Sunday, December 11, 2011

Hunted

Deru nafas memburu. Jantungku berdetak bagai berlomba dengan sang waktu. Ku terobos ranting dan dahan kering yang menyayat kulitku tiap kali aku berlari melewatinya. Peluh dan keringat kini tak menjadi soal. Semua tak lagi berarti ketika kini nyawamu yang jadi taruhannya. Nafas yang kini mulai berat tak menghalangiku untuk berlari. Kini, yang ku tahu hanya berlari dan berlari, tak peduli harus kemana.

Dorr!!

Bunyi itu kembali terdengar. Ini sudah kali ketiga semenjak bunyi itu mulai menghantuiku di siang bolong seperti ini. Jantungku serasa berhenti berdetak. Untuk sedetik aku menolehkan kepalaku ke belakang, mencoba mencari tahu siapa yang telah membuat kekacauan di tengah hari bolong seperti ini. Terdengar suara erangan dari kejauhan, disusul dengan derap langkah kaki yang kini kian mendekat. Dengan pandangan nanar aku meludahi sang penebar kebencian dari kejauhan. Beharap ia tahu betapa bejat apa yang telah diperlakukannya ini pada kami.

Dorr!!

Suara mistis yang sanggup membuat bulu kudukku berdiri itu kembali terdengar. Kali ini ku langkahkan kakiku lebih cepat, tanpa memperdulikan pasokan oksigen yang makin lama makin tak bersisa di dalam paru-paruku. Oh tidak, aku sudah tak kuat lagi. Mataku kini mulai berkunang-kunang. Dadaku terasa terhimpit. Nafasku yang terengah-engah kini terdengar lebih buruk daripada ringkikan keledai yang tengah menderita asma. Jantungku seolah akan memburu keluar. Aku sudah tidak tahan lagi. Tuhan..apakah ini akhirnya? Akhir dari segalanya?

Tepat sebelum aku berhenti, aku melihatnya. Ya, disana. Tepat disana, sebuah moncong metalik yang tak asing lagi di mataku mengarah padanya. Pada ayahku. Panik, aku berusaha untu berpikir jernih. Sial, otakku buntu! Seulas senyum mengerikan kini tergambar jelas di wajahnya.

Tidak
Ku mohon
Tuhan

Ayaahhhh!!!!!!

Dorr!!
Sesuatu mengalir deras keluar dari kakiku. Darah. Rasanya hangat, juga perih. Tak terperi. Ku pejamkan mataku yang kini mulai berkunang-kunang. Suara tawa diiringi dengan seringai berderai dari kejauhan. Pandanganku mulai buram. Ku lihat ayahku berlari kecil menghampiriku.

Larilah Ayah! Lari!! Jangan kemari, mereka bisa menangkapmu..

Dorr!!!

Timah panas kini tepat bersarang di perutku, menggagalkan usahaku untuk bangkit dan menyusul yang lain. Ku lihat ayahku berhenti berlari, ragu untuk menghampiriku atau segera menyusul yang lain untuk angkat kaki dari tempat itu. 

Larilah ayah! Jangan kemari! Bawa pergi yang lain dari sini. Selamatkan ibu! Selamatkan kawanan yang lain!!

Dengan seluruh  kesadaran yang tersisa aku mengerang, menyuruh semua kawanan segera pergi dari sini. Sial, mataku pandanganku sudah benar-benar buram kali ini. Ku dengar langkah kaki yang berat perlahan mendatangiku. Ya, ku rasa inilah saatnya. Saat dimana semua akan berakhir begitu saja.

"Lihat, kita dapat tangkapan yang bagus."samar-samar ku dengar suara pria separuh baya yang berada di dekatku.

"Tapi ini hanyalah zebra yang masih kecil. Beratnya mungkin tak sampai 80 kilogram."kata pria berjanggut lebat di sebelahnya sambil menusuk-nusuk punggungku dengan senapan yang dibawanya. Gawat kesadaranku sudah mulai menghilang.

"Yah, setidaknya kulitnya cukup bagus. Lihat, sama sekali tak ada cacat. Harganya pasti bagus kalau dijual di pasaran."

"Ya, kau benar. Padahal aku yakin tadi tembakanku pasti mengenai zebra yang besar, siapa sangka zebra kecil ini akan lewat dan menghalangi tembakanku. Tapi sudahlah, hari juga sudah semakin sore. Lebih baik kita pulang dan bawa zebra ini untuk kita kuliti. Ayo cepat."

Sayup-sayup ku dengar ringkikan kawananku dari kejauhan, mengumandangkan duka diantara rintihan yang ku alunkan. Bumi dan seisinya memang diciptakan untuk manusia. Tapi tidakkah kami juga memiliki hak untuk hidup dan merasa aman di atas bumi yang diciptakan Tuhan ini? Seandainya manusia tak hanya bertoleransi pada sesamanya. Seandainya manusia mau mengerti dan bertoleransi pada setiap makhluk-Nya...
**

dedicated to hunters who keep killing and killing without thinking bad impact that might be happen in the future. Stop killing please.. :(
Share:

Sunday, November 20, 2011

Setitik asa

Aku tidak pernah menyadari betapa hubungan pertemanan bisa menjadi serumit ini...

Ya, kini aku mulai menyadarinya. Fakta dan kenyataan yang terpapar gamblang di depan mataku seakan menyeretku dengan paksa keluar dari dunia putih abu yang selalu ku tinggali dengan nyaman. Membuatku seakan mendapat tamparan keras tepat di pipiku, memaksaku untuk membuka mata bahwa tak semua hal dapat kau atur sesuai dengan apa yang kau mau. Bahwa banyak hal diluar sana yang kadang tak bisa kau jangkau dengan logikamu yang sederhana. Hubungan antarmanusia. Hubungan antarhati.

"Kau masih memikirkannya?"tanyanya seolah membuyarkan semua lamunanku. Aku menatap wajahnya sekilas. Andre rupanya. Aku mengangguk kecil.

"Ku kira semua akan berjalan dengan baik pada akhirnya. Nyatanya apa? Hanya sampah yang ada."kataku sambil tersenyum kecut.

"Hidup tidak akan semenarik itu jika semua hal bisa kau prediksi. Hidup tidak akan menjadi semenarik itu jika semua hal bisa kau atur sesukamu. Itulah hidup. Penuh warna. Penuh corak. Penuh masalah."katanya sambil nyengir. Ku lihat kini gumpalan asap mulai berlomba keluar dari mulutnya.

"Hentikan. Kau tahu aku tak pernah suka asap rokok."

"Tapi aku suka.."katanya sambil mengepulkan asap kelabu itu tepat di depan wajahku. Aku terbatuk kecil. Aku menatapnya gusar, berharap ia menyadari bahwa kali ini aku benar-benar tidak suka apa yang dilakukannya. Ia hanya membalasku dengan senyuman nakal penuh kemenangan. Melihat kelakuannya aku segera bangkit dari tempat dudukku. Berada di dekatnya malah membuat semua moodku menjadi semakin buruk.

"Apa yang terjadi diantara kalian, itu semua bukan salahmu..."

Aku berhenti sejenak, agak ragu untuk melangkahkan kakiku untuk menjauh darinya setelah apa yang baru saja ia katakan. Pandangannya tetap lurus ke depan, menerawang. Tanpa sedikitpun berusaha untuk menoleh ke arahku.

"Jangan ikut campur. Kau bahkan tak tahu apapun."

"Hentikan sikap mellow-dramatismu itu. Semua bukan salah-"

"MAKANYA SUDAH KU BILANG JANGAN IKUT CAMPUR!! Jangan sok bahwa kau mengetahui segalanya. KAU TAK TAHU APAPUN!!"kataku setengah menjerit.

"Kenapa kau selalu merasa bahwa ini semua salahmu? Tidakkah kau merasa lelah?"

"Ya, YA! INI SEMUA SALAHKU. INI SEMUA MEMANG SALAHKU!!"ujarku padanya, kali ini diiringi dengan isakan dan rasa sesak yang serasa menghimpit dadaku, "Seandainya saja aku tak pernah mengenalnya. Seandainya saja aku tak ikut campur dan berusaha untuk masuk ke dunianya-dunia mereka! Seandainya saja rasa ingin tahuku tak sebegitu besar hingga aku ingin mengenalnya lebih dekat. Seandainya saja aku tak sebegitu bodoh hingga melewati batas yang seharusnya tak ku lewati. Seandainya saja..."

"Melewati batas katamu?"kali ini ia menatapku, bingung.

"Ya,"

"Aku tak mengerti, apakah menurutmu mendapat teman baru itu melewati batas? Apa salahnya dari memiliki hasrat untuk mendapat teman baru?"

"Bukan seperti itu maksudku..."

"Lalu apa? Jelaskan padaku definisimu tentang 'melewati batas' seperti yang kau katakan padaku tadi."

"Aku.."kata-kataku terputus. Lidahku kelu, otakku macet. Aku merasa semua neuron di syaraf otakku berlalu lalang sedemikian cepat hingga rasanya aku tak bisa memikirkan apapun. Semua begitu bising. Bergerak begitu cepat. Hingga tak satu katapun dapat ku ucapkan untuk menjelaskan semuanya.

"Aku tidak tahu."kataku pada akhirnya, "Semua terasa begitu kacau. Semua terasa begitu menghimpit. Sesak rasanya."lanjutku lemah. Ku hempaskan tubuhku kembali duduk tepat disebelahnya, pasrah. Aroma tembakau yang acap kali selalu menggangguku kini tak berefek sama sekali padaku. Kepalaku terlalu sakit untuk menghiraukannya.

"Aku merasa belum cukup dewasa untuk menangani masalah serumit ini. Aku hanyalah seorang bocah. Aku benar-benar merasa hilang arah. Tidakkah Tuhan merasa semua ini terlalu berat untuk ku jalani?

Kini semua tidak sama lagi. Semuanya. Sikapnya padaku, sikapku padanya, begitu pula sikapku padanya. Semua tak lagi sama. Semua hanya membuatku menderita.

Tiap kali aku melihat matanya, aku melihat sebuah luka yang cukup dalam. Sebuah luka yang tak terperi yang ku torehkan tepat di hatinya. Membuatnya tak sanggup lagi memalingkan mukanya ke arahku, atau sekedar menatap wajahku. Kami yang dulu dekat kini seakan dipisahkan oleh sebuah dinding tak terlihat, membuatku merasa sendiri. Begitu sepi. Rasanya..aku ingin mati.

Sedang ia, sekalipun sudah ku sakiti, ia sama sekali tidak berubah. Tetap ramah, tetap bijak, seolah aku tak pernah membuatnya merasa dicampakkan. Dibuang. Semua sikapnya membuatku merasa begitu bersalah. Begitu berdosa. Akan lebih baik jika ia tak berbuat begitu baik padaku. Semua akan terasa seratus kali lipat lebih baik jika ia memaki atau menunjukkan pandangan jijiknya padaku. Tapi apa? Semua sikapnya, membuatku merasa hancur.

Aku hanyalah manusia biasa. Usiaku masih seumur jagung. Tak banyak pengalaman yang ku miliki. Aku belum bisa menjadi orang bijak yang sanggup mencari jalan keluar yang terbaik untuk semuanya. Semua pihak. Aku kesal, aku marah, aku jijik pada diriku yang membuatku masuk ke dalam masalah yang begitu besar. Aku murka karena aku yang menyebabkan masalah ini, tapi aku sama sekali tak bisa mencari jalan keluarnya. Aku muak!"

Andre hanya terdiam. Sesekali ia menghembuskan gumpalan asap kelabu dari mulutnya. Matanya menerawang, berusaha memahami apa yang baru saja ku katakan.

"Semua sudah terjadi, kau tak bisa terus menyesalinya."katanya pada akhirnya.

"Semua terasa begitu berat, Ndre."ujarku pasrah.

"Kau bisa menjalaninya. Tuhan tidak pernah membebani masalah yang tak sanggup dipikul hambanya. Percayalah."

Ku tatap wajahnya. Kali ini ia menatapku, sendu.

"Aku tahu, aku tahu itu,"kataku padanya, "Hanya saja, terkadang...aku merindukan saat-saat dulu. Waktu disaat semua masih tetap sama. Waktu dimana semua masih baik-baik saja."

***
Share:

Tuesday, September 20, 2011

ketika matahari dan hujan bercinta

Gerimis mulai turun ke bumi. Butiran air hujan kini tengah asyik-asyiknya bercengkrama dengan sang tanah. Aku melirik sekilas ke arah jendela kamarku. Aku termenung untuk sesaat, mencoba mengingat kembali semua kenangan masa lalu yang tersimpan dalam memori otakku. Aku tak pernah menyangka aku bisa begitu menantikan hujan seperti ini. Aku bukanlah pecinta hujan sepertimu. Ya, ini semua karenamu. Dan ini semua berawal dari pertanyaanmu itu.

**

Hujan turun tanpa bisa ku duga. Sial, aku lupa membawa payung hari ini. Padahal ramalan cuaca tadi pagi mengatakan bahwa hari ini hujan tak akan turun. Haaahhhh, ternyata yang dikatakan orang memang benar. Bumi sudah tidak bisa diprediksi lagi sekarang ini. Sampai kapan kau akan menghancurkan bumi ini, hai umat manusia?

Aku berlari kecil sambil mengangkat tas di atas kepalaku, berusaha menghindar dari butiran-butiran air hujan yang siap menyerang ubun-ubun kepalaku. Hari sudah semakin gelap. Tak banyak orang lagi disini. Segera ku cari tempat terdekat yang bisa ku jadikan tempat berteduh. Ya, aku melihatnya. Ada pos satpam Mang Ujo disana. Segera ku percepat langkahku, berharap aku bisa sampai kesana lebih cepat agar badanku tak bertambah kuyup.

Rupanya Mang Ujo sedang tidak tugas jaga disana. Aku tak melihatnya duduk sambil minum kopi hitam seperti kebiasaannya itu di pos satpamnya. Yang kulihat hanyalah seorang pelajar SMA, sepertiku, yang sepertinya juga sedang berteduh, menanti hujan reda. Ku kibaskan rok dan kemejaku, kemudian mengambil tempat duduk tak jauh dari tempat lelaki itu duduk. Aku meliriknya sekilas. Ia tersenyum padaku. Hanya ada kami berdua disini.

“Kau berteduh juga ya?”tanya lelaki itu.

Menurutmu apa? Tidakkah kau lihat betapa kuyupnya badanku ini?, ujarku dalam hati

“Ya.”jawabku pendek.

Keheningan mulai menyeruak diantara kami berdua. Aku terdiam. Dia pun tak berbicara apapun. Cuaca semakin dingin. Ku peluk erat tas gendongku, berharap tasku yang mulai membeku itupun bisa memberikan sedikit kehangatan padaku.

“Ketika matahari dan hujan bercinta, menurutmu apa yang akan terjadi?”tanyanya memecah keheningan yang ada.

“Eh? Kau bertanya padaku?”

“Tentu saja, hanya ada kita berdua disini.”katanya sambil tertawa kecil, “Kecuali, kau merasa atau melihat ada seseorang selain kita disini.”

“Hey, itu tidak lucu! Sekolah sudah mulai sepi dan hari semakin gelap. Jangan bicara sembarangan!”kataku ketus.

“Hahaha, baiklah,”katanya. Senyumnya makin melebar saat melihat ekpresiku, “tadi aku hanya bercanda.”

“Jadi..bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”tanyaku.

“Bagaimana menurutmu tentang pertanyaanku tadi.”

“Pertanyaan yang mana?”

“Ketika matahari dan hujan bercinta, menurutmu apa yang akan terjadi?”

Aku terdiam sejenak. Mencoba merenungkan jawaban yang tepat untuk pertanyaannya.

“Entahlah. Mungkin pelangi.”

Ia tersenyum begitu mendengar jawabanku.

“Kau benar, ketika matahari dan langit bercinta, maka akan lahir sebuah pelangi. Pelangi yang sangat cantik.”

“Apa kau suka hujan?”tanyanya lagi untuk kesekian kalinya.

“Hm.. tidak begitu.”jawabku.

“Kenapa?”

“Hujan membuat sepatuku basah...dan bau.”jawabku sambil melirik sepatuku yang kini basah diguyur air hujan. Ia tertawa renyah.

“Kau tau.. kau orang yang menarik.”katanya disela tawanya. 

Begitu melihat tawanya, pada detik itu pula aku tau, hormon serotonin mulai menguasaiku sekarang.


**

Sejak saat itu kami memang sering bertemu. Entah itu saat jam istirahat atau hanya sekedar berpapasan saat kami melewati koridor sekolah. Yang jelas, kami tak penah bicara sepatah katapun saat itu. Saat pandangan mata kami bertemu, kami hanya saling bertukar senyuman, setelah itu sudah. Tak ada apapun lagi yang terjadi. Entah karena alasan apa, aku sendiri juga tidak tau. Yang jelas, tidak pernah ada komunikasi yang tercipta saat itu. Seakan-akan tatapan mata kami saja sudah cukup untuk merangkum semua percakapan yang akan kami ucapkan. Karena itulah aku menanti datangnya hujan. Aku tidak tau sejak kapan, tapi satu hal yang aku ketahui dengan pasti. Saat hujan datang, kau akan ada disana, menungguku datang dan berteduh bersama. Berbicara tentang apapun yang kita suka sampai hujan reda.

“Tidakkah kau merasa semua ini aneh?”tanyanya ketika kami sedang duduk di depan pos satpam seperti biasanya.

“Aneh bagaimana?”tanyaku sambil mengerutkan dahi, tanda tak mengerti.

“Kau bilang kau tidak begitu suka hujan, kan? Tapi kenapa kau tidak pernah membawa payung ke sekolah?”

Degg!! Aku tersentak mendengar pertanyaan darinya. Apa mungkin ia mulai curiga?

“Mm...bukankah sudah ku bilang aku lupa membawanya? Ku rasa tertinggal di tas sebelumnya. Lihat, aku ganti tas hari ini.”kataku berbohong.

“Hm.. masuk akal.”katanya sambil menganggukkan kepalanya. Aku menghembuskan nafas lega.

“Hey, dulu saat pertama kali kita bertemu, kau pernah bertanya padaku. Kau ingat?”

“Hm... ya aku ingat. Memangnya kenapa?”

“Sekarang aku ingin menanyakan hal yang sama padamu. Aku ingin tahu, menurutmu apa yang akan terjadi ketika matahari dan hujan bercinta?”

Ia tersenyum lembut.

“Aku akan senang sekali.”

“Kenapa? Apa karena kau suka hujan?”

“Itu memang salah satu alasannya. Tapi bukan alasan utama.”

“Lalu, apa alasan utamanya?”tanyaku penasaran.

“Ketika matahari dan hujan bercinta, aku akan senang sekali. Karena aku tau, kau akan datang kesini berteduh bersamaku, seperti saat ini.”

Mendengar jawabannya, aku tak bisa menahan senyumku. Ku lihat ia juga tersenyum lebar ke arahku. Aku tak pernah mengira, betapa hujan bisa begitu indah seperti ini!

**

Gerimis kini telah berganti hujan. Kejadian itu memang sudah 4 tahun berlalu. Tapi entah kenapa, kebiasaanku untuk menunggumu di kala hujan tidak bisa ku hilangkan begitu saja. Semenjak kepergianmu untuk mendalami dunia fotografi, kita memang tidak pernah saling bertemu lagi. Kita mungkin memang sering bertukar email, tapi itu hanya untuk sekedar menanyakan kabar satu sama lain. Terakhir kau bilang padaku 3 bulan lalu, kau ada di Tokyo. Entah kapan kau akan pulang, tapi harus ku akui, aku mulai merindukanmu.

Aku meraih jaketku, bersiap-siap untuk berjalan mengelilingi kompleks di sekitar rumah di bawah guyuran hujan kesukaanmu. Tapi tak lama, laptopku berbunyi, menandakan ada email masuk. Dan itu darimu!
From : Galih (galih1990@gmail.com)


Datanglah ke depan pos satpam Mang Ujo, akan ku perlihatkan padamu suasana hujan di setiapnegara yang ku kunjungi lewat lensa kameraku. Aku akan menunggu.
Sebuah senyum simpul mengembang di wajahku. Tanpa pikir panjang aku segera berlari, menerobos derasnya hujan yang mengguyur. Berlari ke tempatmu. Secepat yang aku bisa.
Share:

Saturday, July 9, 2011

Saturday, May 21, 2011

hidup!

Ada kalanya hati tak lagi bisa dikendalikan diri

Ada kalanya kau tak bisa berkutik dibawah kuasa sang serotonin

Ada kalanya kau harus menerima semua perasaan tak nyaman yang bergolak dalam hatimu


Hey, tidakkah kau merasa hidup hanyalah sebuah permainan?

Dimana Tuhanmu senang mempermainkan hatimu hingga sebegitu rupa

Membawamu jauh membumbung tinggi hingga akhirnya kau jatuh tersungkur tanpa daya

Membuatmu merasa senang tiada terkira hingga sakit yang menjalari dada


Hey, tidakkah kau merasa hidup hanyalah sebuah omong kosong belaka?

Dimana kau merajut semua mimpi dan cerita

Berusaha sekuat tenaga membangun semua yang tiada menjadi ada

Tapi semua selalu berbalik pada sebuah takdir yang begitu nyata


Hidup hanyalah senda gurau belaka

Tak ada yang istimewa

Hanya saja

Aku tetap suka

Share: