Monday, February 28, 2011

Hujan

Hujan. Gerimis tepatnya. Yang ku lihat kini hanyalah gumpalan-gumpalan berwarna putih abu di atas langit sana. Bagiku, pemandangan langit kali ini benar-benar membuat mood ku jelek . Ah, aku benci hujan. Aku benci gerimis. Aku benci ketika langit tak lagi menampakkan kemilau warna birunya padaku. Aku benci. Semua itu, selalu mengingatkanku padanya. Ya, pada seseorang yang tidak ingin ku ingat. Pada seseorang...yang tidak seharusnya masuk ke dalam kehidupanku.

***

"Aaahhhh.... kenapa harus hujan?"kataku dengan ekspresi murung. Ku perlihatkan ekspresi ikan mas koki di wajahku, pipi digembungkan plus bibir manyun, tanda aku benar-benar tak suka hari ini.

"Bukankah hujan itu bagus? Tidakkah menurutmu hujan itu sebuah berkah?"

"Tapi tetap saja aku tidak suka hujan.."ujarku padanya sambil cemberut.

"Kenapa kau tak suka hujan ?"tanyanya padaku.

"Kenapa kau suka hujan ?"tanyaku balik padanya.

"Haha... kau selalu seperti itu. Membalikkan pertanyaan yang aku ajukan padamu. Dasar bocah.."

"Sembarangan. Usiaku sudah 17 sekarang. Lihat, kini kita seumur. Kau tak berhak menyebutku bocah."kataku sambil menjulurkan lidah ke arahnya. Ia tertawa renyah.

"Bagiku kau tetap bocah kurang kerjaan yang selalu menggangguku di waktu aku sedang membaca. Lagipula, November nanti usiaku lebih tua darimu."katanya sambil tersenyum, "Oh iya, kau belum menjawab pertanyaanku."lanjutnya.

"Yang mana ?"

"Kenapa kau tak suka hujan ?"

Aku terdiam sejenak. Mencoba merenungkan alasan mengapa aku tak suka hujan.

"Hm... kenapa ya ? Ku rasa karena hujan membuat langit jadi tidak bagus. Lihat... semua hanya berwarna putih abu. Benar-benar membuat mood ku jadi buruk."

"Siapa bilang langitnya tidak bagus ? Kau tau setelah hujan pasti ada pelangi. Tidakkah kau merasa pelangi itu sangat indah ?"

"Kau benar, tapi pelangi tak seindah langit biru bagiku.."kataku sambil tersenyum.

"Lalu... kau sendiri, kenapa kau suka hujan ?"tanyaku padanya.

Ia terdiam. Ia menerawang menatap langit cukup lama.

"Bagiku,"katanya setelah terdiam cukup lama, "melihat langit di kala hujan bagaikan melihat diriku di depan cermin. Begitu suram. Begitu dingin. Tak bersahabat. Bukankah semua itu tampak sepertiku ?"

"Tapi...dimataku, kau bukan orang seperti itu."bantahku.

"Benarkah ?"tanyanya heran, "kau orang pertama yang bilang begitu padaku. Memangnya bagaimana sosokku dimatamu ?"

"Hm... di mataku kau seperti langit biru. Begitu hangat, begitu berkilau, begitu menyenangkan. Itu jugalah alasan mengapa aku menyukai langit biru. Karena saat aku melihat langit biru, ada semacam perasaan hangat di hatiku, persis seperti sekarang, saat aku menatapmu."

Ia mengernyitkan alisnya.

"Aneh sekali.. menurutmu itu perasaan apa ?"

"Entahlah, aku sendiri juga tidak yakin. Ku rasa....aku menyukaimu."

Ia tersentak mendengar jawaban dariku. Dari ekspresi wajahnya aku tau kalau dia sangat terkejut. Hatiku berdebar kencang. Aku benar-benar malu karena sudah menyatakan perasaanku padanya.

"Kau... menyukaiku ?"tanyanya.

"Mm...ku rasa begitu. Kau sendiri..bagaimana ?"tanyaku ragu.

"Pulanglah..."katanya sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Eh? Kenapa? Kau bahkan belum menjawab pertanyaan dariku."

"Hari sudah semakin sore. Lagipula hujan sudah reda. Ku rasa sebaiknya kau pulang."katanya sambil membereskan barang-barangnya.

"Setidaknya jawab dulu pertanyaanku, baru aku pulang. Kau tidak bisa seperti ini padaku."kataku. Kenapa semua jadi begini? Ku kira dia juga...

"Kalau kau tidak mau pulang, biar aku yang pulang duluan."katanya sambil berjalan menjauhiku. Meninggalkanku disana. Sendirian. Tanpa sedikitpun kepastian keluar dari mulutnya.

***

Aku segera tersadar dari lamunanku tentang masa lalu yang kelam itu. Sial, dia benar-benar orang yang menyebalkan. Bagaimana mungkin dia bisa bersikap seperti itu padaku ? Maksudku, apa dia tidak tau seberapa besar rasa malu dan gengsi yang ku tekan hanya untuk menyatakan perasaanku padanya ?? Cih, meninggalkanku begitu saja tanpa sedikitpun memberikan kepastian untukku. Dasar, lelaki pengecut !

Terdengar suara 'klining' bel yang ku pasang di depan pintu, tanda seseorang masuk ke cafe ku.

"Maaf.. tapi cafe ini sudah....."kata-kataku terputus begitu aku melihatnya. Ya, dia. Seseorang yang telah membuatku jatuh cinta setengah mati. Seseorang yang sudah membuatku hampir gila karena rasa malu saat aku menyatakan perasaanku padanya. Seseorang yang pada hari itu juga, meninggalkanku sendirian, menyisakan sebuah lubang besar di hatiku.

"Lama tidak bertemu..."sapanya.

Aku terdiam. Ku rasakan air mata sudah menumpuk dimataku. Segera kualihkan pandanganku darinya.

"Maaf, cafe ini sudah waktunya tutup. Pulanglah... dan jangan pernah datang lagi kesini."kataku ketus.

"Ku rasa kita perlu bicara."

"Tak ada lagi yang harus dibicarakan. Pulanglah."

"Setelah sekian lama tidak bertemu, benarkah tidak ada yang mau kau bicarakan denganku?"tanyanya lembut. Sorot mata itu, ya sorot mata yang sanggup membuat diriku mabuk kepayang setiap kali aku melihatnya.

"Pulanglah. Aku sedang tidak mood berbicara denganmu."kataku sambil membereskan barang-barangku dan bersiap pergi.

"Tapi..."

"TIGA TAHUN !!!!"kataku setengah menjerit. Ku rasakan air mata mulai membanjiri pipiku. Ternyata aku sudah tak bisa lagi menahan air mataku.

"Tiga tahun kau menggantungkanku !! Setelah apa yang ku katakan padamu, kau pergi begitu saja. Meninggalkanku tanpa memberiku sedikit pun kepastian darimu. Kau pikir setelah apa yang kau lakukan padaku, aku masih mau bicara denganmu, hah ?"

"Maafkan aku... hanya saja saat itu aku butuh waktu.."

Mendengar jawabannya, aku tertawa sinis.

"Begitu ? Jadi menurutmu kau butuh waktu 3 tahun hanya untuk memberi kepastian padaku, begitu ? Kau benar-benar sinting.."

"Lalu menurutmu aku harus bagaimana??"suara tingginya kini bergema di dalam cafeku. Aku terdiam.

"Apa menurutmu, hanya dengan waktu 2 atau 3 hari sanggup membuatku benar-benar yakin bahwa aku adalah pria yang tepat untukmu ? Aku, seorang kutu buku suram yang selalu sulit bernafas setiap kali kau tak ada disisiku, apakah pantas untukmu..yang bagiku kau tampak begitu menyilaukan bagaikan sinar matahari pagi di awal musim semi ??"

Aku tersentak mendengar ucapannya. Dalam sekejap pikiranku kosong. Ia berjalan mendekat. Entah kenapa aku tak berjalan menjauh darinya Jarak kami semakin dekat sekarang.

"Aku hanya tak ingin jadi langit di kala hujan bagimu. Setidaknya aku butuh waktu, untuk memastikan pada diriku sendiri, bahwa aku cukup pantas untuk menjadi pelangi untukmu. Sekalipun tidak seindah langit biru kesukaanmu..."

"Dasar bodoh, kau tau kau selalu jadi langit biru paling indah bagiku.."kataku setengah terisak.

Ia tertawa renyah. Ia mengelus kepalaku dengan lembut.

"Dasar bocah.."katanya sambil tersenyum.

"Berisik... kau merusak momen romantis yang ada."

***
Share:

Saturday, February 26, 2011

BISIKAN LANGIT BIRU

Dimanakah kan ku temukan sebuah jawaban…

Akankah di padang sahara nan gersang

Ataukah di padang rumput yang damai

Di pegunungan yang dipenuhi lembah sempit nan curam

Ataukah di pedesaan yang hangat akan kasih sayang

Di pasar yang ramai akan orang berduit dan ibu-ibu bawel

Ataukah di pekuburan sunyi tempat peristirahatan nan nyaman


Kemanakah kaki ini harus melangkah...

Ke arah timur yang dipenuhi dengan padang rumput nan luas

Atau ke barat tempat para penghuni hutan bersemayam

Atau mungkin ke selatan dimana padang salju nan luas menanti

Ataukah ke Utara, tempat dimana pulau dengan pasir kuning berada


Hei dengarlah..

Tidakkah kau mendengar nyanyian surga dari atas sana

Ya.. arahnya dari sana

Tidakkah kau mendengar jutaan malaikat menyanyikannya untukmu

Membisikkanmu berjuta jawaban yang kau tunggu

Pejamkan matamu dan kau akan dengar

Suara yang kau nanti dari dulu

Bisikan langit biru

Share:

Friday, February 25, 2011

Makhluk Indah.. :)

"Pernahkah kau merasa disaat kau melihat seseorang dunia seakan berhenti berputar dan waktu seakan berhenti untuk sesaat ??"
Ya, aku pernah mengalaminya.

Dan hal itu ku alami setiap kali aku bertemu dengannya.

Aku tak sengaja bertemu - lebih tepatnya melihatnya - beberapa hari yang lalu. Tepat di lobby depan kampusku. Waktu itu aku sedang disibukkan oleh berbagai kegiatan jurusan, pergi kesana pergi kesini bagaikan orang linglung yang tak tau arah. Pandangan mataku tak pernah lepas dari layar telepon genggamku, berusaha mengirimkan pesan dan menghubungi nomor-nomor orang penting yang harus ku temui. Untuk sesaat ku putuskan untuk melihat ke arah depan sejenak, mencoba mencari arah yang tepat menuju gerbang luar kampus sampai akhirnya.....

Wusss....

Bagaikan adegan romantis dalam film-film opera sabun, dia berjalan menuju ke arahku. Sebuah karya cipta maha agung yang diciptakan Tuhanku baru saja muncul di hadapanku. Ia berjalan lurus ke arahku, tanpa sedikit pun menghiraukanku yang sejak melihatnya mematung tak bergerak bagaikan tersengat arus listrik maha dahsyat hingga aku tak bisa menggerakkan seujung jari pun.

Mataku terbelalak tak berkedip

Nafasku tertahan

Lidahku kelu

Jantungku berdetak ribuan kali lebih cepat dari biasanya

Sejenak aku merasa waktu seakan melambat...melambat...dan kemudian berhenti

Bumi seakan berhenti berputar

Bagiku, teori konyol Copernicus yang dipercayai jutaan orang selama berabad-abad sudah tak berlaku lagi padaku. Karena pada detik itu pula aku tau..

Dialah pusat tata suryaku saat ini. Dan hidupku kini berevolusi mengitarinya.

Wusss....

Bagaikan angin yang berhembus tanpa suara, ia berjalan melewatiku. Menaiki tangga menuju lantai atas tepat disampingku. Dengan refleks ku dongakkan kepalaku ke atas, mencari sosoknya yang kini mulai berjalan menjauh. Semakin dia menjauh, semakin mudah bagiku bernafas. Semakin dia menjauh, detak jantungku kian menjadi normal. Aku tersadar dari lamunan magis yang merasuki pikiranku untuk sesaat.

Tapi...sejak saat itu sebuah pikiran aneh mulai mengusikku. Berulang-ulang kali menanyakan hal yang sama seakan memastikan sesuatu.

"Mungkinkah ini yang dinamakan cinta?"
Share:

Thursday, February 24, 2011

inspired by chiaki.. :D

Aku terdiam. Ku lirik jam tanganku. Pukul 10 lebih 42 menit. Ini tandanya aku sudah menunggunya lebih dari 30 menit. Kekesalanku kini sudah mencapai ubun-ubun. Tak berapa lama ku lihat ada seseorang pria berlari menuju ke arahku. Aku memicingkan mata. Ya, itu dia. Akhirnyaa...

"Maaf aku terlambat. Sudah lama ?"tanyanya sambil terengah-engah.

Aku diam. Tak menjawab pertanyaannya.

"Hey, kau marah ya ?"tanyanya sambil mengambil posisi duduk tepat di sebelahku. Aku tetap terdiam. Ku tundukkan kepalaku, ku mainkan jariku tak menentu.

"Ayolah.. jangan marah begitu. Aku hanya..."dia melirik jam tangan pemberian dariku tahun lalu, "telat 42 menit lebih 45 detik."lanjutnya, "Maafkan aku..."

Aku tetap terdiam. Sama sekali tak ingin merespon apapun yang ia katakan. Kepalaku tetap tertunduk.

"Kau tak mau memaafkanku ?"katanya sambil berusaha menatap wajahku, "aku sungguh menyesal."

Kali ini aku menatap wajahnya. Aku melihat ekspresi penyesalan yang amat sangat di wajahnya. Hatiku luluh. Dalam waktu sedetik kemarahan dan kekesalanku mencair. Bagaimana mungkin aku bisa marah pada seseorang dengan wajah malaikat sepertinya ? Ku lemparkan sebuah senyuman padanya. Pertanda bahwa aku sama sekali tak marah padanya.

"Aaah... senang rasanya melihat senyummu lagi..."katanya riang. Senyumnya melebar. Persis seperti anak kecil yang diberi permen gula-gula kapas kesukaannya.

"Kau...jadi pergi minggu ini ?"tanyaku berusaha memulai suatu obrolan.

"Hmm.. ku rasa ya. Semuanya sudah beres. Aku hanya tinggal menunggu hari keberangkatan saja."

Aku terdiam. Hening kini menyelimuti kami berdua.

"Haruskah kau pergi ?"tanyaku, memecah keheningan yang ada.

Ia menoleh, kemudian menghela nafas.

"Bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya ?"katanya lembut.

"Aku tau... hanya saja..."aku menghela nafas. Semua ini masih terasa berat bagiku.

"Sebegitu pentingnya kah mimpi itu bagimu ?"tanyaku lagi.

Lama ia terdiam.

"Ya."jawabnya pendek.

"Lebih penting dariku ?"tanyaku. Kini aku berani menatap wajahnya.

"Kau tau, kau yang terpenting bagiku."jawabnya.

"Kalau begitu jangan pergi. Tetaplah disini. Di sisiku."suaraku bergetar menahan tangis.

Kali ini ia menatap wajahku. Ekpresinya seolah ingin mengatakan bahwa ia pun tidak menginginkan hal seperti ini. Hanya saja...

"Aku tidak bisa. Kau tau itu."

Mendengar ucapannya air mataku menetes. Aku menundukan kepalaku. Ku coba menahan tangisku, tapi tak berhasil. Semua air mata ini keluar begitu saja tanpa bisa ku bendung.

"Jangan menangis.."katanya sambil mengusap pipiku lembut. "Kau tau Paris-Jakarta tidak sejauh yang kau bayangkan."

"Tapi Paris-Jakarta juga tidak sedekat yang kau bayangkan."kataku disela isak tangis.

Ia mengusap-usap kepalaku dengan lembut. Berharap itu semua bisa menenangkan hatiku.

"Aku harus pergi. Kau tau itu. Kau juga tau betapa pentingnya hal ini bagiku. Penting untuk membuktikan semuanya. Membuktikan padaku, padamu, dan pada ayahmu."

Aku tersenyum saat ia menyinggung soal ayahku. Teringat semua kejadian yang terjadi pada malam itu. Ya, malam pada saat ia datang melamarku di hadapan ayahku.

"Aku harus membuktikan padanya, bahwa dengan musik, aku bisa meraih kesuksesan. Dengan bakat satu-satunya yang ku miliki ini, aku bisa membahagiakanmu. Tentu saja dalam versi ayahmu."

"Kau tau aku sudah sangat bahagia asalkan kau tetap di sisiku."kataku sambil tersenyum.

"Aku tau itu. Tapi ayahmu tidak."

Aku tertawa renyah. Ia benar. Bagi ayahku, "membahagiakanku" berarti sanggup mencukupi kebutuhanku secara materiil. Tak peduli bahwa bagiku, "membahagiakanku" berarti dia hidup disisiku selamanya. Aku teringat akan perdebatan alot antara dia dengan ayahku. Tentang bagaimana ia meyakinkan ayahku bahwa dengan bermusik ia bisa menghidupiku dengan layak. Dengan bermusik, ia bisa membahagiakanku. Sedangkan ayah tetap tidak bergeming dengan pendiriannya bahwa dengan bermusik, masa depannya akan suram. Tidak bergengsi, Tidak memiliki status apapun di mata masyarakat.

"Kau pasti pulang, kan ?"tanyaku padanya.

"Tentu saja. Apa kau mau aku pulang setiap minggu dan menghabiskan akhir pekanku bersamamu ?"

"Kedengarannya akan sangat menyenangkan. Aku mau kalau kau tak keberatan."

"Aku sama sekali tak keberatan. Hanya saja... mungkin dompetku akan melakukan aksi demonstrasi kalau sampai aku melakukannya."katanya sambil tertawa. Aku pun tertawa mendengarnya.

"Berjanjilah satu hal padaku."kataku.

"Apa ?"

"Jangan kau berikan hatimu pada yang lain. Hatimu, cukup menjadi milikku saja."

Ia tersenyum.

"Kau takut aku meninggalkanmu ?"senyum tengil menghiasi wajahnya.

"Yahhh.. ku dengar wanita disana cantik-cantik. Rambutnya pun pirang. Selera umum laki laki."kataku.

"Kau benar. Mereka tinggi dan putih. Mereka juga cantik. Ya.. kau benar."katanya. Mendengar ucapannya hatiku mulai panas. Jengkel sekali mendengar ucapannya.

"Tapi tidak akan ada yang sepertimu."lanjutnya.

Aku menatapnya bingung.

"Kau tau apa yang ku suka darimu ?"tanyanya.

Aku menggeleng.

"Kalau wajahmu memerah, entah karena tersipu atau malu, maka yang pertama kali memerah adalah bagian ini.."katanya sambil menyentuh halus ujung hidungku. Saat itu aku merasa wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Segera ku alihkan pandanganku ke arah lain. Wajahku memanas.

"Tuh kan.. apa ku bilang..."katanya sambil tertawa renyah, "Hanya kau yang bersikap seperti itu.. dan setiap kali kau melakukannya.. aku semakin tergila-gila padamu"

Aku mulai salah tingkah.

"Bagaimana kalau kau menemukan wanita lain yang juga seperti itu ? Apa kau akan menyukainya ?"

"Hmm... tentu saja tidak. Banyak hal-tepatnya semua hal yang ada padamu membuatku tergila-gila padamu. Kalau sampai ada wanita lain yang memiliki semua hal yang ada pada dirimu, munkin aku akan mempertimbangkannya. Sekalipun aku tau itu mustahil."

Aku semakin salah tingkah. Sial, dia memang paling ahli membuatku tak berkutik seperti ini.

"Jadi.. kau sangat menyukaiku ?"tanyaku sambil malu-malu.

"Aku menginginkanmu lebih dari apapun."jawabnya sambil menatap tajam mataku.

Aku tersenyum.

"Berjanjilah satu hal padaku."

"Apa ?"tanyanya.

"Jangan pernah meninggalkanku."

"Tidak akan."jawabnya tegas.

"Selamanya ?"

"Selamanya."

***
Share: