Deru nafas memburu. Jantungku berdetak bagai berlomba dengan sang waktu. Ku terobos ranting dan dahan kering yang menyayat kulitku tiap kali aku berlari melewatinya. Peluh dan keringat kini tak menjadi soal. Semua tak lagi berarti ketika kini nyawamu yang jadi taruhannya. Nafas yang kini mulai berat tak menghalangiku untuk berlari. Kini, yang ku tahu hanya berlari dan berlari, tak peduli harus kemana.
Dorr!!
Bunyi itu kembali terdengar. Ini sudah kali ketiga semenjak bunyi itu mulai menghantuiku di siang bolong seperti ini. Jantungku serasa berhenti berdetak. Untuk sedetik aku menolehkan kepalaku ke belakang, mencoba mencari tahu siapa yang telah membuat kekacauan di tengah hari bolong seperti ini. Terdengar suara erangan dari kejauhan, disusul dengan derap langkah kaki yang kini kian mendekat. Dengan pandangan nanar aku meludahi sang penebar kebencian dari kejauhan. Beharap ia tahu betapa bejat apa yang telah diperlakukannya ini pada kami.
Dorr!!
Suara mistis yang sanggup membuat bulu kudukku berdiri itu kembali terdengar. Kali ini ku langkahkan kakiku lebih cepat, tanpa memperdulikan pasokan oksigen yang makin lama makin tak bersisa di dalam paru-paruku. Oh tidak, aku sudah tak kuat lagi. Mataku kini mulai berkunang-kunang. Dadaku terasa terhimpit. Nafasku yang terengah-engah kini terdengar lebih buruk daripada ringkikan keledai yang tengah menderita asma. Jantungku seolah akan memburu keluar. Aku sudah tidak tahan lagi. Tuhan..apakah ini akhirnya? Akhir dari segalanya?
Tepat sebelum aku berhenti, aku melihatnya. Ya, disana. Tepat disana, sebuah moncong metalik yang tak asing lagi di mataku mengarah padanya. Pada ayahku. Panik, aku berusaha untu berpikir jernih. Sial, otakku buntu! Seulas senyum mengerikan kini tergambar jelas di wajahnya.
Tidak
Ku mohon
Tuhan
Ayaahhhh!!!!!!
Dorr!!
Sesuatu mengalir deras keluar dari kakiku. Darah. Rasanya hangat, juga perih. Tak terperi. Ku pejamkan mataku yang kini mulai berkunang-kunang. Suara tawa diiringi dengan seringai berderai dari kejauhan. Pandanganku mulai buram. Ku lihat ayahku berlari kecil menghampiriku.
Larilah Ayah! Lari!! Jangan kemari, mereka bisa menangkapmu..
Dorr!!!
Timah panas kini tepat bersarang di perutku, menggagalkan usahaku untuk bangkit dan menyusul yang lain. Ku lihat ayahku berhenti berlari, ragu untuk menghampiriku atau segera menyusul yang lain untuk angkat kaki dari tempat itu.
Larilah ayah! Jangan kemari! Bawa pergi yang lain dari sini. Selamatkan ibu! Selamatkan kawanan yang lain!!
Dengan seluruh kesadaran yang tersisa aku mengerang, menyuruh semua kawanan segera pergi dari sini. Sial, mataku pandanganku sudah benar-benar buram kali ini. Ku dengar langkah kaki yang berat perlahan mendatangiku. Ya, ku rasa inilah saatnya. Saat dimana semua akan berakhir begitu saja.
"Lihat, kita dapat tangkapan yang bagus."samar-samar ku dengar suara pria separuh baya yang berada di dekatku.
"Tapi ini hanyalah zebra yang masih kecil. Beratnya mungkin tak sampai 80 kilogram."kata pria berjanggut lebat di sebelahnya sambil menusuk-nusuk punggungku dengan senapan yang dibawanya. Gawat kesadaranku sudah mulai menghilang.
"Yah, setidaknya kulitnya cukup bagus. Lihat, sama sekali tak ada cacat. Harganya pasti bagus kalau dijual di pasaran."
"Ya, kau benar. Padahal aku yakin tadi tembakanku pasti mengenai zebra yang besar, siapa sangka zebra kecil ini akan lewat dan menghalangi tembakanku. Tapi sudahlah, hari juga sudah semakin sore. Lebih baik kita pulang dan bawa zebra ini untuk kita kuliti. Ayo cepat."
Sayup-sayup ku dengar ringkikan kawananku dari kejauhan, mengumandangkan duka diantara rintihan yang ku alunkan. Bumi dan seisinya memang diciptakan untuk manusia. Tapi tidakkah kami juga memiliki hak untuk hidup dan merasa aman di atas bumi yang diciptakan Tuhan ini? Seandainya manusia tak hanya bertoleransi pada sesamanya. Seandainya manusia mau mengerti dan bertoleransi pada setiap makhluk-Nya...
**
dedicated to hunters who keep killing and killing without thinking bad impact that might be happen in the future. Stop killing please.. :(