semua hal bisa kau atur sesukamu. Itulah hidup. Penuh warna. Penuh corak. Penuh masalah."katanya sambil nyengir. Ku lihat kini gumpalan asap mulai berlomba keluar dari mulutnya.

"Hentikan. Kau tahu aku tak pernah suka asap rokok."

"Tapi aku suka.."katanya sambil mengepulkan asap kelabu itu tepat di depan wajahku. Aku terbatuk kecil. Aku menatapnya gusar, berharap ia menyadari bahwa kali ini aku benar-benar tidak suka apa yang dilakukannya. Ia hanya membalasku dengan senyuman nakal penuh kemenangan. Melihat kelakuannya aku segera bangkit dari tempat dudukku. Berada di dekatnya malah membuat semua moodku menjadi semakin buruk.

"Apa yang terjadi diantara kalian, itu semua bukan salahmu..."

Aku berhenti sejenak, agak ragu untuk melangkahkan kakiku untuk menjauh darinya setelah apa yang baru saja ia katakan. Pandangannya tetap lurus ke depan, menerawang. Tanpa sedikitpun berusaha untuk menoleh ke arahku.

"Jangan ikut campur. Kau bahkan tak tahu apapun."

"Hentikan sikap mellow-dramatismu itu. Semua bukan salah-"

"MAKANYA SUDAH KU BILANG JANGAN IKUT CAMPUR!! Jangan sok bahwa kau mengetahui segalanya. KAU TAK TAHU APAPUN!!"kataku setengah menjerit.

"Kenapa kau selalu merasa bahwa ini semua salahmu? Tidakkah kau merasa lelah?"

"Ya, YA! INI SEMUA SALAHKU. INI SEMUA MEMANG SALAHKU!!"ujarku padanya, kali ini diiringi dengan isakan dan rasa sesak yang serasa menghimpit dadaku, "Seandainya saja aku tak pernah mengenalnya. Seandainya saja aku tak ikut campur dan berusaha untuk masuk ke dunianya-dunia mereka! Seandainya saja rasa ingin tahuku tak sebegitu besar hingga aku ingin mengenalnya lebih dekat. Seandainya saja aku tak sebegitu bodoh hingga melewati batas yang seharusnya tak ku lewati. Seandainya saja..."

"Melewati batas katamu?"kali ini ia menatapku, bingung.

"Ya,"

"Aku tak mengerti, apakah menurutmu mendapat teman baru itu melewati batas? Apa salahnya dari memiliki hasrat untuk mendapat teman baru?"

"Bukan seperti itu maksudku..."

"Lalu apa? Jelaskan padaku definisimu tentang 'melewati batas' seperti yang kau katakan padaku tadi."

"Aku.."kata-kataku terputus. Lidahku kelu, otakku macet. Aku merasa semua neuron di syaraf otakku berlalu lalang sedemikian cepat hingga rasanya aku tak bisa memikirkan apapun. Semua begitu bising. Bergerak begitu cepat. Hingga tak satu katapun dapat ku ucapkan untuk menjelaskan semuanya.

"Aku tidak tahu."kataku pada akhirnya, "Semua terasa begitu kacau. Semua terasa begitu menghimpit. Sesak rasanya."lanjutku lemah. Ku hempaskan tubuhku kembali duduk tepat disebelahnya, pasrah. Aroma tembakau yang acap kali selalu menggangguku kini tak berefek sama sekali padaku. Kepalaku terlalu sakit untuk menghiraukannya.

"Aku merasa belum cukup dewasa untuk menangani masalah serumit ini. Aku hanyalah seorang bocah. Aku benar-benar merasa hilang arah. Tidakkah Tuhan merasa semua ini terlalu berat untuk ku jalani?

Kini semua tidak sama lagi. Semuanya. Sikapnya padaku, sikapku padanya, begitu pula sikapku padanya. Semua tak lagi sama. Semua hanya membuatku menderita.

Tiap kali aku melihat matanya, aku melihat sebuah luka yang cukup dalam. Sebuah luka yang tak terperi yang ku torehkan tepat di hatinya. Membuatnya tak sanggup lagi memalingkan mukanya ke arahku, atau sekedar menatap wajahku. Kami yang dulu dekat kini seakan dipisahkan oleh sebuah dinding tak terlihat, membuatku merasa sendiri. Begitu sepi. Rasanya..aku ingin mati.

Sedang ia, sekalipun sudah ku sakiti, ia sama sekali tidak berubah. Tetap ramah, tetap bijak, seolah aku tak pernah membuatnya merasa dicampakkan. Dibuang. Semua sikapnya membuatku merasa begitu bersalah. Begitu berdosa. Akan lebih baik jika ia tak berbuat begitu baik padaku. Semua akan terasa seratus kali lipat lebih baik jika ia memaki atau menunjukkan pandangan jijiknya padaku. Tapi apa? Semua sikapnya, membuatku merasa hancur.

Aku hanyalah manusia biasa. Usiaku masih seumur jagung. Tak banyak pengalaman yang ku miliki. Aku belum bisa menjadi orang bijak yang sanggup mencari jalan keluar yang terbaik untuk semuanya. Semua pihak. Aku kesal, aku marah, aku jijik pada diriku yang membuatku masuk ke dalam masalah yang begitu besar. Aku murka karena aku yang menyebabkan masalah ini, tapi aku sama sekali tak bisa mencari jalan keluarnya. Aku muak!"

Andre hanya terdiam. Sesekali ia menghembuskan gumpalan asap kelabu dari mulutnya. Matanya menerawang, berusaha memahami apa yang baru saja ku katakan.

"Semua sudah terjadi, kau tak bisa terus menyesalinya."katanya pada akhirnya.

"Semua terasa begitu berat, Ndre."ujarku pasrah.

"Kau bisa menjalaninya. Tuhan tidak pernah membebani masalah yang tak sanggup dipikul hambanya. Percayalah."

Ku tatap wajahnya. Kali ini ia menatapku, sendu.

"Aku tahu, aku tahu itu,"kataku padanya, "Hanya saja, terkadang...aku merindukan saat-saat dulu. Waktu disaat semua masih tetap sama. Waktu dimana semua masih baik-baik saja."

***
Share: