Friday, October 18, 2013

The Power of Belief

I know I miss the past too much.

Oke, patut di garis bawahi, ini bukan tentang sesuatu berwujud virus merah jambu dan berbagai kisah konyol yang ku alami di masa lalu. Atau bahkan tentang bagaimana beberapa bagian dari kisah merah jambu itu mengalun lembut menembus relung pikiranku. Tidak, ini bukan tentang itu.

Hanya saja...

Banyak hal yang sudah terjadi di masa lalu, entah itu senang dan patut dikubur hidup-hidup. Intinya, sudah terlalu banyak yang terlewati. Terlalu banyak.

Jadi, setelah melakukan hal random dan derping around di facebook, betapa saya sekarang menyadari betapa banyak berkah dan waktu yang telah terlewat. Tentang bagaimana saya terseok menjalani kehidupan tapi begitu menyukainya. Tentang bagaimana saya menjalani semua dengan penuh keyakinan dan harapan, disertai tameng keberanian. Tentang bagaimana saya sanggup tertawa lepas akan semua cobaan dan ujian bersama dengan teman dekat dan teman paling dekat. Tentang bagaimana saya begitu yakin, bahwa hidup saya tak bisa jauh lebih menyenangkan dan itu membuat saya berani menatap masa depan.

Ada yang hilang, sebuah keyakinan.

Keyakinan bukanlah hanya tentang iman, tapi tentang bagaimana kau mempercayai apa yang kau lakukan dan mengetahui dengan detail apa yang akan kau hadapi. Keyakinan bukanlah hanya tentang keagamaan, tapi tentang bagaimana kau menegakkan bahumu dan menjalani semua dengan sepenuh hatimu. Keyakinan bukanlah hanya tentang percaya, tapi juga menyukai hal yang ada padanya.

Sebuah keyakinan telah lama hilang, hendak dicari kemana?

Katakanlah kau seorang anak manusia yang tak memiliki keyakinan. Maka bisa ku pastikan kau hanyalah raga kopong tanpa nyawa. Katakanlah kau seorang budak Tuhan yang tak berkeyakinan teguh, maka bisa ku pastikan kau hanyalah sebuah ranting kecil rapuh yang siap diterjang angin badai.

Persis.

Mungkin pada akhirnya, saya memang bukanlah seorang masokis yang begitu mencintai dinamika hidup yang begitu keras. Tapi saya juga tidak ingin menjadi sepotong wortel. Bagaimana pun, menjadi kopi lah yang terbaik.

Ketika kau kehilangan keyakinan, lalu apa yang hendak kau lakukan?

Ketika kau tidak menyukai hidupmu, lalu hidup siapa yang ingin kau jalani?
Share:

Wednesday, October 2, 2013

Introvert, huh?

Have you considered yourself as an introvert?
I mean, by being socially awkward, hardly communicate with other people, barely have willingness to share things you have in your mind, and by being able to control yourself in your own world?

No?

Well, then lucky you.
Because I have to tell you that I'm one hell of an introvert.
And until less than 24 hours ago, I just realized how freaking bad I am as an introvert. Bang!!

Being an introvert does not always mean that you are bad, nor even good. Being introvert is about a choice, I think. About how you want to share yourself to others, not to mention loose your true identity itself.

I've once realized that I was an introvert. At that time, for me that was totally okay. I mean, by the presence of hundreds of comics on your side and series of favourite cartoons on Sunday morning, what else do you expect from this world? 

I thought I was okay, even I thought I had changed and become an extrovert. Until someone slapped me in the face and realized me how I have turned in to a freaking bad monster introvert, whom almost fell over the abyss!! What???

I've been all the same all this time. I am one hell of a freaking introvert. Even worse.

By being an introvert in the past is okay.

But being introvert in the present time as I am now... It means I am dead. 

Being an introvert is about a choice. 

And I am dying in the process of making the decision itself.
Share:

Sunday, June 2, 2013

Monday, March 25, 2013

Post #57

Entah sudah kali ke berapa saya meminta dalam hidup. Entah juga sudah kali berapa pikiran ini luput dari-Nya. Tapi percayalah, Tuhan tak pernah tidur! Dan tetap mendengar doamu 
Sekalipun itu tak pernah terucap.

Ketika manusia berencana, maka Tuhan yang akan memutuskan.
Ketika manusia meminta, maka Tuhan yang akan mengabulkan.
Ketika manusia mulai menyimpang, maka Tuhan akan meluruskan.
Karena Tuhan lebih mengetahui dirimu
Jauh lebih baik dari siapapun
Bahkan dirimu sendiri

Manusia meminta apa yang diinginkan
Dan Tuhan akan memberikan apa yang kau butuhkan
Tak peduli betapapun kau tak mengerti di permulaan
Semua sudah terencana demi hasil akhir yang lebih baik
Sesederhana itu

Dan ketika aku mendapatkan semua yang aku punya
Maka itulah hal yang paling ku butuhkan
Dan jika aku belum mendapat jawaban atas segala yang aku minta
Maka mungkin hal itu tidaklah aku perlukan
Dan ini termasuk tentang dirimu

**
Share:

Friday, March 22, 2013

Thursday, March 21, 2013

Terbaik?

Bukan berarti kau harus selalu menjadi yang terbaik, tapi berikanlah yang terbaik pada setiap usahamu

Baiklah, mari pikirkan sejenak kata-kata ini. Sebuah kalimat singkat yang baru saja terucap oleh salah satu asprak saya di mata kuliah yang paling membuat kepala saya cenat-cenut. Sebuah kalimat, yang meski singkat, tapi bagi saya memiliki makna yang dalam.

Mari sama-sama kita cermati.

"Bukan berarti kau harus selalu menjadi yang terbaik, tapi berikanlah yang terbaik pada setiap usahamu"

Baiklah.. saya memang bukanlah filsuf yang pandai menelaah kata. Bukan pula penyair dan pujangga yang sanggup memberi tafsir pada setiap kalimat yang ada. Saya hanyalah seorang manusia akhir zaman yang sedang berusaha memetakan kehidupan saya yang kini mulai semrawut. Seseorang yang dengan sangat tidak bertanggungjawab melalaikan tugasnya hanya demi menelaah kalimat ini dengan begitu seksama.

"..., tapi berikanlah yang terbaik pada setiap usahamu."

Manusia - tidak, motivator lebih tepatnya, selalu bilang bahwa potensi umat manusia tidak memiliki batas. Bagaikan garis asimtot yang tak memiliki akhir, umat manusia akan berkembang dan bergerak sesuai dengan pengalaman yang pernah dicicipinya. Seperti layaknya jagat raya yang mengembang menuju infinity, potensi umat manusia tampak begitu abstrak hingga tak bisa dijelaskan lagi.

"... berikanlah yang terbaik pada setiap usahamu."
Well, kalau boleh saya tanya, indikator apa yang kau gunakan saat kau bilang, "oke, ini memang sudah usaha terbaik saya"? Standar apa yang kau gunakan untuk menyatakan secara gamblang bahwa "ya, kau memang sudah berusaha sebaik yang kau bisa"? Lupakah kau dengan pembicaraan para motivator bahwa potensi manusia tidak terbatas? Jika potensinya tidak terbatas, maka usahamu pun pasti tidak terbatas karena kau tidak akan pernah menemukan poin terbaik dalam hidupmu. Poin terbaik dalam hidupmu berada pada titik tanpa batas. Jadi bagaimana caranya kau bisa menyatakan secara gamblang bahwa itu adalah usaha terbaikmu?

"aku sudah berusaha sebaik yang aku bisa."
 Percayalah, semua itu hanya sebuah omong kosong yang bisa diucap manusia ketika mereka tak sanggup lagi berkilah.

Jadi, ketika kau merasa gagal akan dirimu, merasa buruk akan usahamu, alasan apalagi yang akan kau utarakan?




Share:

Sunday, March 17, 2013

Post #54

Life gives you surprise, regardless you're ready for it or not..


Haha, sampe speechless gini...

Kalau saya coba flashback ke masa lalu, entah rasanya segala sesuatu benar-benar begitu benar. Sesuai dengan plot. Like..everything is put right on the track. 

Sekarang?

Haha.. saya juga sendiri benar-benar tidak tahu saya sedang dimana.

Entah saya yang begitu tidak peduli, atau memang beberapa waktu ini sang alien benar-benar telah berkuasa hingga mengambil alih diri. Tapi satu hal yang jelas, hidup saya...saya benar-benar tidak tahu lagi. Dan saya merasa insecure akan hal itu.

Ketika kau menyadari betapa menghargai diri sendiri bisa sesulit ini.
Ketika kau menyadari mengakui dirimu sendiri bisa jadi serumit ini.
Ketika kau menyadari bahwa bersikap jujur pada dirimu sendiri tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan.

Ketika untuk pertama kalinya, kau mengakui pada dunia betapa kau telah begitu jauh kehilangan dirimu sendiri, dalam arti yang sebenarnya.

Karena segalanya tidak semudah itu.

Apa yang ku mau, yang ku punya, yang seharusnya ku dapat, yang tak berhak ku dapat,
Apa yang salah, apa yang benar...
Aku tidak tahu.

Aku benar-benar tidak tahu.

Tidak, kau tahu sejak lama bukan, Silmi?
Semua ada di ujung lidahmu, memaksa keluar, dan membuatmu mengutarakan apa yang sekarang kau pikirkan,
Hanya satu. Kau tak punya cukup keberanian untuk itu.

Beranilah.. seberani itu sendiri.
Share:

Saturday, February 2, 2013

Romantisme era 80an

Masih ingat romantisme di era 80an?
Ingat betapa anggun dan agungnya romantisme disaat itu?

Ketika dua hati tak sengaja terpaut, menimbulkan sebuah getar tak biasa. Sebuah rasa ingin bertemu, sebuah rasa ingin mencumbu, sebuah rasa ingin menyatu, berpadu dengan kentalnya budaya ketimuran yang begitu lekat terjaga.

Tidak kawan, tak ada adegan bertabrakan di lorong lalu kau saling mencinta. Pun tak diawali dari adegan saling membenci dan akhirnya suka sama suka. Apalagi dibumbui dengan adegan 'romantis' tak berbudaya.Seolah semua berjalan sesuai skenario-Nya. Dikemas begitu indah dalam balutan adat dan norma

 Bisa kau bayangkan betapa anggun dan agung romantisme saat itu?

Saya jadi teringat sebuah acara televisi yang memuat hasil wawancara dengan Mathias Muchus. Tentang betapa romantisme di era 80an begitu menjunjung tinggi adat ketimuran. Tidak ada adegan berpelukan, apalagi ciuman. Semua mengalir apa adanya, terekspresikan hanya dengan senyuman dan lirikan. Lidah yang tercekat, otak yang tetiba macet, hati yang bergemuruh, diikuti dengan gejolak kupu-kupu yang memenuhi perutmu, semua sanggup tercipta hanya karena sentuhan kecil tak disengaja saat sedang merujak bersama. 

Tidak, sayangnya saya tidak tinggal di era itu. Sebuah masa, dimana kau akan duduk manis di ruang tamu menunggu pak pos mengantarkan suratnya padamu. Sebuah masa, dimana wanita mengerti akan harga diri dan kehormatan dirinya sehingga membeli bahan yang cukup untuk bajunya. Sebuah masa, dimana sebuah jendela di ujung jalan sana sanggup mengusir gundah yang merajai hatimu begitu lama. Sayangnya, saya tidak tinggal di masa itu.

Romantisme era 80an. Bahkan kisahnya pun anggun untuk dikenang.
Share: