Saturday, December 15, 2012

Well..

It's not about I don't fall to anybody again, nor about how men seem not to be really attractive lately..

For your record, I'm straight, and always will be..

Well as a matter of fact, I kinda love one line stated by Taylor Swift back when I read that in 9gag.

I wanna be that girl, when she falls in love it's like a big deal and a rare thing

Yep, I'm a big fans of her no matter what you say about her 9gag army! and I agree with her..

If I had to fall in love this time, it has to be a big deal and a rare thing. Not just a topic of hot gossip in a sleepover night.

That is why, before I'm really sure about my feeling, and before I'm totally sure that my tummy has been fulfilled by butterflies as the feedback of serotonin, I would not tell anybody just yet.

But I cannot lie to myself. Yesterday, those butterflies were there. Exactly!


Forget about that perfect jaw hanging there in a perfection.

Forget about how that perfect caramel-toned skin makes your heart beat faster.

Forget about how his dimple could make your hand move uncontrollable to give a pinch on his cheeks

Stop smiling and laughing whenever he's around you cause it's so not make any sense!


Don't be silly, you know he loves someone else. He's not even worth it.
Share:

Friday, November 23, 2012

Well, this one is for you mister.

Kira-kira...sudah hampir tiga tahun ya?

Dua tahun 2 bulan lebih tepatnya.

Wow, bisa kau bayangkan betapa waktu begitu cepat berlalu? Tanpa sedikitpun menyisakan sedikit belas kasih padamu hingga saat kau mulai mengambil kontrol akan dirimu, kau akan menyadari betapa banyak hal yang sudah kau lewati.

Well, sejujurnya saya tidak pernah menyangka fase seperti ini akan datang secepat ini. Malah, saya tidak pernah menyangka masa ini akan benar datang dalam kehidupan sempit saya yang tidak begitu berharga ini. Dan ini cukup membuat gelombang fluktuatif yang bertahan cukup lama bahkan hingga detik ini.

Saya masih ingat hari itu. The very first day of how we met. Membuat saya tertawa dan merasa idiot ketika harus kembali mengingat betapa konyolnya tampang yang saya pasang saat itu. Rahang sedikit terbuka, mata menatap kosong seakan berusaha menembus dinding tak terlihat, dengan kelopak mata yang jarang berkedip, dengan otak yang tiba-tiba menjadi macet dan kosong, disertai dengan kuping yang berubah menjadi reseptor yang mendeteksi bahasamu menjadi tergolong ke dalam bahasa kaum alien. Kau, orang pertama yang membuat sensasi magical seperti itu.

Ya, saya akui. Saya pernah menyukaimu. Bukan dalam batas dan kondisi yang wajar, memang. Tapi ya, saya pernah menyukaimu. Dan saya tidak menyesali itu. Dengan segala ketidakwajaran yang tidak lagi digubris, akal yang 'kurang sehat', dan lingkungan yang sama sekali tidak mendukung, saya tetap bertahan untuk menyukaimu. Bahkan pernah bertekad untuk menyukaimu sampai akhir. Tapi ya, rupanya akal sehat masih bisa bertindak logis. Setidaknya saya mengagumimu, hingga detik ini.

Well, bagaimana ya mengatakannya?

Berawal dari fase pertemuan, lalu berlanjut ke peleburan hormon serotonin secara massive ke sekujur tubuh, patah hati, lalu beralih menjadi mengagumi yang terkadang masih sedikit mengalami deviasi ke dua fase sebelumnya... semua ini menandakan bahwa sampailah kita pada penghujung fase. Dan saya benar-benar tidak suka ini.

Saya tidak pernah menyangka bahwa fase ini akan datang dengan begitu cepat. Bahkan tidak terpikir bahwa beginilah semua ini berakhir.

Saya tidak tahu apakah yang lain merasakan hal yang sama, atau memang seperti sebuah kebiasaan yang selalu saya lakukan, saya hanya melebih-lebihkan semua yang terjadi. Tapi satu hal yang saya tahu pasti. 

Untuk ketiga kalinya dalam hidup, saya merasa 'dibuang'. Dan kau adalah orang ketiga yang melakukan hal itu kepada saya.

Saya tidak menyalahkan jika memang keputusanmu adalah kembali ke habitat asal dimana semua hal tentangmu bermula. Saya juga tidak menyalahkan jika memang kita tidak bisa bertemu secara wajar seperti biasa. Saya juga tidak kecewa jika saya harus kehilangan kesempatan untuk mengintipmu di saat kesempatan sedang membuka celah, juga tidak mempermasalahkan tentang bagaimana nantinya saya tidak akan bisa lagi merasakan sensasi terperdaya oleh alunan mantra magis yang kau ucapkan hingga sanggup membuat saya merasa menjadi orang idiot tak berpengetahuan.Yang menjadi masalah utama disini adalah tentang bagaimana kau pergi, dan membuang saya begitu saja.

Setelah semua yang telah terjadi, dengan setumpuk harapan dan rencana masa depan yang menggunung, kau pergi dengan begitu mudah dan mulai menghapus jejakmu begitu saja. Seolah mengisyaratkan bahwa, 

"Let the dreams and the passion we've planned for whole this time be the memory, cause we ain't gonna give a fuck on that! Time to wake up and face the reality dumb head.
Go fuck yourself with the dreams that will choke you for the rest of your life!"

See the word that I use mister? Yes, I use the fuck word, mister.
Fuck.

Seperti menjatuhkan mimpi ke lembah abyss, kau berjalan angkuh meninggalkan saya yang sudah menggantungkan terlalu banyak harapan dan mimpi yang semua berhubungan denganmu. Dalam hitungan milisekon semua terasa begitu gelap. Lembah abyss telah menyambut saya dengan hangat.

Saya tidak munafik bahwa ada sebagian dari diri saya yang bertindak layaknya drama queen yang menangis tersedu diatas tumpukan bantal empuk sambil memikirkan semua yang terjadi. Toh, pada kenyataannya saya memang menangis. Tapi saya juga tidak bisa memungkiri keberadaan lain dari diri saya yang ingin bertindak sok heroik bak kisah sinetron yang sering muncul di televisi. Mencoba bangkit dari keterpurukan dan menunjukkan padamu bahwa saya bisa bertahan tanpamu yang mana pada akhirnya semua dilakukan agar kau sadar dan memutuskan tak membuangku lagi. Semua hanyalah kumpulan omong kosong tidak berguna.

Lalu, pelajaran apa yang kau dapat dari potongan kehidupanmu kali ini, Silmi?

Jangan pernah menggantungkan harapanmu pada seseorang yang tidak perlu. Terlebih merajut dan membuat rencana masa depan yang melibatkan pihak yang memang tidak seharusnya berada dalam daftarmu. Daftarmu hanya berisi namamu sendiri. 
Berdirilah dengan kakimu sendiri!


Yah.. seandainya saya punya cukup keberanian untuk mengatakannya langsung padamu.
Share:

Wednesday, November 7, 2012

I see what you did there.. mister

Mungkin saya memang payah.
Atau saya memang terlahir dengan watak jahat yang sangat sulit untuk dirubah.

Lemah, tidak berdaya, dengki,  
pathetic!

Apa yang kau katakan seperti mantra suci
Sebuah kebenaran mutlak yang tak bisa untuk tidak saya percayai.
Apa yang kau katakan seperti sihir imperius.
Membuat saya tidak bisa menolak untuk menurutinya.
Apa yang kau lakukan seperti sebuah hal yang sejak lama saya incar. 
Tidak bisa untuk tidak menirunya.

Lambat tapi pasti. Semua terlihat begitu jelas.
Untuk kesekian kalinya,
saya terlalu bergantung pada seseorang yang tidak perlu.
(mohon dicatat)

Terkadang saya merasa ketakutan setengah mati hanya karena memikirkan bagaimana saya akan terus kehilangan jati diri jika saya terus menjadikanmu sebagai panutan.

Semua ini, hanya menambah cenat-cenut yang mulai menjalar hingga ke akar.
Share:

Friday, October 19, 2012

Siberian husky, huh?

Sampai sekarang saya masih tidak bisa mengerti dengan tingkah salah seorang teman yang terlihat tejebak dalam love-hate-love relationship yang sepertinya tiada akhir. 
 I mean, don't you feel tired doing this? 
He's jealous with you, 
You're jealous with him back,
 arguing, 
mocking, 
missing, 
flirting, 
having quarrel,  
dan terus begitu sampai kiamat. 
Don't you two feel tired, huh?

Tapi yah, when you're falling in love, sometimes logic does not even matter anymore.

Saya jadi geli sendiri kalau ingat chat diam-diam yang kami lakukan di laboratorium komputer tadi siang. Tentang bagaimana dia begitu menyukainya, about how she helplessly fall as if she's falling to abyss and cannot go back.

"The more I know him, makes me understand how alone he is, but not in forever alone mode. It's like when you see siberian husky and you know he's hungry, you can't just let him and fed him instead."

Yah.. saya memang bukan pengutip yang hebat. Bahkan saya adalah pengutip yang buruk. Saya tidak ingat dia mengatakannya seperti yang saya kutip diatas, tapi intinya:

She loves him, more than I expected, in a very cute way.. X3 
(Oh beb..)

Perkataan teman saya tadi, mau tidak mau menarik saya kembali ke titik nol. Ke sebuah masa dimana tak seharusnya saya kunjungi lagi.
Masa lalu.
(somebody just kill me please)

Saya jadi teringat sewaktu hari ke-empat saya mulai masuk sekolah.
Kau disana, duduk dengan sikap defensif, seolah mengisyaratkan tidak ada seorang pun yang berhak untuk memasuki zona nyamanmu.
Berbicara dengan penuh rasa hormat dan (sedikit) hawa arogan yang menebar dari kharismamu, membuatmu begitu disegani dan tak ada yang berani mendekati.
Sarkastik, caramu menanggapi orang disekitarmu hingga terkadang itu sedikit menyakitkan tapi memang itulah kenyataannya.

Dan entah setan apa yang merasuki,
Bagiku, semua hanyalah tameng
Sikapmu yang defensif
Sarkastik
Semua tak lebih dari sikap defensif anak kecil yang begitu tak ingin disakiti.

Apa salahnya berteman?
Apa salahnya menyandarkan sedikit tubuhmu di pundak orang lain?
Manusiawi.

Siberian husky, huh?
Ya, mungkin.
Siberian husky warna biru abu.

Saya selalu berpikir, bahwa saya terlalu takut untuk meninggalkanmu sendiri
Membiarkanmu sendiri lagi setelah sekian lama
Membuatmu menjadi tertutup dan defensif lagi
Tapi, yang sebenernya terjadi adalah
Mungkin, saya terlalu takut untuk keluar dari masa lalu
Atau mungkin saya terlalu takut untuk ditinggal sendiri dan kembali menjadi sepi
Semua alasan yang selama ini beredar hanyalah sebuah excuse
Pembenaran bahwa saya tidak bergantung padamu
Atau setidaknya, kita bergantung satu sama lain.
We're friends, aren't we?


Oke, cukup.
Bau masa lalu ini sudah begitu menusuk hidung.
 Ya, kan?
Share:

Monday, October 1, 2012

Ketika kau galau, berbagilah...

Dan disinilah saya, bersama beberapa rekan, terjebak di sebuah ruangan tak lebih dari 3 x 4 meter ditengah keremangan senja yang kini mulai menggelap.

Tidak, bukanlah training super awesome yang membuat hari ini begitu bermakna. Bukan pula karena kini saya mulai memahami arti dari segala singkatan OGXDRPTHXCVBD dan segala macamnya. Juga bukan karena pertemuan yang tidak disengaja itu. Tidak, tidak sama sekali. Yang membuat hari ini begitu pantas dan berharga untuk dimaknai tidak lebih karena waktu 30 menit yang saya luangkan untuk berbagi. Berbagi bersama rekan, ya seperti saat ini!


Ada kalanya, kita jatuh sejatuh-jatuhnya hingga ke suatu titik dimana kau merasa begitu terpuruk. Dan itulah yang saya alami beberapa hari ini. Saya merasa begitu terpuruk, hingga saya sempat merasa jijik dengan diri saya sendiri. Marah, benci, angkuh, dengki, iri, semua membaur menjadi satu, menggema dalam rongga jiwa hingga menebar aroma busuk disetiap langkah yang saya bawa. Takut? Jelas. Putus asa? Kau tak akan pernah bisa membayangkannya. Malu, sangat. Tapi apa dikata? Meski dikuliti pun, saya tetaplah seseorang yang menjijikan itu.

"Karakter itu seperti topeng, dimanapun kamu berada, topeng itu akan berubah. Dan itu tidak apa-apa.."

Sebuah quotes yang terus menggema di telinga saya sejak kemarin. Dan begitu mendengarnya, seketika saya merasa begitu normal. So ordinary. Not an aliens, at last.

Beberapa waktu ini, saya merasa begitu berbeda, Ibarat, hidup tanpa jiwa. Hampa. Saya bukanlah saya, seperti yang seharusnya. Saya hanyalah raga kopong yang menjalani rutinitas seperti apa adanya. 'Saya' yang sebenarnya tidaklah hidup selama beberapa hari ini. 'Saya' mati. Terkubur dalam senyum palsu dan poker face yang selalu terpampang manis di wajah saya. 'Saya' telah hilang, menjadi abu. Butiran debu.

Dengan raga kopong, saya bisa menjadi apa saja. Tersenyum dikala miris, tertawa dikala sedih, terkejut tanpa ada rasa heran, terpukau tanpa sedikitpun melewatkan rasa bosan. Saya pun bisa jadi siapa saja yang saya mau- ralat, yang lingkungan saya butuhkan. Ya, saya bisa. Tapi saya tidak mau itu. Saya ingin lari. Lari! Berlari kencang menuju arah angin. Terbebas dari segala kutukan yang menjelma. Saya hanya ingin jadi diri saya sendiri!

Tapi, seburuk-buruknya tempatmu terjatuh, Tuhan tak akan pernah meninggalkanmu. Dan saya percaya itu, karena saya mengalaminya.

Di tengah keremangan senja, saya tersadar, bahwa 'dirimu' hanya bisa ditentukan oleh dirimu sendiri.  Menjadi banyak orang, bukanlah sesuatu yang buruk. Menjadi banyak orang menandakan bahwa dirimu sadar akan posisimu, sadar akan bagaimana kau harus bersikap. Menjadi banyak orang, tak berarti kau kehilangan dirimu. Menjadi banyak orang menunjukan caramu mendefinisikan dirimu di lingkunganmu. Tentang bagaimana kau ada, tentang bagaimana kau bersikap, dan tentang bagaimana kau akan mewarnai lingkunganmu, bukan diwarnai.

Saya bukanlah muslimah sempurna. Saya hanya seorang muslim yang berjuang ditengah gerusan zaman. Saya berikhtiar. Dan akan begitu selamanya.

Hidup, seperti yang kita tahu,

Life, as we know it.
Share:

Wednesday, September 26, 2012

Menginjak Usia 20

Dan dalam sekejap, ketakutan kini mulai menguasai diri...

Apa yang orang katakan ternyata memang benar, tentang apa itu kegalauan badai saat kau akan beranjak ke usia 20 itu benar adanya. Saya percaya, karena saya mengalaminya.

Sebuah ketakutan terbesar dalam hidup kini mulai merayapi jiwa.
Tentang bagaimana kau memikirkan masa depanmu yang entah akan seperti apa jadinya..
Tentang bagaimana kau berpikir bahwa betapa sia-sianya hidupmu selama ini karena kau tak cukup memiliki keberanian untuk membuat hidupmu lebih 'fluktuatif'..
Tentang bagaimana kau mulai mengalami krisis kepercayaan diri dan mulai mempertanyakan apakah yang kau lakukan selama ini adalah BENAR yang kau inginkan dalam hidup..
Atau tentang bagaimana segala hal di sekelilingmu tiba-tiba bergerak dengan begitu cepat dan kau merasa lelah untuk mengikutinya hingga kau akhirnya hanya terombang-ambing didalamnya..
Atau mungkin tentang bagaimana semua virus merah jambu yang menghinggapimu sudah mengakar kedalam tubuhmu dan juga jiwamu.

Saya tidak mengira, betapa menjadi dewasa bisa begitu menyeramkan seperti ini.Ketika pemikiran kita sudah merasa siap untuk memikirkan segalanya, sampai kau seperti tak memiliki filter apapun dan rasanya gelombang pertanyaan itu membludak mengisi kepalamu hingga membuatnya hampir pecah. Yang tersisa hanyalah sebuah ketakutan, kekhawatiran, ketidakberdayaan, keraguan, dan kesepian. Menyisakan sebuah tanda tanya besar..

Apa saja yang kau lakukan selama ini hingga kau merasa dirimu begitu besar? 

Setetes air di laut, sebongkah batu dipegunungan, sebutir pasir di gurun. Butiran debu.

Apa saja yang telah kau lakukan selama ini hingga kau merasa dirimu begitu besar? 
Kau bukan siapa-siapa.
Period.
Share:

Saturday, September 8, 2012

Untitled

Satu persatu catatan tentangmu mulai menghilang. Dan aku bersyukur akan hal itu. Terima kasih.

Ah, aku tahu hari ini pasti akan datang!
Share:

Friday, August 10, 2012

Reuni-

Intinya, saya hanya tidak ingin datang.
Titik.

Entah karenamu, atau karena memang makanan rumah jauh lebih enak, atau saya terkena Bandung fever, atau mungkin juga karena PMS, saya tidak peduli dan saya pun tidak ingin tahu.

Terkadang apa yang telintas dalam otakmu dan hatimu memang sulit untuk dimengerti. Tapi ketika rasa enggan itu timbul dan tumbuh hingga tiada terkira, itu tandanya hanya ada satu hal yang bisa kau lakukan.

Tersenyumlah!

Poker face kalau perlu.

**
Share:

Friday, July 20, 2012

Happy birthday to you!

So there's once this man... unexpectedly get inside of my heart.

No, he's not a perfect man. I never believe in that fairy thing. For me, perfection does never exist. He was not perfect. He's just a man who was perfectly fit with my ideal man. Period.

He is taller than me. Charming, has a good looking, smart, sweet, wise, romantic, you name it. And one little thing that should be underlined, he's a physicist. A good looking physicist. Can you imagine that? I really can't believe this creature is existed in my era. No wonder why I could easily fall for this man.

See, as I said before, nothing is perfect in this world. And so my story. Yes, he is a nice guy. Yes, he is someone that is older than me. No, he is not a nerd. No, he is not doing plastic surgery.

He just has a wife.

And soon, two children.

*Ba Dum Ts*

At first, I thought that I'd be broken heart, You know..that scene when you found yourself crying like a baby and the tissues were everywhere in your room and felt like you're not gonna stand seeing him with his wife and all those stuffs. Yet, it never happened. Once again, It never happened. I felt nothing.

-____________-

So what this feeling was all about?

Why should I have interest in him if it is not 'you-know-what-I-mean'?

Why did I cry in front of my friend just because he's just about to go overseas and I thought it would mean forever?

Somebody please just tell me what it was!


p.s. Happy birthday to you anyway. Best wishes for you as always sensei :))
Share:

Thursday, May 24, 2012

True story

I've once felt this feeling before..
The warmth..
The joyful chat..
The secret peek..
And the excitement of every (chance of) meeting..
Couple days ago I was kinda miss this feeling
So bad.
Yet, seems like I forgot one little main thing..
Once it gets hurt,
It will turn your life upside-down.
True story..

**
Share:

#Whoops!

Ketika cinta dihadapkan pada realita
Tersenyum seolah berkata,
"Hey kau yang disana!
Lihatlah betapa dunia tak seindah yang kau duga
Pahitnya tiada terkira!" 

**
Share:

Wednesday, May 16, 2012

Sunday, April 29, 2012

Meracau kacau

Ku rasa pikiranku kini mulai meracau..
Mengigau tentang sebuah hal tak pasti yang juga tak menentu
Menghantui dengan siluet tajam mengerikan yang tampak begitu 'hangat'
Sebuah broken chord tajam. Prestissimo!

Pikiranku benar-benar meracau tak tentu arah
Ketika semua fisika kini terlihat begitu biasa
Dan biologi kini terlihat begitu bersahaja
Aku hampir gila

**
Share:

Tuesday, March 27, 2012

Senandung Hujan

"Kau tidak apa?"

Suara berat nan khas bersatu dengan dengungan hujan, melebur begitu halus hingga aku hampir saja tidak mendengarnya. Sebuah siluet wajah mulai tampak diantara barisan poni lepek yang kini hampir menutupi mataku.

"Yeah, ku rasa begitu."kataku sambil memandangi bercak kecoklatan yang kini mulai menghiasi rok putih kesayanganku. Oh, jangan yang satu ini..

"Kau yakin?"ujarnya, ragu. Mungkin karena melihat penampilanku yang agak sedikit...buruk.

"Yap."ujarku, berusaha meyakinkan. Ku dengar ia tersenyum kecil.

"Butuh bantuan?"katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Sebuah tangan yang ku rasa cukup besar terjulur begitu saja di depan mataku. Ku coba mendongakkan kepalaku, mencari tahu siapa yang telah menjulurkan tangan yang begitu bersih padaku. Dan disanalah ia...

Sedikit membungkuk dengan sebuah senyum simpul tergambar jelas di wajahnya. Sebuah senyum yang begitu hangat, hingga rasanya sanggup menguapkan setiap butir hujan yang kini mendera wajahku dengan deras. Sebuah siluet payung berwarna kelabu menaunginya, melindunginya dari setiap hujan yang berusaha membasahinya.

Ragu, ku raih tangannya. Dalam sekali tarikan ia menarikku lembut, membangunkanku dari kubangan yang menjebakku selama 5 menit terakhir. Ku kibaskan rokku yang tampaknya kini mulai mengalami disorientasi warna.

"Kau beruntung tak banyak orang yang lewat hari ini,"katanya, "kau seharusnya lihat bagaimana ekspresimu saat jatuh tadi.".

Aku mendelik ke arahnya, geram karena menahan rasa malu.

"Ah, maaf.. Aku tidak bermaksud menertawakanmu.""ujarnya sambil menahan senyuman.

"Terima kasih."ujarku ketus, kemudian membalikkan badanku dan berjalan menjauhinya.

"So... IPSE, eh?"

Ku hentikan langkahku, membalikkan badan dan menatapnya bingung.

"International Program on Science Education?"katanya sambil tersenyum.

Selama sedetik aku terdiam.

"Chemistry?" aku berusaha menebak.

"Bingo!"

Kali ini ia berjalan mendekatiku, menaungiku dengan payung kelabu miliknya, membuatku terjebak kini bersamanya.

"Adrian."

"Selena."

"Jadi, bagaimana kau bisa tahu?"

"Kau sendiri?"balasku.

"In case you cannot remember, I'm the one that ask here first. So give me your answer and I'll give you mine"

"Well.."kataku, "aku pernah sekali melihatmu, di depan pintu lift. Lantai 5."

"Hanya itu?"

"Tentu. Orang kurang kerjaan mana yang mau naik ke lantai 5 tanpa ada alasan. No classroom, no office. What else can you find except laboratory?"

"Toilet?"

Aku tersenyum kecil.

"Jadi?"

"Apa?"

"Bagaimana kau bisa tahu?"ujarku jengkel.

"Oh, bukan hal yang sulit untuk menentukan mana IPSE dan jurusan lain."

"Benarkah?"

"Yap,"ujarnya yakin.

"Yang perlu kau lakukan hanyalah mencarimu di tengah kerumunan... dan kebisingan."

Whoaa, orang ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal seperti itu tepat di depan orang yang jelas-jelas bagian dari orang yang baru saja dibicarakannya dengan seenaknya?

"Aku rasa aku harus pergi sekarang."kataku.

"Kau yakin tak mau ku antar?"

"Tidak, terima kasih."

"Hey!"sahutnya setelah sekian lama.

 "I'll see you soon!"sahutnya lagi dari kejauhan, "I will!"

"Well, you better not then.."kataku sambil tertawa.

Rintik hujan kini menerpaku dengan lembut, seolah bersenandung mendengungkan melodi yang sulit untuk ku pahami. Ah, aku tahu hujan akan selalu jadi hal yang menarik!
Share: