Monday, March 25, 2013

Post #57

Entah sudah kali ke berapa saya meminta dalam hidup. Entah juga sudah kali berapa pikiran ini luput dari-Nya. Tapi percayalah, Tuhan tak pernah tidur! Dan tetap mendengar doamu 
Sekalipun itu tak pernah terucap.

Ketika manusia berencana, maka Tuhan yang akan memutuskan.
Ketika manusia meminta, maka Tuhan yang akan mengabulkan.
Ketika manusia mulai menyimpang, maka Tuhan akan meluruskan.
Karena Tuhan lebih mengetahui dirimu
Jauh lebih baik dari siapapun
Bahkan dirimu sendiri

Manusia meminta apa yang diinginkan
Dan Tuhan akan memberikan apa yang kau butuhkan
Tak peduli betapapun kau tak mengerti di permulaan
Semua sudah terencana demi hasil akhir yang lebih baik
Sesederhana itu

Dan ketika aku mendapatkan semua yang aku punya
Maka itulah hal yang paling ku butuhkan
Dan jika aku belum mendapat jawaban atas segala yang aku minta
Maka mungkin hal itu tidaklah aku perlukan
Dan ini termasuk tentang dirimu

**
Share:

Friday, March 22, 2013

Thursday, March 21, 2013

Terbaik?

Bukan berarti kau harus selalu menjadi yang terbaik, tapi berikanlah yang terbaik pada setiap usahamu

Baiklah, mari pikirkan sejenak kata-kata ini. Sebuah kalimat singkat yang baru saja terucap oleh salah satu asprak saya di mata kuliah yang paling membuat kepala saya cenat-cenut. Sebuah kalimat, yang meski singkat, tapi bagi saya memiliki makna yang dalam.

Mari sama-sama kita cermati.

"Bukan berarti kau harus selalu menjadi yang terbaik, tapi berikanlah yang terbaik pada setiap usahamu"

Baiklah.. saya memang bukanlah filsuf yang pandai menelaah kata. Bukan pula penyair dan pujangga yang sanggup memberi tafsir pada setiap kalimat yang ada. Saya hanyalah seorang manusia akhir zaman yang sedang berusaha memetakan kehidupan saya yang kini mulai semrawut. Seseorang yang dengan sangat tidak bertanggungjawab melalaikan tugasnya hanya demi menelaah kalimat ini dengan begitu seksama.

"..., tapi berikanlah yang terbaik pada setiap usahamu."

Manusia - tidak, motivator lebih tepatnya, selalu bilang bahwa potensi umat manusia tidak memiliki batas. Bagaikan garis asimtot yang tak memiliki akhir, umat manusia akan berkembang dan bergerak sesuai dengan pengalaman yang pernah dicicipinya. Seperti layaknya jagat raya yang mengembang menuju infinity, potensi umat manusia tampak begitu abstrak hingga tak bisa dijelaskan lagi.

"... berikanlah yang terbaik pada setiap usahamu."
Well, kalau boleh saya tanya, indikator apa yang kau gunakan saat kau bilang, "oke, ini memang sudah usaha terbaik saya"? Standar apa yang kau gunakan untuk menyatakan secara gamblang bahwa "ya, kau memang sudah berusaha sebaik yang kau bisa"? Lupakah kau dengan pembicaraan para motivator bahwa potensi manusia tidak terbatas? Jika potensinya tidak terbatas, maka usahamu pun pasti tidak terbatas karena kau tidak akan pernah menemukan poin terbaik dalam hidupmu. Poin terbaik dalam hidupmu berada pada titik tanpa batas. Jadi bagaimana caranya kau bisa menyatakan secara gamblang bahwa itu adalah usaha terbaikmu?

"aku sudah berusaha sebaik yang aku bisa."
 Percayalah, semua itu hanya sebuah omong kosong yang bisa diucap manusia ketika mereka tak sanggup lagi berkilah.

Jadi, ketika kau merasa gagal akan dirimu, merasa buruk akan usahamu, alasan apalagi yang akan kau utarakan?




Share:

Sunday, March 17, 2013

Post #54

Life gives you surprise, regardless you're ready for it or not..


Haha, sampe speechless gini...

Kalau saya coba flashback ke masa lalu, entah rasanya segala sesuatu benar-benar begitu benar. Sesuai dengan plot. Like..everything is put right on the track. 

Sekarang?

Haha.. saya juga sendiri benar-benar tidak tahu saya sedang dimana.

Entah saya yang begitu tidak peduli, atau memang beberapa waktu ini sang alien benar-benar telah berkuasa hingga mengambil alih diri. Tapi satu hal yang jelas, hidup saya...saya benar-benar tidak tahu lagi. Dan saya merasa insecure akan hal itu.

Ketika kau menyadari betapa menghargai diri sendiri bisa sesulit ini.
Ketika kau menyadari mengakui dirimu sendiri bisa jadi serumit ini.
Ketika kau menyadari bahwa bersikap jujur pada dirimu sendiri tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan.

Ketika untuk pertama kalinya, kau mengakui pada dunia betapa kau telah begitu jauh kehilangan dirimu sendiri, dalam arti yang sebenarnya.

Karena segalanya tidak semudah itu.

Apa yang ku mau, yang ku punya, yang seharusnya ku dapat, yang tak berhak ku dapat,
Apa yang salah, apa yang benar...
Aku tidak tahu.

Aku benar-benar tidak tahu.

Tidak, kau tahu sejak lama bukan, Silmi?
Semua ada di ujung lidahmu, memaksa keluar, dan membuatmu mengutarakan apa yang sekarang kau pikirkan,
Hanya satu. Kau tak punya cukup keberanian untuk itu.

Beranilah.. seberani itu sendiri.
Share: