"Maaf aku terlambat. Sudah lama ?"tanyanya sambil terengah-engah.
Aku diam. Tak menjawab pertanyaannya.
"Hey, kau marah ya ?"tanyanya sambil mengambil posisi duduk tepat di sebelahku. Aku tetap terdiam. Ku tundukkan kepalaku, ku mainkan jariku tak menentu.
"Ayolah.. jangan marah begitu. Aku hanya..."dia melirik jam tangan pemberian dariku tahun lalu, "telat 42 menit lebih 45 detik."lanjutnya, "Maafkan aku..."
Aku tetap terdiam. Sama sekali tak ingin merespon apapun yang ia katakan. Kepalaku tetap tertunduk.
"Kau tak mau memaafkanku ?"katanya sambil berusaha menatap wajahku, "aku sungguh menyesal."
Kali ini aku menatap wajahnya. Aku melihat ekspresi penyesalan yang amat sangat di wajahnya. Hatiku luluh. Dalam waktu sedetik kemarahan dan kekesalanku mencair. Bagaimana mungkin aku bisa marah pada seseorang dengan wajah malaikat sepertinya ? Ku lemparkan sebuah senyuman padanya. Pertanda bahwa aku sama sekali tak marah padanya.
"Aaah... senang rasanya melihat senyummu lagi..."katanya riang. Senyumnya melebar. Persis seperti anak kecil yang diberi permen gula-gula kapas kesukaannya.
"Kau...jadi pergi minggu ini ?"tanyaku berusaha memulai suatu obrolan.
"Hmm.. ku rasa ya. Semuanya sudah beres. Aku hanya tinggal menunggu hari keberangkatan saja."
Aku terdiam. Hening kini menyelimuti kami berdua.
"Haruskah kau pergi ?"tanyaku, memecah keheningan yang ada.
Ia menoleh, kemudian menghela nafas.
"Bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya ?"katanya lembut.
"Aku tau... hanya saja..."aku menghela nafas. Semua ini masih terasa berat bagiku.
"Sebegitu pentingnya kah mimpi itu bagimu ?"tanyaku lagi.
Lama ia terdiam.
"Ya."jawabnya pendek.
"Lebih penting dariku ?"tanyaku. Kini aku berani menatap wajahnya.
"Kau tau, kau yang terpenting bagiku."jawabnya.
"Kalau begitu jangan pergi. Tetaplah disini. Di sisiku."suaraku bergetar menahan tangis.
Kali ini ia menatap wajahku. Ekpresinya seolah ingin mengatakan bahwa ia pun tidak menginginkan hal seperti ini. Hanya saja...
"Aku tidak bisa. Kau tau itu."
Mendengar ucapannya air mataku menetes. Aku menundukan kepalaku. Ku coba menahan tangisku, tapi tak berhasil. Semua air mata ini keluar begitu saja tanpa bisa ku bendung.
"Jangan menangis.."katanya sambil mengusap pipiku lembut. "Kau tau Paris-Jakarta tidak sejauh yang kau bayangkan."
"Tapi Paris-Jakarta juga tidak sedekat yang kau bayangkan."kataku disela isak tangis.
Ia mengusap-usap kepalaku dengan lembut. Berharap itu semua bisa menenangkan hatiku.
"Aku harus pergi. Kau tau itu. Kau juga tau betapa pentingnya hal ini bagiku. Penting untuk membuktikan semuanya. Membuktikan padaku, padamu, dan pada ayahmu."
Aku tersenyum saat ia menyinggung soal ayahku. Teringat semua kejadian yang terjadi pada malam itu. Ya, malam pada saat ia datang melamarku di hadapan ayahku.
"Aku harus membuktikan padanya, bahwa dengan musik, aku bisa meraih kesuksesan. Dengan bakat satu-satunya yang ku miliki ini, aku bisa membahagiakanmu. Tentu saja dalam versi ayahmu."
"Kau tau aku sudah sangat bahagia asalkan kau tetap di sisiku."kataku sambil tersenyum.
