Aku tidak pernah menyadari betapa hubungan pertemanan bisa menjadi serumit ini...
Ya, kini aku mulai menyadarinya. Fakta dan kenyataan yang terpapar gamblang di depan mataku seakan menyeretku dengan paksa keluar dari dunia putih abu yang selalu ku tinggali dengan nyaman. Membuatku seakan mendapat tamparan keras tepat di pipiku, memaksaku untuk membuka mata bahwa tak semua hal dapat kau atur sesuai dengan apa yang kau mau. Bahwa banyak hal diluar sana yang kadang tak bisa kau jangkau dengan logikamu yang sederhana. Hubungan antarmanusia. Hubungan antarhati.
"Kau masih memikirkannya?"tanyanya seolah membuyarkan semua lamunanku. Aku menatap wajahnya sekilas. Andre rupanya. Aku mengangguk kecil.
"Ku kira semua akan berjalan dengan baik pada akhirnya. Nyatanya apa? Hanya sampah yang ada."kataku sambil tersenyum kecut.
"Hidup tidak akan semenarik itu jika semua hal bisa kau prediksi. Hidup tidak akan menjadi semenarik itu jika semua hal bisa kau atur sesukamu. Itulah hidup. Penuh warna. Penuh corak. Penuh masalah."katanya sambil nyengir. Ku lihat kini gumpalan asap mulai berlomba keluar dari mulutnya.
"Hentikan. Kau tahu aku tak pernah suka asap rokok."
"Tapi aku suka.."katanya sambil mengepulkan asap kelabu itu tepat di depan wajahku. Aku terbatuk kecil. Aku menatapnya gusar, berharap ia menyadari bahwa kali ini aku benar-benar tidak suka apa yang dilakukannya. Ia hanya membalasku dengan senyuman nakal penuh kemenangan. Melihat kelakuannya aku segera bangkit dari tempat dudukku. Berada di dekatnya malah membuat semua moodku menjadi semakin buruk.
"Apa yang terjadi diantara kalian, itu semua bukan salahmu..."
Aku berhenti sejenak, agak ragu untuk melangkahkan kakiku untuk menjauh darinya setelah apa yang baru saja ia katakan. Pandangannya tetap lurus ke depan, menerawang. Tanpa sedikitpun berusaha untuk menoleh ke arahku.
"Jangan ikut campur. Kau bahkan tak tahu apapun."
"Hentikan sikap mellow-dramatismu itu. Semua bukan salah-"
"MAKANYA SUDAH KU BILANG JANGAN IKUT CAMPUR!! Jangan sok bahwa kau mengetahui segalanya. KAU TAK TAHU APAPUN!!"kataku setengah menjerit.
"Kenapa kau selalu merasa bahwa ini semua salahmu? Tidakkah kau merasa lelah?"
"Ya, YA! INI SEMUA SALAHKU. INI SEMUA MEMANG SALAHKU!!"ujarku padanya, kali ini diiringi dengan isakan dan rasa sesak yang serasa menghimpit dadaku, "Seandainya saja aku tak pernah mengenalnya. Seandainya saja aku tak ikut campur dan berusaha untuk masuk ke dunianya-dunia mereka! Seandainya saja rasa ingin tahuku tak sebegitu besar hingga aku ingin mengenalnya lebih dekat. Seandainya saja aku tak sebegitu bodoh hingga melewati batas yang seharusnya tak ku lewati. Seandainya saja..."
"Melewati batas katamu?"kali ini ia menatapku, bingung.
"Ya,"
"Aku tak mengerti, apakah menurutmu mendapat teman baru itu melewati batas? Apa salahnya dari memiliki hasrat untuk mendapat teman baru?"
"Bukan seperti itu maksudku..."
"Lalu apa? Jelaskan padaku definisimu tentang 'melewati batas' seperti yang kau katakan padaku tadi."
"Aku.."kata-kataku terputus. Lidahku kelu, otakku macet. Aku merasa semua neuron di syaraf otakku berlalu lalang sedemikian cepat hingga rasanya aku tak bisa memikirkan apapun. Semua begitu bising. Bergerak begitu cepat. Hingga tak satu katapun dapat ku ucapkan untuk menjelaskan semuanya.
"Aku tidak tahu."kataku pada akhirnya, "Semua terasa begitu kacau. Semua terasa begitu menghimpit. Sesak rasanya."lanjutku lemah. Ku hempaskan tubuhku kembali duduk tepat disebelahnya, pasrah. Aroma tembakau yang acap kali selalu menggangguku kini tak berefek sama sekali padaku. Kepalaku terlalu sakit untuk menghiraukannya.
"Aku merasa belum cukup dewasa untuk menangani masalah serumit ini. Aku hanyalah seorang bocah. Aku benar-benar merasa hilang arah. Tidakkah Tuhan merasa semua ini terlalu berat untuk ku jalani?
Kini semua tidak sama lagi. Semuanya. Sikapnya padaku, sikapku padanya, begitu pula sikapku padanya. Semua tak lagi sama. Semua hanya membuatku menderita.
Tiap kali aku melihat matanya, aku melihat sebuah luka yang cukup dalam. Sebuah luka yang tak terperi yang ku torehkan tepat di hatinya. Membuatnya tak sanggup lagi memalingkan mukanya ke arahku, atau sekedar menatap wajahku. Kami yang dulu dekat kini seakan dipisahkan oleh sebuah dinding tak terlihat, membuatku merasa sendiri. Begitu sepi. Rasanya..aku ingin mati.
Sedang ia, sekalipun sudah ku sakiti, ia sama sekali tidak berubah. Tetap ramah, tetap bijak, seolah aku tak pernah membuatnya merasa dicampakkan. Dibuang. Semua sikapnya membuatku merasa begitu bersalah. Begitu berdosa. Akan lebih baik jika ia tak berbuat begitu baik padaku. Semua akan terasa seratus kali lipat lebih baik jika ia memaki atau menunjukkan pandangan jijiknya padaku. Tapi apa? Semua sikapnya, membuatku merasa hancur.
Aku hanyalah manusia biasa. Usiaku masih seumur jagung. Tak banyak pengalaman yang ku miliki. Aku belum bisa menjadi orang bijak yang sanggup mencari jalan keluar yang terbaik untuk semuanya. Semua pihak. Aku kesal, aku marah, aku jijik pada diriku yang membuatku masuk ke dalam masalah yang begitu besar. Aku murka karena aku yang menyebabkan masalah ini, tapi aku sama sekali tak bisa mencari jalan keluarnya. Aku muak!"
Andre hanya terdiam. Sesekali ia menghembuskan gumpalan asap kelabu dari mulutnya. Matanya menerawang, berusaha memahami apa yang baru saja ku katakan.
"Semua sudah terjadi, kau tak bisa terus menyesalinya."katanya pada akhirnya.
"Semua terasa begitu berat, Ndre."ujarku pasrah.
"Kau bisa menjalaninya. Tuhan tidak pernah membebani masalah yang tak sanggup dipikul hambanya. Percayalah."
Ku tatap wajahnya. Kali ini ia menatapku, sendu.
"Aku tahu, aku tahu itu,"kataku padanya, "Hanya saja, terkadang...aku merindukan saat-saat dulu. Waktu disaat semua masih tetap sama. Waktu dimana semua masih baik-baik saja."
***