Dan disinilah saya, bersama beberapa rekan, terjebak di sebuah ruangan tak lebih dari 3 x 4 meter ditengah keremangan senja yang kini mulai menggelap.
Tidak, bukanlah training super awesome yang membuat hari ini begitu bermakna. Bukan pula karena kini saya mulai memahami arti dari segala singkatan OGXDRPTHXCVBD dan segala macamnya. Juga bukan karena pertemuan yang tidak disengaja itu. Tidak, tidak sama sekali. Yang membuat hari ini begitu pantas dan berharga untuk dimaknai tidak lebih karena waktu 30 menit yang saya luangkan untuk berbagi. Berbagi bersama rekan, ya seperti saat ini!
Ada kalanya, kita jatuh sejatuh-jatuhnya hingga ke suatu titik dimana kau merasa begitu terpuruk. Dan itulah yang saya alami beberapa hari ini. Saya merasa begitu terpuruk, hingga saya sempat merasa jijik dengan diri saya sendiri. Marah, benci, angkuh, dengki, iri, semua membaur menjadi satu, menggema dalam rongga jiwa hingga menebar aroma busuk disetiap langkah yang saya bawa. Takut? Jelas. Putus asa? Kau tak akan pernah bisa membayangkannya. Malu, sangat. Tapi apa dikata? Meski dikuliti pun, saya tetaplah seseorang yang menjijikan itu.
"Karakter itu seperti topeng, dimanapun kamu berada, topeng itu akan berubah. Dan itu tidak apa-apa.."
Sebuah quotes yang terus menggema di telinga saya sejak kemarin. Dan begitu mendengarnya, seketika saya merasa begitu normal. So ordinary. Not an aliens, at last.
Beberapa waktu ini, saya merasa begitu berbeda, Ibarat, hidup tanpa jiwa. Hampa. Saya bukanlah saya, seperti yang seharusnya. Saya hanyalah raga kopong yang menjalani rutinitas seperti apa adanya. 'Saya' yang sebenarnya tidaklah hidup selama beberapa hari ini. 'Saya' mati. Terkubur dalam senyum palsu dan poker face yang selalu terpampang manis di wajah saya. 'Saya' telah hilang, menjadi abu. Butiran debu.
Dengan raga kopong, saya bisa menjadi apa saja. Tersenyum dikala miris, tertawa dikala sedih, terkejut tanpa ada rasa heran, terpukau tanpa sedikitpun melewatkan rasa bosan. Saya pun bisa jadi siapa saja yang saya mau- ralat, yang lingkungan saya butuhkan. Ya, saya bisa. Tapi saya tidak mau itu. Saya ingin lari. Lari! Berlari kencang menuju arah angin. Terbebas dari segala kutukan yang menjelma. Saya hanya ingin jadi diri saya sendiri!
Tapi, seburuk-buruknya tempatmu terjatuh, Tuhan tak akan pernah meninggalkanmu. Dan saya percaya itu, karena saya mengalaminya.
Di tengah keremangan senja, saya tersadar, bahwa 'dirimu' hanya bisa ditentukan oleh dirimu sendiri. Menjadi banyak orang, bukanlah sesuatu yang buruk. Menjadi banyak orang menandakan bahwa dirimu sadar akan posisimu, sadar akan bagaimana kau harus bersikap. Menjadi banyak orang, tak berarti kau kehilangan dirimu. Menjadi banyak orang menunjukan caramu mendefinisikan dirimu di lingkunganmu. Tentang bagaimana kau ada, tentang bagaimana kau bersikap, dan tentang bagaimana kau akan mewarnai lingkunganmu, bukan diwarnai.
Saya bukanlah muslimah sempurna. Saya hanya seorang muslim yang berjuang ditengah gerusan zaman. Saya berikhtiar. Dan akan begitu selamanya.
Hidup, seperti yang kita tahu,
Life, as we know it.
iiich paling suka sama wanita seperti ini , pasti pasangannya seneng banget punya pasangan yang saleha seperti ini :).
ReplyDeleteTantangan Kreatif Berhadiah Uang & Grandprize Samsung Android