"Kau tidak apa?"
Suara berat nan khas bersatu dengan dengungan hujan, melebur begitu halus hingga aku hampir saja tidak mendengarnya. Sebuah siluet wajah mulai tampak diantara barisan poni lepek yang kini hampir menutupi mataku.
"Yeah, ku rasa begitu."kataku sambil memandangi bercak kecoklatan yang kini mulai menghiasi rok putih kesayanganku. Oh, jangan yang satu ini..
"Kau yakin?"ujarnya, ragu. Mungkin karena melihat penampilanku yang agak sedikit...buruk.
"Yap."ujarku, berusaha meyakinkan. Ku dengar ia tersenyum kecil.
"Butuh bantuan?"katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Sebuah tangan yang ku rasa cukup besar terjulur begitu saja di depan mataku. Ku coba mendongakkan kepalaku, mencari tahu siapa yang telah menjulurkan tangan yang begitu bersih padaku. Dan disanalah ia...
Sedikit membungkuk dengan sebuah senyum simpul tergambar jelas di wajahnya. Sebuah senyum yang begitu hangat, hingga rasanya sanggup menguapkan setiap butir hujan yang kini mendera wajahku dengan deras. Sebuah siluet payung berwarna kelabu menaunginya, melindunginya dari setiap hujan yang berusaha membasahinya.
Ragu, ku raih tangannya. Dalam sekali tarikan ia menarikku lembut, membangunkanku dari kubangan yang menjebakku selama 5 menit terakhir. Ku kibaskan rokku yang tampaknya kini mulai mengalami disorientasi warna.
"Kau beruntung tak banyak orang yang lewat hari ini,"katanya, "kau seharusnya lihat bagaimana ekspresimu saat jatuh tadi.".
Aku mendelik ke arahnya, geram karena menahan rasa malu.
"Ah, maaf.. Aku tidak bermaksud menertawakanmu.""ujarnya sambil menahan senyuman.
"Terima kasih."ujarku ketus, kemudian membalikkan badanku dan berjalan menjauhinya.
"So... IPSE, eh?"
Ku hentikan langkahku, membalikkan badan dan menatapnya bingung.
"International Program on Science Education?"katanya sambil tersenyum.
Selama sedetik aku terdiam.
"Chemistry?" aku berusaha menebak.
"Bingo!"
Kali ini ia berjalan mendekatiku, menaungiku dengan payung kelabu miliknya, membuatku terjebak kini bersamanya.
"Adrian."
"Selena."
"Jadi, bagaimana kau bisa tahu?"
"Kau sendiri?"balasku.
"In case you cannot remember, I'm the one that ask here first. So give me your answer and I'll give you mine"
"Well.."kataku, "aku pernah sekali melihatmu, di depan pintu lift. Lantai 5."
"Hanya itu?"
"Tentu. Orang kurang kerjaan mana yang mau naik ke lantai 5 tanpa ada alasan. No classroom, no office. What else can you find except laboratory?"
"Toilet?"
Aku tersenyum kecil.
"Jadi?"
"Apa?"
"Bagaimana kau bisa tahu?"ujarku jengkel.
"Oh, bukan hal yang sulit untuk menentukan mana IPSE dan jurusan lain."
"Benarkah?"
"Yap,"ujarnya yakin.
"Yang perlu kau lakukan hanyalah mencarimu di tengah kerumunan... dan kebisingan."
Whoaa, orang ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal seperti itu tepat di depan orang yang jelas-jelas bagian dari orang yang baru saja dibicarakannya dengan seenaknya?
"Aku rasa aku harus pergi sekarang."kataku.
"Kau yakin tak mau ku antar?"
"Tidak, terima kasih."
"Hey!"sahutnya setelah sekian lama.
"I'll see you soon!"sahutnya lagi dari kejauhan, "I will!"
"Well, you better not then.."kataku sambil tertawa.
Rintik hujan kini menerpaku dengan lembut, seolah bersenandung mendengungkan melodi yang sulit untuk ku pahami. Ah, aku tahu hujan akan selalu jadi hal yang menarik!