Cianjur.
C.I.A.N.J.U.R.
Sebuah kota kecil yang terletak diantara Bandung dan Jakarta, atau Bandung dan Sukabumi, atau Sukabumi dan Jakarta, atau... sudahlah, semua tergantung dari sudut pandang mana kau melihatnya, bukan? Sebuah kota yang bahkan luput dari pandanganmu jika kau tak memperhatikan peta Jawa Barat dengan benar. Ya, kota ini memang ada. Kalau tak percaya, kau bisa membuktikannya sendiri dengan kedua matamu itu. Kau masih tak menemukannya juga? Baiklah, kurasa kau harus mulai mengunjungi dokter mata terdekat untuk memeriksakan matamu yang mulai rabun. Intinya kota ini ada. Percayalah.
Aku tak pernah menyangka bahwa sebuah kota yang namanya tersusun dari 7 huruf berbeda ini bisa memiliki arti tersendiri dalam kehidupanku. Saat pertama kali pindah ke kota ini, aku merasa begitu asing. Aku merasa terdampar di sebuah tempat antah berantah yang ketika malam datang menghampiri, hawa dingin bisa berubah menjadi jutaan mata pisau yang menusuk-nusuk tubuhmu sampai ke tulang. Ya, soal kata-kataku barusan itu memang benar. Aku memang terdampar. Terdampar di sebuah dusun kecil. Bisa kau bayangkan? Sebuah dusun – ayolah aku bahkan menyebutnya dengan dusun, yang berarti ini jauh lebih desa dari sebuah desa – kecil di kota kecil. Bisa kau bayangkan betapa terpencilnya itu? Untuk sampai ke kota, kau harus menempuh sekitar 45 menit jika kau naik angkot yang berjalan ngebut. Aku masih ingat ketika guru SD-ku ingin menjengukku ketika aku sakit. Hari itu jalanan sedang berkabut. Aku sedang iseng berjalan ke teras rumah, sekedar berusaha mendinginkan panas tubuhku dengan hawa dingin pegunungan, saat ku lihat ada sesosok tubuh yang berjalan mendekati rumahku di tengah kabut, yang ternyata itu adalah wali kelasku. Ku lihat tubuhnya menggigil kedinginan, wajahnya pucat, dan bibirnya bergetar menahan hawa dingin. Satu hal yang masih ku ingat sampai detik ini, kata-kata yang ia ucapkan begitu sampai di depan rumahku, “Ternyata rumahmu jauh sekali, Nak”.
Saat itu aku belum menyadari, bahwa jutaan rentetan kejadian sudah mengantri untuk ku alami satu persatu. Tapi satu hal yang pasti, kisah ini baru saja dimulai...
Di kota mungil inilah, semua kisah dalam hidupku berawal. Kalau ku coba mengingat semua masa laluku, hampir semua ingatan itu berkaitan dengan kota mungil ini. Hanya satu atau dua ingatan saja yang sanggup mengingatkanku pada kota kelahiranku, dan itu pun hanya pemikiran selewat. Kau tidak akan pernah menduga kisah apa saja yang sudah tercipta di kota ini..
Tentang bagaimana sekolah baru dimulai pukul 8 pagi dan kau bisa bebas bermain sesukamu pada pukul 10 pagi karena sekolah telah usai...
Tentang bagaimana rasanya berenang dalam kondisi setengah bugil dengan teman sebayamu di kebun selada bokor milik tetangga yang bahkan namanya saja tak kau ketahui...
Tentang bagaimana horornya kamar mandimu ketika semua orang dapat melihat ‘sesuatu’ sedang kau tak bisa melihat apapun...
Tentang bagaimana kau masuk dengan tenangnya ke dalam rumahmu seusai shalat di Hari Raya padahal satu menit yang lalu rumahmu baru saja ‘dikunjungi’ oleh pencuri..
Tentang bagaimana paniknya dirimu sambil memegang pisau dapur di tengah malam ketika rumahmu baru saja dikepung oleh beberapa pencuri yang mengacungkan celurit ke wajah ayahmu...
Tentang bagaimana akhirnya keluargamu memutuskan untuk pindah ke kota setelah apa yang terjadi di malam itu...
Tentang bagaimana kau mengalami ospek pertamamu di SMP...
Tentang bagaimana kau bertemu dengan cinta pertamamu...
Tentang bagaimana kau terkena cacar air tepat 2 minggu sebelum ujian akhir nasional...
Tentang bagaimana kau bertemu dengan teman barumu dengan segala keunikannya di SMA...
Tentang bagaimana kau melewati berbagai cerita bersama para ksatria pelangi selama tiga tahun...
Tentang bagaimana bahagianya dirimu dan teman-temanmu saat akhirnya kau bisa mengusung piala kelas pertamamu di depan hidung musuh bebuyutanmu...
Tentang bagaimana kau membuat film pertamamu yang mengharuskanmu untuk di-make up!!
Tentang bagaimana kau habiskan setiap harimu, duduk berjam-jam di sebuah tempat di sudut kota, dimana kau bisa membaca sepuas yang kau mau...
Tentang bagaimana kau menikmati minggu pagimu dengan berlari mengitari kompleks perumahan gurumu bersama sahabatmu...
Tentang bagaimana kau bercanda dan tertawa bersama disela-sela usahamu untuk menirukan gaya instruktur senam yang ada di hadapanmu...
Tentang bagaimana kau berbohong di suatu hari di bulan suci hanya karena kau tak ingin proyek menulis rahasiamu diketahui teman sekelasmu...
Tentang bagaimana semua kisah ini menjadi sebuah magnet yang sanggup menarik hatimu untuk terus merindukkan kota mungil ini...
Dan kini, aku terduduk di kamarku – lebih tepat kamar ibuku – termenung memikirkan bahwa hari Minggu akan segera datang, yang artinya semakin cepat aku harus meninggalkan kota ajaib ini. Entah apa yang merasuki kepalaku, tapi kali ini aku benar-benar berpikir bahwa cianjur seribu kali lipat jauh lebih indah bila dibandingkan dengan kota Bandung yang dulu selalu ku idam-idamkan. Aku juga tak pernah menyadari, bahwa dibalik segala keterbatasan yang ada di kota kecil ini, tersimpan sejuta pesona yang sanggup membuatku terus berpikir untuk kembali ke kota ini. Berharap di suatu hari nanti, aku akan kembali mengatakan dengan gembira pada ibuku, “Ma, ade pulang besok!”
Cianjur, 23 April 2011
@my mom's room