Tuesday, September 20, 2011

ketika matahari dan hujan bercinta

Gerimis mulai turun ke bumi. Butiran air hujan kini tengah asyik-asyiknya bercengkrama dengan sang tanah. Aku melirik sekilas ke arah jendela kamarku. Aku termenung untuk sesaat, mencoba mengingat kembali semua kenangan masa lalu yang tersimpan dalam memori otakku. Aku tak pernah menyangka aku bisa begitu menantikan hujan seperti ini. Aku bukanlah pecinta hujan sepertimu. Ya, ini semua karenamu. Dan ini semua berawal dari pertanyaanmu itu.

**

Hujan turun tanpa bisa ku duga. Sial, aku lupa membawa payung hari ini. Padahal ramalan cuaca tadi pagi mengatakan bahwa hari ini hujan tak akan turun. Haaahhhh, ternyata yang dikatakan orang memang benar. Bumi sudah tidak bisa diprediksi lagi sekarang ini. Sampai kapan kau akan menghancurkan bumi ini, hai umat manusia?

Aku berlari kecil sambil mengangkat tas di atas kepalaku, berusaha menghindar dari butiran-butiran air hujan yang siap menyerang ubun-ubun kepalaku. Hari sudah semakin gelap. Tak banyak orang lagi disini. Segera ku cari tempat terdekat yang bisa ku jadikan tempat berteduh. Ya, aku melihatnya. Ada pos satpam Mang Ujo disana. Segera ku percepat langkahku, berharap aku bisa sampai kesana lebih cepat agar badanku tak bertambah kuyup.

Rupanya Mang Ujo sedang tidak tugas jaga disana. Aku tak melihatnya duduk sambil minum kopi hitam seperti kebiasaannya itu di pos satpamnya. Yang kulihat hanyalah seorang pelajar SMA, sepertiku, yang sepertinya juga sedang berteduh, menanti hujan reda. Ku kibaskan rok dan kemejaku, kemudian mengambil tempat duduk tak jauh dari tempat lelaki itu duduk. Aku meliriknya sekilas. Ia tersenyum padaku. Hanya ada kami berdua disini.

“Kau berteduh juga ya?”tanya lelaki itu.

Menurutmu apa? Tidakkah kau lihat betapa kuyupnya badanku ini?, ujarku dalam hati

“Ya.”jawabku pendek.

Keheningan mulai menyeruak diantara kami berdua. Aku terdiam. Dia pun tak berbicara apapun. Cuaca semakin dingin. Ku peluk erat tas gendongku, berharap tasku yang mulai membeku itupun bisa memberikan sedikit kehangatan padaku.

“Ketika matahari dan hujan bercinta, menurutmu apa yang akan terjadi?”tanyanya memecah keheningan yang ada.

“Eh? Kau bertanya padaku?”

“Tentu saja, hanya ada kita berdua disini.”katanya sambil tertawa kecil, “Kecuali, kau merasa atau melihat ada seseorang selain kita disini.”

“Hey, itu tidak lucu! Sekolah sudah mulai sepi dan hari semakin gelap. Jangan bicara sembarangan!”kataku ketus.

“Hahaha, baiklah,”katanya. Senyumnya makin melebar saat melihat ekpresiku, “tadi aku hanya bercanda.”

“Jadi..bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”tanyaku.

“Bagaimana menurutmu tentang pertanyaanku tadi.”

“Pertanyaan yang mana?”

“Ketika matahari dan hujan bercinta, menurutmu apa yang akan terjadi?”

Aku terdiam sejenak. Mencoba merenungkan jawaban yang tepat untuk pertanyaannya.

“Entahlah. Mungkin pelangi.”

Ia tersenyum begitu mendengar jawabanku.

“Kau benar, ketika matahari dan langit bercinta, maka akan lahir sebuah pelangi. Pelangi yang sangat cantik.”

“Apa kau suka hujan?”tanyanya lagi untuk kesekian kalinya.

“Hm.. tidak begitu.”jawabku.

“Kenapa?”

“Hujan membuat sepatuku basah...dan bau.”jawabku sambil melirik sepatuku yang kini basah diguyur air hujan. Ia tertawa renyah.

“Kau tau.. kau orang yang menarik.”katanya disela tawanya. 

Begitu melihat tawanya, pada detik itu pula aku tau, hormon serotonin mulai menguasaiku sekarang.


**

Sejak saat itu kami memang sering bertemu. Entah itu saat jam istirahat atau hanya sekedar berpapasan saat kami melewati koridor sekolah. Yang jelas, kami tak penah bicara sepatah katapun saat itu. Saat pandangan mata kami bertemu, kami hanya saling bertukar senyuman, setelah itu sudah. Tak ada apapun lagi yang terjadi. Entah karena alasan apa, aku sendiri juga tidak tau. Yang jelas, tidak pernah ada komunikasi yang tercipta saat itu. Seakan-akan tatapan mata kami saja sudah cukup untuk merangkum semua percakapan yang akan kami ucapkan. Karena itulah aku menanti datangnya hujan. Aku tidak tau sejak kapan, tapi satu hal yang aku ketahui dengan pasti. Saat hujan datang, kau akan ada disana, menungguku datang dan berteduh bersama. Berbicara tentang apapun yang kita suka sampai hujan reda.

“Tidakkah kau merasa semua ini aneh?”tanyanya ketika kami sedang duduk di depan pos satpam seperti biasanya.

“Aneh bagaimana?”tanyaku sambil mengerutkan dahi, tanda tak mengerti.

“Kau bilang kau tidak begitu suka hujan, kan? Tapi kenapa kau tidak pernah membawa payung ke sekolah?”

Degg!! Aku tersentak mendengar pertanyaan darinya. Apa mungkin ia mulai curiga?

“Mm...bukankah sudah ku bilang aku lupa membawanya? Ku rasa tertinggal di tas sebelumnya. Lihat, aku ganti tas hari ini.”kataku berbohong.

“Hm.. masuk akal.”katanya sambil menganggukkan kepalanya. Aku menghembuskan nafas lega.

“Hey, dulu saat pertama kali kita bertemu, kau pernah bertanya padaku. Kau ingat?”

“Hm... ya aku ingat. Memangnya kenapa?”

“Sekarang aku ingin menanyakan hal yang sama padamu. Aku ingin tahu, menurutmu apa yang akan terjadi ketika matahari dan hujan bercinta?”

Ia tersenyum lembut.

“Aku akan senang sekali.”

“Kenapa? Apa karena kau suka hujan?”

“Itu memang salah satu alasannya. Tapi bukan alasan utama.”

“Lalu, apa alasan utamanya?”tanyaku penasaran.

“Ketika matahari dan hujan bercinta, aku akan senang sekali. Karena aku tau, kau akan datang kesini berteduh bersamaku, seperti saat ini.”

Mendengar jawabannya, aku tak bisa menahan senyumku. Ku lihat ia juga tersenyum lebar ke arahku. Aku tak pernah mengira, betapa hujan bisa begitu indah seperti ini!

**

Gerimis kini telah berganti hujan. Kejadian itu memang sudah 4 tahun berlalu. Tapi entah kenapa, kebiasaanku untuk menunggumu di kala hujan tidak bisa ku hilangkan begitu saja. Semenjak kepergianmu untuk mendalami dunia fotografi, kita memang tidak pernah saling bertemu lagi. Kita mungkin memang sering bertukar email, tapi itu hanya untuk sekedar menanyakan kabar satu sama lain. Terakhir kau bilang padaku 3 bulan lalu, kau ada di Tokyo. Entah kapan kau akan pulang, tapi harus ku akui, aku mulai merindukanmu.

Aku meraih jaketku, bersiap-siap untuk berjalan mengelilingi kompleks di sekitar rumah di bawah guyuran hujan kesukaanmu. Tapi tak lama, laptopku berbunyi, menandakan ada email masuk. Dan itu darimu!
From : Galih (galih1990@gmail.com)


Datanglah ke depan pos satpam Mang Ujo, akan ku perlihatkan padamu suasana hujan di setiapnegara yang ku kunjungi lewat lensa kameraku. Aku akan menunggu.
Sebuah senyum simpul mengembang di wajahku. Tanpa pikir panjang aku segera berlari, menerobos derasnya hujan yang mengguyur. Berlari ke tempatmu. Secepat yang aku bisa.
Share:

Saturday, July 9, 2011

Saturday, May 21, 2011

hidup!

Ada kalanya hati tak lagi bisa dikendalikan diri

Ada kalanya kau tak bisa berkutik dibawah kuasa sang serotonin

Ada kalanya kau harus menerima semua perasaan tak nyaman yang bergolak dalam hatimu


Hey, tidakkah kau merasa hidup hanyalah sebuah permainan?

Dimana Tuhanmu senang mempermainkan hatimu hingga sebegitu rupa

Membawamu jauh membumbung tinggi hingga akhirnya kau jatuh tersungkur tanpa daya

Membuatmu merasa senang tiada terkira hingga sakit yang menjalari dada


Hey, tidakkah kau merasa hidup hanyalah sebuah omong kosong belaka?

Dimana kau merajut semua mimpi dan cerita

Berusaha sekuat tenaga membangun semua yang tiada menjadi ada

Tapi semua selalu berbalik pada sebuah takdir yang begitu nyata


Hidup hanyalah senda gurau belaka

Tak ada yang istimewa

Hanya saja

Aku tetap suka

Share:

Tuesday, May 10, 2011

A 'lil town that I love the most :)

Cianjur.

C.I.A.N.J.U.R.

Sebuah kota kecil yang terletak diantara Bandung dan Jakarta, atau Bandung dan Sukabumi, atau Sukabumi dan Jakarta, atau... sudahlah, semua tergantung dari sudut pandang mana kau melihatnya, bukan? Sebuah kota yang bahkan luput dari pandanganmu jika kau tak memperhatikan peta Jawa Barat dengan benar. Ya, kota ini memang ada. Kalau tak percaya, kau bisa membuktikannya sendiri dengan kedua matamu itu. Kau masih tak menemukannya juga? Baiklah, kurasa kau harus mulai mengunjungi dokter mata terdekat untuk memeriksakan matamu yang mulai rabun. Intinya kota ini ada. Percayalah.

Aku tak pernah menyangka bahwa sebuah kota yang namanya tersusun dari 7 huruf berbeda ini bisa memiliki arti tersendiri dalam kehidupanku. Saat pertama kali pindah ke kota ini, aku merasa begitu asing. Aku merasa terdampar di sebuah tempat antah berantah yang ketika malam datang menghampiri, hawa dingin bisa berubah menjadi jutaan mata pisau yang menusuk-nusuk tubuhmu sampai ke tulang. Ya, soal kata-kataku barusan itu memang benar. Aku memang terdampar. Terdampar di sebuah dusun kecil. Bisa kau bayangkan? Sebuah dusun – ayolah aku bahkan menyebutnya dengan dusun, yang berarti ini jauh lebih desa dari sebuah desa – kecil di kota kecil. Bisa kau bayangkan betapa terpencilnya itu? Untuk sampai ke kota, kau harus menempuh sekitar 45 menit jika kau naik angkot yang berjalan ngebut. Aku masih ingat ketika guru SD-ku ingin menjengukku ketika aku sakit. Hari itu jalanan sedang berkabut. Aku sedang iseng berjalan ke teras rumah, sekedar berusaha mendinginkan panas tubuhku dengan hawa dingin pegunungan, saat ku lihat ada sesosok tubuh yang berjalan mendekati rumahku di tengah kabut, yang ternyata itu adalah wali kelasku. Ku lihat tubuhnya menggigil kedinginan, wajahnya pucat, dan bibirnya bergetar menahan hawa dingin. Satu hal yang masih ku ingat sampai detik ini, kata-kata yang ia ucapkan begitu sampai di depan rumahku, “Ternyata rumahmu jauh sekali, Nak”.

Saat itu aku belum menyadari, bahwa jutaan rentetan kejadian sudah mengantri untuk ku alami satu persatu. Tapi satu hal yang pasti, kisah ini baru saja dimulai...

Di kota mungil inilah, semua kisah dalam hidupku berawal. Kalau ku coba mengingat semua masa laluku, hampir semua ingatan itu berkaitan dengan kota mungil ini. Hanya satu atau dua ingatan saja yang sanggup mengingatkanku pada kota kelahiranku, dan itu pun hanya pemikiran selewat. Kau tidak akan pernah menduga kisah apa saja yang sudah tercipta di kota ini..

Tentang bagaimana sekolah baru dimulai pukul 8 pagi dan kau bisa bebas bermain sesukamu pada pukul 10 pagi karena sekolah telah usai...

Tentang bagaimana rasanya berenang dalam kondisi setengah bugil dengan teman sebayamu di kebun selada bokor milik tetangga yang bahkan namanya saja tak kau ketahui...

Tentang bagaimana horornya kamar mandimu ketika semua orang dapat melihat ‘sesuatu’ sedang kau tak bisa melihat apapun...

Tentang bagaimana kau masuk dengan tenangnya ke dalam rumahmu seusai shalat di Hari Raya padahal satu menit yang lalu rumahmu baru saja ‘dikunjungi’ oleh pencuri..

Tentang bagaimana paniknya dirimu sambil memegang pisau dapur di tengah malam ketika rumahmu baru saja dikepung oleh beberapa pencuri yang mengacungkan celurit ke wajah ayahmu...

Tentang bagaimana akhirnya keluargamu memutuskan untuk pindah ke kota setelah apa yang terjadi di malam itu...

Tentang bagaimana kau mengalami ospek pertamamu di SMP...

Tentang bagaimana kau bertemu dengan cinta pertamamu...

Tentang bagaimana kau terkena cacar air tepat 2 minggu sebelum ujian akhir nasional...

Tentang bagaimana kau bertemu dengan teman barumu dengan segala keunikannya di SMA...

Tentang bagaimana kau melewati berbagai cerita bersama para ksatria pelangi selama tiga tahun...

Tentang bagaimana bahagianya dirimu dan teman-temanmu saat akhirnya kau bisa mengusung piala kelas pertamamu di depan hidung musuh bebuyutanmu...

Tentang bagaimana kau membuat film pertamamu yang mengharuskanmu untuk di-make up!!

Tentang bagaimana kau habiskan setiap harimu, duduk berjam-jam di sebuah tempat di sudut kota, dimana kau bisa membaca sepuas yang kau mau...

Tentang bagaimana kau menikmati minggu pagimu dengan berlari mengitari kompleks perumahan gurumu bersama sahabatmu...

Tentang bagaimana kau bercanda dan tertawa bersama disela-sela usahamu untuk menirukan gaya instruktur senam yang ada di hadapanmu...

Tentang bagaimana kau berbohong di suatu hari di bulan suci hanya karena kau tak ingin proyek menulis rahasiamu diketahui teman sekelasmu...

Tentang bagaimana semua kisah ini menjadi sebuah magnet yang sanggup menarik hatimu untuk terus merindukkan kota mungil ini...

Dan kini, aku terduduk di kamarku – lebih tepat kamar ibuku – termenung memikirkan bahwa hari Minggu akan segera datang, yang artinya semakin cepat aku harus meninggalkan kota ajaib ini. Entah apa yang merasuki kepalaku, tapi kali ini aku benar-benar berpikir bahwa cianjur seribu kali lipat jauh lebih indah bila dibandingkan dengan kota Bandung yang dulu selalu ku idam-idamkan. Aku juga tak pernah menyadari, bahwa dibalik segala keterbatasan yang ada di kota kecil ini, tersimpan sejuta pesona yang sanggup membuatku terus berpikir untuk kembali ke kota ini. Berharap di suatu hari nanti, aku akan kembali mengatakan dengan gembira pada ibuku, “Ma, ade pulang besok!”

Cianjur, 23 April 2011
@my mom's room

Share: