Saturday, May 21, 2011

hidup!

Ada kalanya hati tak lagi bisa dikendalikan diri

Ada kalanya kau tak bisa berkutik dibawah kuasa sang serotonin

Ada kalanya kau harus menerima semua perasaan tak nyaman yang bergolak dalam hatimu


Hey, tidakkah kau merasa hidup hanyalah sebuah permainan?

Dimana Tuhanmu senang mempermainkan hatimu hingga sebegitu rupa

Membawamu jauh membumbung tinggi hingga akhirnya kau jatuh tersungkur tanpa daya

Membuatmu merasa senang tiada terkira hingga sakit yang menjalari dada


Hey, tidakkah kau merasa hidup hanyalah sebuah omong kosong belaka?

Dimana kau merajut semua mimpi dan cerita

Berusaha sekuat tenaga membangun semua yang tiada menjadi ada

Tapi semua selalu berbalik pada sebuah takdir yang begitu nyata


Hidup hanyalah senda gurau belaka

Tak ada yang istimewa

Hanya saja

Aku tetap suka

Share:

Tuesday, May 10, 2011

A 'lil town that I love the most :)

Cianjur.

C.I.A.N.J.U.R.

Sebuah kota kecil yang terletak diantara Bandung dan Jakarta, atau Bandung dan Sukabumi, atau Sukabumi dan Jakarta, atau... sudahlah, semua tergantung dari sudut pandang mana kau melihatnya, bukan? Sebuah kota yang bahkan luput dari pandanganmu jika kau tak memperhatikan peta Jawa Barat dengan benar. Ya, kota ini memang ada. Kalau tak percaya, kau bisa membuktikannya sendiri dengan kedua matamu itu. Kau masih tak menemukannya juga? Baiklah, kurasa kau harus mulai mengunjungi dokter mata terdekat untuk memeriksakan matamu yang mulai rabun. Intinya kota ini ada. Percayalah.

Aku tak pernah menyangka bahwa sebuah kota yang namanya tersusun dari 7 huruf berbeda ini bisa memiliki arti tersendiri dalam kehidupanku. Saat pertama kali pindah ke kota ini, aku merasa begitu asing. Aku merasa terdampar di sebuah tempat antah berantah yang ketika malam datang menghampiri, hawa dingin bisa berubah menjadi jutaan mata pisau yang menusuk-nusuk tubuhmu sampai ke tulang. Ya, soal kata-kataku barusan itu memang benar. Aku memang terdampar. Terdampar di sebuah dusun kecil. Bisa kau bayangkan? Sebuah dusun – ayolah aku bahkan menyebutnya dengan dusun, yang berarti ini jauh lebih desa dari sebuah desa – kecil di kota kecil. Bisa kau bayangkan betapa terpencilnya itu? Untuk sampai ke kota, kau harus menempuh sekitar 45 menit jika kau naik angkot yang berjalan ngebut. Aku masih ingat ketika guru SD-ku ingin menjengukku ketika aku sakit. Hari itu jalanan sedang berkabut. Aku sedang iseng berjalan ke teras rumah, sekedar berusaha mendinginkan panas tubuhku dengan hawa dingin pegunungan, saat ku lihat ada sesosok tubuh yang berjalan mendekati rumahku di tengah kabut, yang ternyata itu adalah wali kelasku. Ku lihat tubuhnya menggigil kedinginan, wajahnya pucat, dan bibirnya bergetar menahan hawa dingin. Satu hal yang masih ku ingat sampai detik ini, kata-kata yang ia ucapkan begitu sampai di depan rumahku, “Ternyata rumahmu jauh sekali, Nak”.

Saat itu aku belum menyadari, bahwa jutaan rentetan kejadian sudah mengantri untuk ku alami satu persatu. Tapi satu hal yang pasti, kisah ini baru saja dimulai...

Di kota mungil inilah, semua kisah dalam hidupku berawal. Kalau ku coba mengingat semua masa laluku, hampir semua ingatan itu berkaitan dengan kota mungil ini. Hanya satu atau dua ingatan saja yang sanggup mengingatkanku pada kota kelahiranku, dan itu pun hanya pemikiran selewat. Kau tidak akan pernah menduga kisah apa saja yang sudah tercipta di kota ini..

Tentang bagaimana sekolah baru dimulai pukul 8 pagi dan kau bisa bebas bermain sesukamu pada pukul 10 pagi karena sekolah telah usai...

Tentang bagaimana rasanya berenang dalam kondisi setengah bugil dengan teman sebayamu di kebun selada bokor milik tetangga yang bahkan namanya saja tak kau ketahui...

Tentang bagaimana horornya kamar mandimu ketika semua orang dapat melihat ‘sesuatu’ sedang kau tak bisa melihat apapun...

Tentang bagaimana kau masuk dengan tenangnya ke dalam rumahmu seusai shalat di Hari Raya padahal satu menit yang lalu rumahmu baru saja ‘dikunjungi’ oleh pencuri..

Tentang bagaimana paniknya dirimu sambil memegang pisau dapur di tengah malam ketika rumahmu baru saja dikepung oleh beberapa pencuri yang mengacungkan celurit ke wajah ayahmu...

Tentang bagaimana akhirnya keluargamu memutuskan untuk pindah ke kota setelah apa yang terjadi di malam itu...

Tentang bagaimana kau mengalami ospek pertamamu di SMP...

Tentang bagaimana kau bertemu dengan cinta pertamamu...

Tentang bagaimana kau terkena cacar air tepat 2 minggu sebelum ujian akhir nasional...

Tentang bagaimana kau bertemu dengan teman barumu dengan segala keunikannya di SMA...

Tentang bagaimana kau melewati berbagai cerita bersama para ksatria pelangi selama tiga tahun...

Tentang bagaimana bahagianya dirimu dan teman-temanmu saat akhirnya kau bisa mengusung piala kelas pertamamu di depan hidung musuh bebuyutanmu...

Tentang bagaimana kau membuat film pertamamu yang mengharuskanmu untuk di-make up!!

Tentang bagaimana kau habiskan setiap harimu, duduk berjam-jam di sebuah tempat di sudut kota, dimana kau bisa membaca sepuas yang kau mau...

Tentang bagaimana kau menikmati minggu pagimu dengan berlari mengitari kompleks perumahan gurumu bersama sahabatmu...

Tentang bagaimana kau bercanda dan tertawa bersama disela-sela usahamu untuk menirukan gaya instruktur senam yang ada di hadapanmu...

Tentang bagaimana kau berbohong di suatu hari di bulan suci hanya karena kau tak ingin proyek menulis rahasiamu diketahui teman sekelasmu...

Tentang bagaimana semua kisah ini menjadi sebuah magnet yang sanggup menarik hatimu untuk terus merindukkan kota mungil ini...

Dan kini, aku terduduk di kamarku – lebih tepat kamar ibuku – termenung memikirkan bahwa hari Minggu akan segera datang, yang artinya semakin cepat aku harus meninggalkan kota ajaib ini. Entah apa yang merasuki kepalaku, tapi kali ini aku benar-benar berpikir bahwa cianjur seribu kali lipat jauh lebih indah bila dibandingkan dengan kota Bandung yang dulu selalu ku idam-idamkan. Aku juga tak pernah menyadari, bahwa dibalik segala keterbatasan yang ada di kota kecil ini, tersimpan sejuta pesona yang sanggup membuatku terus berpikir untuk kembali ke kota ini. Berharap di suatu hari nanti, aku akan kembali mengatakan dengan gembira pada ibuku, “Ma, ade pulang besok!”

Cianjur, 23 April 2011
@my mom's room

Share:

Monday, May 9, 2011

Unrequited Love

To : abay '08
OST ~ Depapepe "Wedding Bell"



Aku disini.
Duduk.
Termenung.

Kau disana.
Berdiri.
Dengan segala pesona yang sanggup membunuhku.

Ini hanyalah sebuah kisah
Tentang bagaimana dua insan saling bertemu
Tentang bagaimana sang pria memiliki kharisma yang begitu mengganggu
Tentang bagaimana sang wanita kini mulai tersipu
Tentang bagaimana bayangannya kini menghantui
Tentang bagaimana rasa ini mulai merajai hati
Tentang bagaimana semua berjalan tanpa kesadaran diri
Tentang bagaimana waktu mulai berjalan maju
Tentang bagaimana sang wanita mulai dihinggapi rasa ragu
Tentang bagaimana aku
Mulai takut akan kehilangan dirimu

Bagaikan air yang mencintai api
Bagaikan bulan yang merindukan matahari
Bagaikan domba yang terpikat pada pesona serigala
Bagaikan iblis yang kini jatuh cinta pada malaikat
Membuatku tertawa ketika ku teringat ucapan kakek tua di masa lalu
Berkata bahwa aku dari Venus dan kau dari Mars
Dia benar,
Kita terlalu berbeda
Tak akan pernah bisa bersama
Share: