Wednesday, November 7, 2012

I see what you did there.. mister

Mungkin saya memang payah.
Atau saya memang terlahir dengan watak jahat yang sangat sulit untuk dirubah.

Lemah, tidak berdaya, dengki,  
pathetic!

Apa yang kau katakan seperti mantra suci. 
Sebuah kebenaran mutlak yang tak bisa untuk tidak saya percayai.
Apa yang kau katakan seperti sihir imperius.
Membuat saya tidak bisa menolak untuk menurutinya.
Apa yang kau lakukan seperti sebuah hal yang sejak lama saya incar. 
Tidak bisa untuk tidak menirunya.

Lambat tapi pasti. Semua terlihat begitu jelas.
Untuk kesekian kalinya,
saya terlalu bergantung pada seseorang yang tidak perlu.
(mohon dicatat)

Terkadang saya merasa ketakutan setengah mati hanya karena memikirkan bagaimana saya akan terus kehilangan jati diri jika saya terus menjadikanmu sebagai panutan.

Semua ini, hanya menambah cenat-cenut yang mulai menjalar hingga ke akar.
Share:

Friday, October 19, 2012

Siberian husky, huh?

Sampai sekarang saya masih tidak bisa mengerti dengan tingkah salah seorang teman yang terlihat tejebak dalam love-hate-love relationship yang sepertinya tiada akhir. 
 I mean, don't you feel tired doing this? 
He's jealous with you, 
You're jealous with him back,
 arguing, 
mocking, 
missing, 
flirting, 
having quarrel,  
dan terus begitu sampai kiamat. 
Don't you two feel tired, huh?

Tapi yah, when you're falling in love, sometimes logic does not even matter anymore.

Saya jadi geli sendiri kalau ingat chat diam-diam yang kami lakukan di laboratorium komputer tadi siang. Tentang bagaimana dia begitu menyukainya, about how she helplessly fall as if she's falling to abyss and cannot go back.

"The more I know him, makes me understand how alone he is, but not in forever alone mode. It's like when you see siberian husky and you know he's hungry, you can't just let him and fed him instead."

Yah.. saya memang bukan pengutip yang hebat. Bahkan saya adalah pengutip yang buruk. Saya tidak ingat dia mengatakannya seperti yang saya kutip diatas, tapi intinya:

She loves him, more than I expected, in a very cute way.. X3 
(Oh beb..)

Perkataan teman saya tadi, mau tidak mau menarik saya kembali ke titik nol. Ke sebuah masa dimana tak seharusnya saya kunjungi lagi.
Masa lalu.
(somebody just kill me please)

Saya jadi teringat sewaktu hari ke-empat saya mulai masuk sekolah.
Kau disana, duduk dengan sikap defensif, seolah mengisyaratkan tidak ada seorang pun yang berhak untuk memasuki zona nyamanmu.
Berbicara dengan penuh rasa hormat dan (sedikit) hawa arogan yang menebar dari kharismamu, membuatmu begitu disegani dan tak ada yang berani mendekati.
Sarkastik, caramu menanggapi orang disekitarmu hingga terkadang itu sedikit menyakitkan tapi memang itulah kenyataannya.

Dan entah setan apa yang merasuki,
Bagiku, semua hanyalah tameng
Sikapmu yang defensif
Sarkastik
Semua tak lebih dari sikap defensif anak kecil yang begitu tak ingin disakiti.

Apa salahnya berteman?
Apa salahnya menyandarkan sedikit tubuhmu di pundak orang lain?
Manusiawi.

Siberian husky, huh?
Ya, mungkin.
Siberian husky warna biru abu.

Saya selalu berpikir, bahwa saya terlalu takut untuk meninggalkanmu sendiri
Membiarkanmu sendiri lagi setelah sekian lama
Membuatmu menjadi tertutup dan defensif lagi
Tapi, yang sebenernya terjadi adalah
Mungkin, saya terlalu takut untuk keluar dari masa lalu
Atau mungkin saya terlalu takut untuk ditinggal sendiri dan kembali menjadi sepi
Semua alasan yang selama ini beredar hanyalah sebuah excuse
Pembenaran bahwa saya tidak bergantung padamu
Atau setidaknya, kita bergantung satu sama lain.
We're friends, aren't we?


Oke, cukup.
Bau masa lalu ini sudah begitu menusuk hidung.
 Ya, kan?
Share:

Monday, October 1, 2012

Ketika kau galau, berbagilah...

Dan disinilah saya, bersama beberapa rekan, terjebak di sebuah ruangan tak lebih dari 3 x 4 meter ditengah keremangan senja yang kini mulai menggelap.

Tidak, bukanlah training super awesome yang membuat hari ini begitu bermakna. Bukan pula karena kini saya mulai memahami arti dari segala singkatan OGXDRPTHXCVBD dan segala macamnya. Juga bukan karena pertemuan yang tidak disengaja itu. Tidak, tidak sama sekali. Yang membuat hari ini begitu pantas dan berharga untuk dimaknai tidak lebih karena waktu 30 menit yang saya luangkan untuk berbagi. Berbagi bersama rekan, ya seperti saat ini!


Ada kalanya, kita jatuh sejatuh-jatuhnya hingga ke suatu titik dimana kau merasa begitu terpuruk. Dan itulah yang saya alami beberapa hari ini. Saya merasa begitu terpuruk, hingga saya sempat merasa jijik dengan diri saya sendiri. Marah, benci, angkuh, dengki, iri, semua membaur menjadi satu, menggema dalam rongga jiwa hingga menebar aroma busuk disetiap langkah yang saya bawa. Takut? Jelas. Putus asa? Kau tak akan pernah bisa membayangkannya. Malu, sangat. Tapi apa dikata? Meski dikuliti pun, saya tetaplah seseorang yang menjijikan itu.

"Karakter itu seperti topeng, dimanapun kamu berada, topeng itu akan berubah. Dan itu tidak apa-apa.."

Sebuah quotes yang terus menggema di telinga saya sejak kemarin. Dan begitu mendengarnya, seketika saya merasa begitu normal. So ordinary. Not an aliens, at last.

Beberapa waktu ini, saya merasa begitu berbeda, Ibarat, hidup tanpa jiwa. Hampa. Saya bukanlah saya, seperti yang seharusnya. Saya hanyalah raga kopong yang menjalani rutinitas seperti apa adanya. 'Saya' yang sebenarnya tidaklah hidup selama beberapa hari ini. 'Saya' mati. Terkubur dalam senyum palsu dan poker face yang selalu terpampang manis di wajah saya. 'Saya' telah hilang, menjadi abu. Butiran debu.

Dengan raga kopong, saya bisa menjadi apa saja. Tersenyum dikala miris, tertawa dikala sedih, terkejut tanpa ada rasa heran, terpukau tanpa sedikitpun melewatkan rasa bosan. Saya pun bisa jadi siapa saja yang saya mau- ralat, yang lingkungan saya butuhkan. Ya, saya bisa. Tapi saya tidak mau itu. Saya ingin lari. Lari! Berlari kencang menuju arah angin. Terbebas dari segala kutukan yang menjelma. Saya hanya ingin jadi diri saya sendiri!

Tapi, seburuk-buruknya tempatmu terjatuh, Tuhan tak akan pernah meninggalkanmu. Dan saya percaya itu, karena saya mengalaminya.

Di tengah keremangan senja, saya tersadar, bahwa 'dirimu' hanya bisa ditentukan oleh dirimu sendiri.  Menjadi banyak orang, bukanlah sesuatu yang buruk. Menjadi banyak orang menandakan bahwa dirimu sadar akan posisimu, sadar akan bagaimana kau harus bersikap. Menjadi banyak orang, tak berarti kau kehilangan dirimu. Menjadi banyak orang menunjukan caramu mendefinisikan dirimu di lingkunganmu. Tentang bagaimana kau ada, tentang bagaimana kau bersikap, dan tentang bagaimana kau akan mewarnai lingkunganmu, bukan diwarnai.

Saya bukanlah muslimah sempurna. Saya hanya seorang muslim yang berjuang ditengah gerusan zaman. Saya berikhtiar. Dan akan begitu selamanya.

Hidup, seperti yang kita tahu,

Life, as we know it.
Share:

Wednesday, September 26, 2012

Menginjak Usia 20

Dan dalam sekejap, ketakutan kini mulai menguasai diri...

Apa yang orang katakan ternyata memang benar, tentang apa itu kegalauan badai saat kau akan beranjak ke usia 20 itu benar adanya. Saya percaya, karena saya mengalaminya.

Sebuah ketakutan terbesar dalam hidup kini mulai merayapi jiwa.
Tentang bagaimana kau memikirkan masa depanmu yang entah akan seperti apa jadinya..
Tentang bagaimana kau berpikir bahwa betapa sia-sianya hidupmu selama ini karena kau tak cukup memiliki keberanian untuk membuat hidupmu lebih 'fluktuatif'..
Tentang bagaimana kau mulai mengalami krisis kepercayaan diri dan mulai mempertanyakan apakah yang kau lakukan selama ini adalah BENAR yang kau inginkan dalam hidup..
Atau tentang bagaimana segala hal di sekelilingmu tiba-tiba bergerak dengan begitu cepat dan kau merasa lelah untuk mengikutinya hingga kau akhirnya hanya terombang-ambing didalamnya..
Atau mungkin tentang bagaimana semua virus merah jambu yang menghinggapimu sudah mengakar kedalam tubuhmu dan juga jiwamu.

Saya tidak mengira, betapa menjadi dewasa bisa begitu menyeramkan seperti ini.Ketika pemikiran kita sudah merasa siap untuk memikirkan segalanya, sampai kau seperti tak memiliki filter apapun dan rasanya gelombang pertanyaan itu membludak mengisi kepalamu hingga membuatnya hampir pecah. Yang tersisa hanyalah sebuah ketakutan, kekhawatiran, ketidakberdayaan, keraguan, dan kesepian. Menyisakan sebuah tanda tanya besar..

Apa saja yang kau lakukan selama ini hingga kau merasa dirimu begitu besar? 

Setetes air di laut, sebongkah batu dipegunungan, sebutir pasir di gurun. Butiran debu.

Apa saja yang telah kau lakukan selama ini hingga kau merasa dirimu begitu besar? 
Kau bukan siapa-siapa.
Period.
Share:

Saturday, September 8, 2012

Untitled

Satu persatu catatan tentangmu mulai menghilang. Dan aku bersyukur akan hal itu. Terima kasih.

Ah, aku tahu hari ini pasti akan datang!
Share:

Friday, August 10, 2012

Reuni-

Intinya, saya hanya tidak ingin datang.
Titik.

Entah karenamu, atau karena memang makanan rumah jauh lebih enak, atau saya terkena Bandung fever, atau mungkin juga karena PMS, saya tidak peduli dan saya pun tidak ingin tahu.

Terkadang apa yang telintas dalam otakmu dan hatimu memang sulit untuk dimengerti. Tapi ketika rasa enggan itu timbul dan tumbuh hingga tiada terkira, itu tandanya hanya ada satu hal yang bisa kau lakukan.

Tersenyumlah!

Poker face kalau perlu.

**
Share:

Friday, July 20, 2012

Happy birthday to you!

So there's once this man... unexpectedly get inside of my heart.

No, he's not a perfect man. I never believe in that fairy thing. For me, perfection does never exist. He was not perfect. He's just a man who was perfectly fit with my ideal man. Period.

He is taller than me. Charming, has a good looking, smart, sweet, wise, romantic, you name it. And one little thing that should be underlined, he's a physicist. A good looking physicist. Can you imagine that? I really can't believe this creature is existed in my era. No wonder why I could easily fall for this man.

See, as I said before, nothing is perfect in this world. And so my story. Yes, he is a nice guy. Yes, he is someone that is older than me. No, he is not a nerd. No, he is not doing plastic surgery.

He just has a wife.

And soon, two children.

*Ba Dum Ts*

At first, I thought that I'd be broken heart, You know..that scene when you found yourself crying like a baby and the tissues were everywhere in your room and felt like you're not gonna stand seeing him with his wife and all those stuffs. Yet, it never happened. Once again, It never happened. I felt nothing.

-____________-

So what this feeling was all about?

Why should I have interest in him if it is not 'you-know-what-I-mean'?

Why did I cry in front of my friend just because he's just about to go overseas and I thought it would mean forever?

Somebody please just tell me what it was!


p.s. Happy birthday to you anyway. Best wishes for you as always sensei :))
Share: