Menikahlah denganku...
Ya. Dua buah kata yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Bagaimana tidak ? Dia, seseorang yang terkenal akan kebaikan akhlaknya dan juga budi pekertinya, melamarku secara tiba-tiba di hadapan teman-temanku saat aku hendak masuk ke kelas. Saat itu dia mencegatku yang hendak menaiki tangga dan dengan lantang menyatakan bahwa ia ingin menikahiku.
"Menikahlah denganku..."
"Maaf ? Kau bicara denganku ?"tanyaku sedikit terkejut.
"Ya, kau. Siapa lagi ? Aku sedang berbicara padamu Shiddiqa Nurul Islam. Lebih tepatnya aku sedang melamarmu saat ini."katanya sambil tersenyum lembut.
Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa semua ini adalah kenyataan. Maksudku, bagaimana mungkin seseorang sepertinya, seorang Muhammad Hafidz Dzikrullah, melamarku, yang notabene bukanlah tipe gadis yang sering keluar masuk masjid atau mungkin hanya sekedar itikaf dan membaca ayat suci Al-Qur'an di masjid ? Aku memang pernah menghadiri majelis taklim beberapa kali di masjid. Dan aku sering melihatnya duduk diantara puluhan mahasiswa lainnya, mendengarkan untaian ceramah dari sang mubaligh dengan penuh antusias. Dia memang cukup terkenal di kalangan para mahasiswi. Bagaimana tidak ? Dia adalah seorang figur suami idaman semua wanita. Dan sekarang dia disini, di hadapanku, melamarku.
"Kau yakin ?"
"Insya Allah."jawabnya mantap. Hatiku tertegun melihat kemantapan hatinya.
"Kita bahkan belum pernah berbicara sebelumnya. Kita bahkan belum saling kenal. Bagaimana mungkin kau bisa semantap itu untuk memintaku menjadi istrimu ?"
Ia tersenyum melihat betapa panik diriku karena tiba-tiba dilamar olehnya. Ku rasakan wajahku memanas saat melihat senyumannya. Dadaku berdegup kencang saat melihat senyumnya.
"Itulah alasan mengapa ada proses yang dinamakan taaruf. Proses untuk saling mengenal satu sama lain. Sekarang yang menjadi masalah adalah apakah kau bersedia untuk menjalanI proses taaruf itu bersamaku ?"
Aku terdiam. Aku benar-benar bingung harus bagaimana saat itu. Ku rasakan hening menyelimuti sekelilingku. Ku layangkan pandanganku ke sekelilingku. Benar saja. Semua sedang memperhatikanku sekarang. Habis sudah. Aku benar-benar tidak bisa berpikir tentang apapun. Aku menundukkan kepalaku, mencoba untuk mencari jawaban yang tepat di saat seperti ini.
Lalu dengan sedikit anggukan kecil. Ku nyatakan bahwa aku menerima lamarannya. Sebuah senyum cerah mengembang di wajahnya. Suara riuh kini mulai menyelimuti kami berdua.
"Alhamdulilah... ku kira kau akan menolakku karena aku melamarmu tiba-tiba.."katanya sambil terus tersenyum, "Baiklah, minggu depan aku akan datang ke rumahmu, ke rumah orang tuamu, untuk melamarmu secara resmi. Sampai jumpa minggu depan. Assalamualaikum..."
Aku tidak akan pernah melupakan semuanya yang terjadi di hari itu. Tentang bagaimana ributnya teman-temanku karena aku akan menikah. Tentang bagaimana sebagian wanita menatapku dengan tatapan penuh penilaian saat aku berjalan melewati lorong-lorong kampus. Tentang bagaimana bahagianya aku karena akan menjadi istrinya. Istri dari seorang laki-laki yang aku yakin akan menjadi imam terbaik bagi keluarga kecilku kelak.
Kini hari pernikahan itu semakin dekat. Tak ada keraguan sedikitpun di hatiku. Aku juga tidak tau mengapa. Entah karena dia selalu meyakinkanku setiap kali aku bertemu dengannya, entah karena aku begitu mencintainya, atau entah karena ia memang jodoh terbaik yang tercipta untukku.
"Kenapa kau mau menikahiku ?"tanyaku beberapa hari sebelum hari pernikahan kami tiba.
"Kau masih belum yakin padaku ?"tanyanya lembut.
"Bukan...bukan begitu.. hanya saja, aku kan bukan tipe gadis yang keluar masuk masjid dan menghabiskan hampir setiap waktuku untuk itikaf di masjid.. Aku hanyalah gadis biasa pada umumnya."kataku sambil malu-malu.
Ia tertawa renyah.
"Apa gadis yang boleh ku nikahi hanya gadis seperti itu saja ?"tanyanya disela tawanya.
"Yaa bukan begitu... kau pasti tau maksudku. Aku hanya heran, bagaimana mungkin seseorang sepertimu mau menikahi gadis sepertiku ?"
"Memang aku orang yang seperti apa ?"tanyanya sambil menatapku dengan lembut.
Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Tidak mungkin aku memberitahunya bahwa ia adalah seorang sosok figur idaman bagi semua wanita. Aku malu sekali. Bagiku, ia adalah seseorang yang terlalu sempurna di mataku. Sempurna dalam ketidaksempurnaannya.
"Ya orang yang seperti itulah.."kataku.
"Seperti apa ?"tanyanya lagi.
"Seseorang...yang sanggup menjadi imam terbaik bagi keluarga kecilku kelak"jawabku. Ku rasakan wajahku memanas saat mengucapkan hal itu. Ku tundukkan kepalaku agar ia tidak bisa melihat jelas seberapa merah wajahku saat itu.
"Benarkah ?"tanyanya sambil tersenyum, "Hmm.. kalau begitu alasan kenapa aku mau menikahimu adalah karena saat pertama kali aku melihatmu... aku langsung yakin bahwa kaulah orangnya. Kau lah orang yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak."
"Benarkah ? Bagaimana mungkin ?"
"Aku juga tidak tau pasti. Yang jelas, saat pertama kali aku melihatmu, hatiku langsung mantap untuk menikahimu. Ini mungkin terdengar aneh. Tapi begitulah keadaannya. Mungkin apa yang dikatakan dosenku memang benar.."
"Memangnya apa yang dikatakan dosenmu ?"
"Hati kecil kita akan menuntun kita pada jodoh kita, seseorang yang memiliki frekuensi yang identik dengan kita. Dan ku rasa kau lah orangnya...seseorang yang memiliki frekuensi yang hampir identik denganku."
Aku tak bisa menahan senyumku saat mendengar jawabannya. Ku rasa aku telah membuat sebuah keputusan yang benar. Sebuah keputusan yang tak akan pernah aku sesali seumur hidupku. Keputusan untuk menerimanya sebagai pendamping hidupku. Selamanya.
***
0 comments:
Post a Comment