I know I miss the past too much.
Oke, patut di garis bawahi, ini bukan tentang sesuatu berwujud virus merah jambu dan berbagai kisah konyol yang ku alami di masa lalu. Atau bahkan tentang bagaimana beberapa bagian dari kisah merah jambu itu mengalun lembut menembus relung pikiranku. Tidak, ini bukan tentang itu.
Hanya saja...
Banyak hal yang sudah terjadi di masa lalu, entah itu senang dan patut dikubur hidup-hidup. Intinya, sudah terlalu banyak yang terlewati. Terlalu banyak.
Jadi, setelah melakukan hal random dan derping around di facebook, betapa saya sekarang menyadari betapa banyak berkah dan waktu yang telah terlewat. Tentang bagaimana saya terseok menjalani kehidupan tapi begitu menyukainya. Tentang bagaimana saya menjalani semua dengan penuh keyakinan dan harapan, disertai tameng keberanian. Tentang bagaimana saya sanggup tertawa lepas akan semua cobaan dan ujian bersama dengan teman dekat dan teman paling dekat. Tentang bagaimana saya begitu yakin, bahwa hidup saya tak bisa jauh lebih menyenangkan dan itu membuat saya berani menatap masa depan.
Ada yang hilang, sebuah keyakinan.
Keyakinan bukanlah hanya tentang iman, tapi tentang bagaimana kau mempercayai apa yang kau lakukan dan mengetahui dengan detail apa yang akan kau hadapi. Keyakinan bukanlah hanya tentang keagamaan, tapi tentang bagaimana kau menegakkan bahumu dan menjalani semua dengan sepenuh hatimu. Keyakinan bukanlah hanya tentang percaya, tapi juga menyukai hal yang ada padanya.
Sebuah keyakinan telah lama hilang, hendak dicari kemana?
Katakanlah kau seorang anak manusia yang tak memiliki keyakinan. Maka bisa ku pastikan kau hanyalah raga kopong tanpa nyawa. Katakanlah kau seorang budak Tuhan yang tak berkeyakinan teguh, maka bisa ku pastikan kau hanyalah sebuah ranting kecil rapuh yang siap diterjang angin badai.
Persis.
Mungkin pada akhirnya, saya memang bukanlah seorang masokis yang begitu mencintai dinamika hidup yang begitu keras. Tapi saya juga tidak ingin menjadi sepotong wortel. Bagaimana pun, menjadi kopi lah yang terbaik.
Ketika kau kehilangan keyakinan, lalu apa yang hendak kau lakukan?
Ketika kau tidak menyukai hidupmu, lalu hidup siapa yang ingin kau jalani?
Oke, patut di garis bawahi, ini bukan tentang sesuatu berwujud virus merah jambu dan berbagai kisah konyol yang ku alami di masa lalu. Atau bahkan tentang bagaimana beberapa bagian dari kisah merah jambu itu mengalun lembut menembus relung pikiranku. Tidak, ini bukan tentang itu.
Hanya saja...
Banyak hal yang sudah terjadi di masa lalu, entah itu senang dan patut dikubur hidup-hidup. Intinya, sudah terlalu banyak yang terlewati. Terlalu banyak.
Jadi, setelah melakukan hal random dan derping around di facebook, betapa saya sekarang menyadari betapa banyak berkah dan waktu yang telah terlewat. Tentang bagaimana saya terseok menjalani kehidupan tapi begitu menyukainya. Tentang bagaimana saya menjalani semua dengan penuh keyakinan dan harapan, disertai tameng keberanian. Tentang bagaimana saya sanggup tertawa lepas akan semua cobaan dan ujian bersama dengan teman dekat dan teman paling dekat. Tentang bagaimana saya begitu yakin, bahwa hidup saya tak bisa jauh lebih menyenangkan dan itu membuat saya berani menatap masa depan.
Ada yang hilang, sebuah keyakinan.
Keyakinan bukanlah hanya tentang iman, tapi tentang bagaimana kau mempercayai apa yang kau lakukan dan mengetahui dengan detail apa yang akan kau hadapi. Keyakinan bukanlah hanya tentang keagamaan, tapi tentang bagaimana kau menegakkan bahumu dan menjalani semua dengan sepenuh hatimu. Keyakinan bukanlah hanya tentang percaya, tapi juga menyukai hal yang ada padanya.
Sebuah keyakinan telah lama hilang, hendak dicari kemana?
Katakanlah kau seorang anak manusia yang tak memiliki keyakinan. Maka bisa ku pastikan kau hanyalah raga kopong tanpa nyawa. Katakanlah kau seorang budak Tuhan yang tak berkeyakinan teguh, maka bisa ku pastikan kau hanyalah sebuah ranting kecil rapuh yang siap diterjang angin badai.
Persis.
Mungkin pada akhirnya, saya memang bukanlah seorang masokis yang begitu mencintai dinamika hidup yang begitu keras. Tapi saya juga tidak ingin menjadi sepotong wortel. Bagaimana pun, menjadi kopi lah yang terbaik.
Ketika kau kehilangan keyakinan, lalu apa yang hendak kau lakukan?
Ketika kau tidak menyukai hidupmu, lalu hidup siapa yang ingin kau jalani?