Sunday, March 27, 2011

Love poem

Betapa setiap pribadi memiliki caranya sendiri
Tuk ungkapkan setiap getar cinta di hati

Ketika sang pujangga mencintai sang gadis
Maka diuntainya kata demi kata
Dijadikannya syair magis peluluh jiwa
Hingga sang gadis jatuh dalam peluknya

Ketika sang musisi mencintai sang belahan jiwa
Dimainkannya nada demi nada
Dijadikannya nyanyian magis penuh pesona
Hingga sang gadis kini jadi miliknya

Ketika sang koki mencintai dia si pemilik jiwa
Diraciknya rasa demi rasa
Dijadikannya ramuan magis penumbuh cinta
Hingga sang gadis jatuh dalam genggamannya

Ketika sang penulis mencintai sang pujaan hati
Disusunnya baris demi baris
Dijadikannya prosa magis pemikat hati
Hingga sang gadis pun kini mencintai

Ketika sang agamis menemukan yang ia cari
Digetarkannya hati sang gadis dengan kemantapan hati
Tanpa basa basi mengutarakan maksud hati
Hingga sang gadis jadi pendampingnya kini

Dan ketika aku mencintaimu
Lidahku kelu

***
Share:

Tuesday, March 22, 2011

Lagi

Aku bertemu dengannya. Lagi. Kemarin.

Dia disana, seperti saat pertama kali bertemu, berjalan memasuki kampus dengan sejuta pesonanya. Dan aku pun disana, seperti saat pertama kali bertemu, mematung tak bergerak... merasakan berhentinya waktu untuk sesaat saat mataku terkunci menatap wajahnya.

Aku benar-benar tak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Maksudku, bertemu dengannya adalah hal terakhir yang mungkin tertulis dalam daftar harapanku hari itu. Harus ku akui, aku memang menjauhinya - lebih tepatnya, berusaha untuk menjauhinya - setelah kejadian, yang selalu menjadi mimpi burukku di setiap malam, yang terjadi pada beberapa minggu sebelumnya. Tapi mau bagaimana lagi? Ku rasa Tuhan memang menginginkan aku untuk bertemu dengannya, seperti kemarin sore, tentu dengan alasan yang tidak aku ketahui hingga detik ini.

Satu hal, yang mengusik pikiranku sejak kemarin. Saat aku bertemu dengannya, saat aku merasa dunia berhenti berputar saat mataku melihatnya, saat waktu seakan berhenti berdetak untuk sesaat, aku kembali merasakannya. Ya, aku merasakan sensasi aneh itu lagi dalam hatiku. Aku merasa...

Hangat..

Nyaman..

Terpesona..

Semuanya!

Persis seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya.

Pertemuan tak terduga dengannya kemarin sore mau tak mau telah membukakan mata dan pikiranku. Menunjukkan sebuah fakta, sebuah kebenaran, yang selama ini selalu ku tutup-tutupi dan aku selalu berusaha untuk lari darinya. Sebuah kenyataan, bahwa ternyata AKU MEMANG MASIH MENGAGUMINYA. Tentang betapa kerasnya degup jantungku saat ia berjalan mendekatiku, betapa lemasnya kakiku saat ia berdiri dihadapanku, betapa inginnya aku untuk lari sejauh-jauhnya untuk menyembunyikan seberapa keras degup jantungku yang ku rasa jika ia berada di dekatku ia akan sanggup mendengarnya, semua itu..masih tetap sama.

Damn, i always hate this sensation!
Share:

Sunday, March 20, 2011

Untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta

Untuk kesekian kalinya
Aku jatuh cinta
Bukan pada seseorang yang sempurna
Hanya seorang manusia biasa

Untuk kesekian kalinya
Aku jatuh cinta
Pada semua kelemahannya
Pada semua kekurangannya
Pada dirinya apa adanya

Untuk kesekian kalinya
Aku jatuh cinta
Pada seorang manusia yang tak mengenal cinta
Hanya mampu menafsirkan getaran di dada
Menjadi simphoni tiada terduga

Untuk kesekian kalinya
Aku jatuh cinta
Bukan pada seorang nyata
Hanya imaji semata


(written on February, 21st, 2011)
Share:

Saturday, March 12, 2011

cerita tikah :)

