***
"Aaahhhh.... kenapa harus hujan?"kataku dengan ekspresi murung. Ku perlihatkan ekspresi ikan mas koki di wajahku, pipi digembungkan plus bibir manyun, tanda aku benar-benar tak suka hari ini.
"Bukankah hujan itu bagus? Tidakkah menurutmu hujan itu sebuah berkah?"
"Tapi tetap saja aku tidak suka hujan.."ujarku padanya sambil cemberut.
"Kenapa kau tak suka hujan ?"tanyanya padaku.
"Kenapa kau suka hujan ?"tanyaku balik padanya.
"Haha... kau selalu seperti itu. Membalikkan pertanyaan yang aku ajukan padamu. Dasar bocah.."
"Sembarangan. Usiaku sudah 17 sekarang. Lihat, kini kita seumur. Kau tak berhak menyebutku bocah."kataku sambil menjulurkan lidah ke arahnya. Ia tertawa renyah.
"Bagiku kau tetap bocah kurang kerjaan yang selalu menggangguku di waktu aku sedang membaca. Lagipula, November nanti usiaku lebih tua darimu."katanya sambil tersenyum, "Oh iya, kau belum menjawab pertanyaanku."lanjutnya.
"Yang mana ?"
"Kenapa kau tak suka hujan ?"
Aku terdiam sejenak. Mencoba merenungkan alasan mengapa aku tak suka hujan.
"Hm... kenapa ya ? Ku rasa karena hujan membuat langit jadi tidak bagus. Lihat... semua hanya berwarna putih abu. Benar-benar membuat mood ku jadi buruk."
"Siapa bilang langitnya tidak bagus ? Kau tau setelah hujan pasti ada pelangi. Tidakkah kau merasa pelangi itu sangat indah ?"
"Kau benar, tapi pelangi tak seindah langit biru bagiku.."kataku sambil tersenyum.
"Lalu... kau sendiri, kenapa kau suka hujan ?"tanyaku padanya.
Ia terdiam. Ia menerawang menatap langit cukup lama.
"Bagiku,"katanya setelah terdiam cukup lama, "melihat langit di kala hujan bagaikan melihat diriku di depan cermin. Begitu suram. Begitu dingin. Tak bersahabat. Bukankah semua itu tampak sepertiku ?"
"Tapi...dimataku, kau bukan orang seperti itu."bantahku.
"Benarkah ?"tanyanya heran, "kau orang pertama yang bilang begitu padaku. Memangnya bagaimana sosokku dimatamu ?"
"Hm... di mataku kau seperti langit biru. Begitu hangat, begitu berkilau, begitu menyenangkan. Itu jugalah alasan mengapa aku menyukai langit biru. Karena saat aku melihat langit biru, ada semacam perasaan hangat di hatiku, persis seperti sekarang, saat aku menatapmu."
Ia mengernyitkan alisnya.
"Aneh sekali.. menurutmu itu perasaan apa ?"
"Entahlah, aku sendiri juga tidak yakin. Ku rasa....aku menyukaimu."
Ia tersentak mendengar jawaban dariku. Dari ekspresi wajahnya aku tau kalau dia sangat terkejut. Hatiku berdebar kencang. Aku benar-benar malu karena sudah menyatakan perasaanku padanya.
"Kau... menyukaiku ?"tanyanya.
"Mm...ku rasa begitu. Kau sendiri..bagaimana ?"tanyaku ragu.
"Pulanglah..."katanya sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Eh? Kenapa? Kau bahkan belum menjawab pertanyaan dariku."
"Hari sudah semakin sore. Lagipula hujan sudah reda. Ku rasa sebaiknya kau pulang."katanya sambil membereskan barang-barangnya.
"Setidaknya jawab dulu pertanyaanku, baru aku pulang. Kau tidak bisa seperti ini padaku."kataku. Kenapa semua jadi begini? Ku kira dia juga...
"Kalau kau tidak mau pulang, biar aku yang pulang duluan."katanya sambil berjalan menjauhiku. Meninggalkanku disana. Sendirian. Tanpa sedikitpun kepastian keluar dari mulutnya.
***
Aku segera tersadar dari lamunanku tentang masa lalu yang kelam itu. Sial, dia benar-benar orang yang menyebalkan. Bagaimana mungkin dia bisa bersikap seperti itu padaku ? Maksudku, apa dia tidak tau seberapa besar rasa malu dan gengsi yang ku tekan hanya untuk menyatakan perasaanku padanya ?? Cih, meninggalkanku begitu saja tanpa sedikitpun memberikan kepastian untukku. Dasar, lelaki pengecut !
Terdengar suara 'klining' bel yang ku pasang di depan pintu, tanda seseorang masuk ke cafe ku.
"Maaf.. tapi cafe ini sudah....."kata-kataku terputus begitu aku melihatnya. Ya, dia. Seseorang yang telah membuatku jatuh cinta setengah mati. Seseorang yang sudah membuatku hampir gila karena rasa malu saat aku menyatakan perasaanku padanya. Seseorang yang pada hari itu juga, meninggalkanku sendirian, menyisakan sebuah lubang besar di hatiku.
"Lama tidak bertemu..."sapanya.
Aku terdiam. Ku rasakan air mata sudah menumpuk dimataku. Segera kualihkan pandanganku darinya.
"Maaf, cafe ini sudah waktunya tutup. Pulanglah... dan jangan pernah datang lagi kesini."kataku ketus.
"Ku rasa kita perlu bicara."
"Tak ada lagi yang harus dibicarakan. Pulanglah."
"Setelah sekian lama tidak bertemu, benarkah tidak ada yang mau kau bicarakan denganku?"tanyanya lembut. Sorot mata itu, ya sorot mata yang sanggup membuat diriku mabuk kepayang setiap kali aku melihatnya.
"Pulanglah. Aku sedang tidak mood berbicara denganmu."kataku sambil membereskan barang-barangku dan bersiap pergi.
"Tapi..."
"TIGA TAHUN !!!!"kataku setengah menjerit. Ku rasakan air mata mulai membanjiri pipiku. Ternyata aku sudah tak bisa lagi menahan air mataku.
"Tiga tahun kau menggantungkanku !! Setelah apa yang ku katakan padamu, kau pergi begitu saja. Meninggalkanku tanpa memberiku sedikit pun kepastian darimu. Kau pikir setelah apa yang kau lakukan padaku, aku masih mau bicara denganmu, hah ?"
"Maafkan aku... hanya saja saat itu aku butuh waktu.."
Mendengar jawabannya, aku tertawa sinis.
"Begitu ? Jadi menurutmu kau butuh waktu 3 tahun hanya untuk memberi kepastian padaku, begitu ? Kau benar-benar sinting.."
"Lalu menurutmu aku harus bagaimana??"suara tingginya kini bergema di dalam cafeku. Aku terdiam.
"Apa menurutmu, hanya dengan waktu 2 atau 3 hari sanggup membuatku benar-benar yakin bahwa aku adalah pria yang tepat untukmu ? Aku, seorang kutu buku suram yang selalu sulit bernafas setiap kali kau tak ada disisiku, apakah pantas untukmu..yang bagiku kau tampak begitu menyilaukan bagaikan sinar matahari pagi di awal musim semi ??"
Aku tersentak mendengar ucapannya. Dalam sekejap pikiranku kosong. Ia berjalan mendekat. Entah kenapa aku tak berjalan menjauh darinya Jarak kami semakin dekat sekarang.
"Aku hanya tak ingin jadi langit di kala hujan bagimu. Setidaknya aku butuh waktu, untuk memastikan pada diriku sendiri, bahwa aku cukup pantas untuk menjadi pelangi untukmu. Sekalipun tidak seindah langit biru kesukaanmu..."
"Dasar bodoh, kau tau kau selalu jadi langit biru paling indah bagiku.."kataku setengah terisak.
Ia tertawa renyah. Ia mengelus kepalaku dengan lembut.
"Dasar bocah.."katanya sambil tersenyum.
"Berisik... kau merusak momen romantis yang ada."
***