"Aku tau itu. Tapi ayahmu tidak."
Aku tertawa renyah. Ia benar. Bagi ayahku, "membahagiakanku" berarti sanggup mencukupi kebutuhanku secara materiil. Tak peduli bahwa bagiku, "membahagiakanku" berarti dia hidup disisiku selamanya. Aku teringat akan perdebatan alot antara dia dengan ayahku. Tentang bagaimana ia meyakinkan ayahku bahwa dengan bermusik ia bisa menghidupiku dengan layak. Dengan bermusik, ia bisa membahagiakanku. Sedangkan ayah tetap tidak bergeming dengan pendiriannya bahwa dengan bermusik, masa depannya akan suram. Tidak bergengsi, Tidak memiliki status apapun di mata masyarakat.
"Kau pasti pulang, kan ?"tanyaku padanya.
"Tentu saja. Apa kau mau aku pulang setiap minggu dan menghabiskan akhir pekanku bersamamu ?"
"Kedengarannya akan sangat menyenangkan. Aku mau kalau kau tak keberatan."
"Aku sama sekali tak keberatan. Hanya saja... mungkin dompetku akan melakukan aksi demonstrasi kalau sampai aku melakukannya."katanya sambil tertawa. Aku pun tertawa mendengarnya.
"Berjanjilah satu hal padaku."kataku.
"Apa ?"
"Jangan kau berikan hatimu pada yang lain. Hatimu, cukup menjadi milikku saja."
Ia tersenyum.
"Kau takut aku meninggalkanmu ?"senyum tengil menghiasi wajahnya.
"Yahhh.. ku dengar wanita disana cantik-cantik. Rambutnya pun pirang. Selera umum laki laki."kataku.
"Kau benar. Mereka tinggi dan putih. Mereka juga cantik. Ya.. kau benar."katanya. Mendengar ucapannya hatiku mulai panas. Jengkel sekali mendengar ucapannya.
"Tapi tidak akan ada yang sepertimu."lanjutnya.
Aku menatapnya bingung.
"Kau tau apa yang ku suka darimu ?"tanyanya.
Aku menggeleng.
"Kalau wajahmu memerah, entah karena tersipu atau malu, maka yang pertama kali memerah adalah bagian ini.."katanya sambil menyentuh halus ujung hidungku. Saat itu aku merasa wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Segera ku alihkan pandanganku ke arah lain. Wajahku memanas.
"Tuh kan.. apa ku bilang..."katanya sambil tertawa renyah, "Hanya kau yang bersikap seperti itu.. dan setiap kali kau melakukannya.. aku semakin tergila-gila padamu"
Aku mulai salah tingkah.
"Bagaimana kalau kau menemukan wanita lain yang juga seperti itu ? Apa kau akan menyukainya ?"
"Hmm... tentu saja tidak. Banyak hal-tepatnya semua hal yang ada padamu membuatku tergila-gila padamu. Kalau sampai ada wanita lain yang memiliki semua hal yang ada pada dirimu, munkin aku akan mempertimbangkannya. Sekalipun aku tau itu mustahil."
Aku semakin salah tingkah. Sial, dia memang paling ahli membuatku tak berkutik seperti ini.
"Jadi.. kau sangat menyukaiku ?"tanyaku sambil malu-malu.
"Aku menginginkanmu lebih dari apapun."jawabnya sambil menatap tajam mataku.
Aku tersenyum.
"Berjanjilah satu hal padaku."
"Apa ?"tanyanya.
"Jangan pernah meninggalkanku."
"Tidak akan."jawabnya tegas.
"Selamanya ?"
"Selamanya."
***
umm unyuuu banget sii :D
ReplyDeletetulisanmu makin baugus beb
haha, teng kyu commentnya...
ReplyDeleteini cerpen yg aku buat dgan wktu paling singkat... haha
dsini ku punya tmen yg suka sastra, makanya kadang suka share sma dia, mgkin karena itu kali tulisan akk jdi berkembang.. hihi...
p.s. akk lgi bkin novel loh :p