Ku seruput tehku dalam-dalam tanpa sedikitpun melepaskan pandanganku ke layar laptop kesayanganku. Ku coba cek sekali lagi naskah yang akan ku kirimkan ke editor sore ini, takut-takut ada yang salah pada penulisanku. Yap, semua sudah beres. Ku klik tombol print yang ada di sebelah kanan atas jendela microsoft word dan menunggu semuanya beres. Tapi tak lama, bunyi "ping" khas yahoo messenger menarik perhatianku. Ku lihat chat box yang terpampang di layar laptopku, mencari pengirim pesan ym tadi. Dan ketika ku lihat, seketika tubuhku membeku. Alfares. Ya, dialah yang mengirimkan pesan ym-nya padaku. Ku ketik balasan ym untuknya.

hai.. :)

hai

lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?

aku baik, kau?

baik, kurasa begitu.. :) kau dimana sekarang?

rumah. kau?

aku masih tugas di Jepang, negeri kesukaanmu. ku rasa bulan depan aku baru bisa pulang ke Indonesia.

oh..

kau tau musim sedang musim apa disini? ayolah.. aku yakin kau pasti tau..

musim gugur kan? ini masih bulan Oktober.

ping pong!! tepat sekali.. :) musim gugur musim kesukaanmu bukan?

ya, rupanya kau masih ingat

tentu saja, aku tak mungkin melupakan hal-hal tentangmu.. :) oh iya, aku juga sudah baca bukumu, bagus sekali. :)

terima kasih. tapi buku yang mana ya?

semuanya. kau tau aku selalu jadi penggemar beratmu. :)

terima kasih, tapi ku kira kau hanya suka komik,

haha.. kau benar, tapi novelmu itu pengecualian, itu semacam bacaan wajib bagiku.. :)

terima kasih sudah membacanya.

sama-sama.. oh iya, apa kau tau?

tau apa?

semua hal disini mengingatkanku padamu, musim gugur, suasana Jepang, semuanya... aku merindukanmu Ai-chan.. :)

berhentilah memanggilku dengan panggilan seperti itu. aku tidak suka.

eh? kenapa? bukankah kau suka dipanggil seperti itu?

itu dulu, sekarang semua berubah

tapi perasaanku belum berubah, Ai chan. seandainya saja ada satu hal yang bisa ku lakukan untuk membuat semuanya kembali seperti dulu...

semua sudah berakhir, Alfa. kau tau tak ada lagi yang bisa kau lakukan.

apa ini semua karena kau akan menikah?

ya

tapi kau kan dijodohkan, kau tak mungkin menyukainya secepat itu

tapi aku menyukainya, sangat.

bohong. aku tau kau dari dulu. kau bukan tipe orang yang bisa menyukai orang semudah itu. aku yakin kau masih menyukaiku.

hentikan Alfa. cukup!

Segera ku tutup chatbox ym-ku dengannya. Segera ku matikan layar laptopku. Berusaha menjauh darinya. Semua hal tentangnya, hanya meninggalkan kenangan pahit. Aku benci. Tak lama telepon genggamku berdering. Ku lihat nama yang tertera di layar itu, takut-takut Alfa yang menghubungiku. "Kak Abay". Begitulah yang tertera disana. Untunglah...

"Halo kak.."sapaku di telepon.

"Aira, kau tak apa? Tiba-tiba aku memikirkanmu."tanya suara di seberang sana sedikit cemas.

"Aku baik-baik saja, Kak,"jawabku sambil tersenyum.

"Kau yakin?"

"Hm.."kataku, "kenapa kakak tiba-tiba memikirkanku? Kangen?"tanyaku sambil tertawa.

"Mungkin juga.. hehe, tapi syukurlah kau tak apa."

"Iya.."

Lama keheningan menyelimuti kami berdua.

"Kak.."ujarku ragu.

"Hm?"

"Sebenarnya aku merasa agak takut.."

"Takut apa?"

"Entahlah. Ku rasa ada hubungannya dengan Alfa.."kataku ragu.

"Alfa? Mantanmu itu? Memangnya ada apa Aira?"

"Alfa pulang bulan depan ke Indonesia."

"Lalu?"

"Bagaimana kalau dia mengganggu semuanya? Bagaimana kalau dia sekali lagi berhasil menarik perhatianku lagi kak?"

"Memangnya kau masih menyukainya?"tanyanya lembut.

"Tidak. Tentu saja tidak."

"Kalau begitu, apa sekarang kau suka padaku?"tanyanya. Aku yakin ada senyum tengil yang menghiasi wajahnya sekarang.

"Haruskah ku jawab pertanyaan itu, Kak?"

"Tentu saja, itu penting bagiku.."jawabnya, tawanya kini mulai terdengar di telingaku.

"Hmm...baiklah"kataku sedikit malu, "jawabannya iya."

"Iya apa?"tanyanya mencoba mencari kejelasan. Sial, dia memang mengerjaiku.

"Iya aku suka kakak"kataku cepat.

Begitu mendengar jawabanku, ia langsung tertawa. Ku rasa ia senang membuat perasaanku jadi tak karuan begini.

"Kalau begitu tak ada masalah bukan?"

"Maksud kakak?"tanyaku tak mengerti.

"Iya, tak masalah kalau pun Alfa berhasil menarik perhatianmu untuk kesekian kalinya."

"Kakak tidak cemburu?"

"Tentu aku cemburu.."jawabnya cepat. Senyumku melebar saat mendengar jawabannya ini.

"Tapi, kalau pun itu sampai terjadi,"katanya melanjutkan, "itu tidak akan jadi masalah buatku, karena pada saat itu juga, aku akan membuatmu memperhatikanku lagi dan membuatmu jatuh cinta padaku sekali lagi lebih dari yang sebelumnya. Begitu juga seterusnya"

Aku benar-benar tak bisa menahan senyum yang semakin mengembang setiap kali dia menjawab semua keraguanku ini.

"Bagaimana caranya?"tanyaku sambil menyembunyikan kegiranganku, sekalipun aku tau itu semua sia-sia.

"Akan ku lakukan apapun untuk itu Aira. Apapun."

Aku benar-benar yakin sekarang, bahwa dialah seseorang yang tepat bagiku. Seperti kata dosenku bilang, "a proper man who comes in a proper time". Ya, dialah orangnya.

"Hey, sore ini kau sibuk?"tanyanya.

"Tidak, novelku juga sudah selesai. Memangnya ada apa?"

"Bagus. Aku mau mengajakmu jalan-jalan. Kau mau kan?"

"Tentu. Bagaimana kalau kita pergi ke kedai es krim yang waktu itu? Rasanya aku ingin makan es krim."kataku sambil tersenyum.

"Ide bagus, kedengarannya menyenangkan. Baiklah ku jemput kau jam 4 di rumah. Bersiap-siaplah."

"Baiklah."

"Eh Aira..."katanya.

"Apa?"

"Aku hanya ingin bilang kalau aku menyukaimu. Sangat."

Aku tersenyum.

"Aku juga menyukaimu, Kak. Sangat"
Share:

Friday, March 4, 2011

inspired by someone.. :)

Menikahlah denganku...

Ya. Dua buah kata yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Bagaimana tidak ? Dia, seseorang yang terkenal akan kebaikan akhlaknya dan juga budi pekertinya, melamarku secara tiba-tiba di hadapan teman-temanku saat aku hendak masuk ke kelas. Saat itu dia mencegatku yang hendak menaiki tangga dan dengan lantang menyatakan bahwa ia ingin menikahiku.

"Menikahlah denganku..."

"Maaf ? Kau bicara denganku ?"tanyaku sedikit terkejut.

"Ya, kau. Siapa lagi ? Aku sedang berbicara padamu Shiddiqa Nurul Islam. Lebih tepatnya aku sedang melamarmu saat ini."katanya sambil tersenyum lembut.

Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa semua ini adalah kenyataan. Maksudku, bagaimana mungkin seseorang sepertinya, seorang Muhammad Hafidz Dzikrullah, melamarku, yang notabene bukanlah tipe gadis yang sering keluar masuk masjid atau mungkin hanya sekedar itikaf dan membaca ayat suci Al-Qur'an di masjid ? Aku memang pernah menghadiri majelis taklim beberapa kali di masjid. Dan aku sering melihatnya duduk diantara puluhan mahasiswa lainnya, mendengarkan untaian ceramah dari sang mubaligh dengan penuh antusias. Dia memang cukup terkenal di kalangan para mahasiswi. Bagaimana tidak ? Dia adalah seorang figur suami idaman semua wanita. Dan sekarang dia disini, di hadapanku, melamarku.

"Kau yakin ?"

"Insya Allah."jawabnya mantap. Hatiku tertegun melihat kemantapan hatinya.

"Kita bahkan belum pernah berbicara sebelumnya. Kita bahkan belum saling kenal. Bagaimana mungkin kau bisa semantap itu untuk memintaku menjadi istrimu ?"

Ia tersenyum melihat betapa panik diriku karena tiba-tiba dilamar olehnya. Ku rasakan wajahku memanas saat melihat senyumannya. Dadaku berdegup kencang saat melihat senyumnya.

"Itulah alasan mengapa ada proses yang dinamakan taaruf. Proses untuk saling mengenal satu sama lain. Sekarang yang menjadi masalah adalah apakah kau bersedia untuk menjalanI proses taaruf itu bersamaku ?"

Aku terdiam. Aku benar-benar bingung harus bagaimana saat itu. Ku rasakan hening menyelimuti sekelilingku. Ku layangkan pandanganku ke sekelilingku. Benar saja. Semua sedang memperhatikanku sekarang. Habis sudah. Aku benar-benar tidak bisa berpikir tentang apapun. Aku menundukkan kepalaku, mencoba untuk mencari jawaban yang tepat di saat seperti ini.

Lalu dengan sedikit anggukan kecil. Ku nyatakan bahwa aku menerima lamarannya. Sebuah senyum cerah mengembang di wajahnya. Suara riuh kini mulai menyelimuti kami berdua.

"Alhamdulilah... ku kira kau akan menolakku karena aku melamarmu tiba-tiba.."katanya sambil terus tersenyum, "Baiklah, minggu depan aku akan datang ke rumahmu, ke rumah orang tuamu, untuk melamarmu secara resmi. Sampai jumpa minggu depan. Assalamualaikum..."

Aku tidak akan pernah melupakan semuanya yang terjadi di hari itu. Tentang bagaimana ributnya teman-temanku karena aku akan menikah. Tentang bagaimana sebagian wanita menatapku dengan tatapan penuh penilaian saat aku berjalan melewati lorong-lorong kampus. Tentang bagaimana bahagianya aku karena akan menjadi istrinya. Istri dari seorang laki-laki yang aku yakin akan menjadi imam terbaik bagi keluarga kecilku kelak.

Kini hari pernikahan itu semakin dekat. Tak ada keraguan sedikitpun di hatiku. Aku juga tidak tau mengapa. Entah karena dia selalu meyakinkanku setiap kali aku bertemu dengannya, entah karena aku begitu mencintainya, atau entah karena ia memang jodoh terbaik yang tercipta untukku.

"Kenapa kau mau menikahiku ?"tanyaku beberapa hari sebelum hari pernikahan kami tiba.

"Kau masih belum yakin padaku ?"tanyanya lembut.

"Bukan...bukan begitu.. hanya saja, aku kan bukan tipe gadis yang keluar masuk masjid dan menghabiskan hampir setiap waktuku untuk itikaf di masjid.. Aku hanyalah gadis biasa pada umumnya."kataku sambil malu-malu.

Ia tertawa renyah.

"Apa gadis yang boleh ku nikahi hanya gadis seperti itu saja ?"tanyanya disela tawanya.

"Yaa bukan begitu... kau pasti tau maksudku. Aku hanya heran, bagaimana mungkin seseorang sepertimu mau menikahi gadis sepertiku ?"

"Memang aku orang yang seperti apa ?"tanyanya sambil menatapku dengan lembut.

Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Tidak mungkin aku memberitahunya bahwa ia adalah seorang sosok figur idaman bagi semua wanita. Aku malu sekali. Bagiku, ia adalah seseorang yang terlalu sempurna di mataku. Sempurna dalam ketidaksempurnaannya.

"Ya orang yang seperti itulah.."kataku.

"Seperti apa ?"tanyanya lagi.

"Seseorang...yang sanggup menjadi imam terbaik bagi keluarga kecilku kelak"jawabku. Ku rasakan wajahku memanas saat mengucapkan hal itu. Ku tundukkan kepalaku agar ia tidak bisa melihat jelas seberapa merah wajahku saat itu.

"Benarkah ?"tanyanya sambil tersenyum, "Hmm.. kalau begitu alasan kenapa aku mau menikahimu adalah karena saat pertama kali aku melihatmu... aku langsung yakin bahwa kaulah orangnya. Kau lah orang yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak."

"Benarkah ? Bagaimana mungkin ?"

"Aku juga tidak tau pasti. Yang jelas, saat pertama kali aku melihatmu, hatiku langsung mantap untuk menikahimu. Ini mungkin terdengar aneh. Tapi begitulah keadaannya. Mungkin apa yang dikatakan dosenku memang benar.."

"Memangnya apa yang dikatakan dosenmu ?"

"Hati kecil kita akan menuntun kita pada jodoh kita, seseorang yang memiliki frekuensi yang identik dengan kita. Dan ku rasa kau lah orangnya...seseorang yang memiliki frekuensi yang hampir identik denganku."

Aku tak bisa menahan senyumku saat mendengar jawabannya. Ku rasa aku telah membuat sebuah keputusan yang benar. Sebuah keputusan yang tak akan pernah aku sesali seumur hidupku. Keputusan untuk menerimanya sebagai pendamping hidupku. Selamanya.

***
Share: