Saturday, February 2, 2013

Romantisme era 80an

Masih ingat romantisme di era 80an?
Ingat betapa anggun dan agungnya romantisme disaat itu?

Ketika dua hati tak sengaja terpaut, menimbulkan sebuah getar tak biasa. Sebuah rasa ingin bertemu, sebuah rasa ingin mencumbu, sebuah rasa ingin menyatu, berpadu dengan kentalnya budaya ketimuran yang begitu lekat terjaga.

Tidak kawan, tak ada adegan bertabrakan di lorong lalu kau saling mencinta. Pun tak diawali dari adegan saling membenci dan akhirnya suka sama suka. Apalagi dibumbui dengan adegan 'romantis' tak berbudaya.Seolah semua berjalan sesuai skenario-Nya. Dikemas begitu indah dalam balutan adat dan norma

 Bisa kau bayangkan betapa anggun dan agung romantisme saat itu?

Saya jadi teringat sebuah acara televisi yang memuat hasil wawancara dengan Mathias Muchus. Tentang betapa romantisme di era 80an begitu menjunjung tinggi adat ketimuran. Tidak ada adegan berpelukan, apalagi ciuman. Semua mengalir apa adanya, terekspresikan hanya dengan senyuman dan lirikan. Lidah yang tercekat, otak yang tetiba macet, hati yang bergemuruh, diikuti dengan gejolak kupu-kupu yang memenuhi perutmu, semua sanggup tercipta hanya karena sentuhan kecil tak disengaja saat sedang merujak bersama. 

Tidak, sayangnya saya tidak tinggal di era itu. Sebuah masa, dimana kau akan duduk manis di ruang tamu menunggu pak pos mengantarkan suratnya padamu. Sebuah masa, dimana wanita mengerti akan harga diri dan kehormatan dirinya sehingga membeli bahan yang cukup untuk bajunya. Sebuah masa, dimana sebuah jendela di ujung jalan sana sanggup mengusir gundah yang merajai hatimu begitu lama. Sayangnya, saya tidak tinggal di masa itu.

Romantisme era 80an. Bahkan kisahnya pun anggun untuk dikenang.
Share: